METRO PADANG

“Rasyid, Zafran, Pulanglah…” Doa Bersama Siswa SDN 06 Kampung Lapai Warnai Hari ke-5 Pencarian di Pantai Ujung Karang

×

“Rasyid, Zafran, Pulanglah…” Doa Bersama Siswa SDN 06 Kampung Lapai Warnai Hari ke-5 Pencarian di Pantai Ujung Karang

Sebarkan artikel ini
DOA BERSAMA DI PANTAI— Keluarga besar SDN 06 Kampung Lapai, terutama teman satu kelas Rasyid dan Zafran, mendatangi lokasi titik pertama kedua korban hilang terseret arus di Pantai Ujung Karang, Kecamatan Padang Utara, Rabu (22/4/2026) siang. Kehadiran mereka untuk menjemput harapan bagi dua sahabat mereka agar bisa segera ditemukan tim gabungan SAR.

PADANG, METRODeburan ombak di Pantai Ujung Karang, di belakang kampus Universitas Bung Hatta (UBH), Kecamatan Padang Utara, terasa lebih memilukan pada Rabu (22/4/2026) siang. Di bawah langit terik, puluhan pasang mata kecil siswa kelas 2 dan 3 SDN 06 Kampung Lapai menatap nanar ke arah cakrawala. Tidak ada tawa khas anak-anak; yang terdengar hanyalah lantunan doa yang beradu dengan suara ombak Samudra Hindia.

Kehadiran mereka bu­kan untuk berwisata, me­lainkan untuk menjemput harapan bagi dua sahabat mereka, Rasyid (8), siswa kelas 2A dan Zafran (9), siswa kelas 3B yang hilang terseret arus sejak Sabtu (18/4/2026) lalu.

Rabu ini menandai hari kelima pencarian. Ritual doa bersama di pinggir pantai menjadi puncak kesedihan. Di barisan depan, orang tua kedua korban duduk bersimpuh, tak kuasa menahan isak tangis setiap kali nama buah hati mereka disebut dalam untaian doa. Suasana kian menyayat hati saat teman-teman sekelas korban ikut tertunduk, menyeka air mata menggunakan ujung seragam sekolah yang mulai basah oleh keringat dan air mata.

Kepala SDN 06 Kampung Lapai, Abdullah Gin­ting, berdiri tegar meski matanya berkaca-kaca. Ia menegaskan bahwa kunjungan ini adalah bentuk dukungan moril bagi keluarga.

“Kehilangan ini sangat memukul kami. Rasyid dan Zafran adalah bagian dari keluarga besar kami. Melalui doa bersama di sekolah pada Selasa (21/4) lalu, dan kunjungan ke lokasi hari ini, kami ingin menguatkan orang tua mereka. Kami tidak akan berhenti berharap agar anak-anak kami segera ditemukan dalam kondisi apa pun,” tegasnya, dengan suara bergetar.

Baca Juga  Gagalkan Tawuran Remaja di Pauh, 7 Sajam dan 2 Motor Disita

Kenangan “Pahlawan Makan Siang MBG” di Sekolah

Luka mendalam dirasakan oleh Sisri Marna, wali kelas 2A SDN 06 Kampung Lapai. Baginya, Rasyid bukan sekadar murid, melainkan cahaya kecil yang selalu menghidupkan suasana kelas dengan senyum­nya yang ceria.

“Setiap pagi Rasyid selalu menyapa saya dengan semangat. Sekarang, rasanya sangat berat melihat bangkunya kosong,” tutur guru yang akrab disapa Buk Cici itu sambil merangkul siswanya yang sesenggukan.

Satu kenangan yang paling membekas adalah kemandirian Rasyid. Buk Cici menceritakan betapa ringannya tangan bocah itu setiap kali mobil katering Makan Bergizi Gratis (MBG) tiba di sekolah. Tanpa diminta, Rasyid selalu menjadi yang pertama berlari keluar kelas untuk membantu mengangkat omprengan makanan untuk teman-temannya.

“Dia anak yang sangat baik. Setiap hari dia membantu saya mengangkut makanan MBG. Kehilangan ini sangat terasa di kelas kami,” tambahnya lirih.

“Sekarang, melihat mobil itu datang tanpa ada Rasyid yang menyambutnya, hati kami hancur,” kenang Buk Cici.

Berpacu dengan Arus dan Karang

Di sisi lain, operasi kemanusiaan terus diperketat. Memasuki hari kelima, Tim SAR Gabungan tidak hanya mengandalkan penyisiran permukaan. Komandan Tim Lapangan Basarnas Padang, Tri Desyu Herman, mengungkapkan bahwa strategi pencarian kini lebih kompleks.

Baca Juga  Jelang Penutupan Tahun Anggaran, Gubernur Instruksikan OPD Percepat Realisasi Proyek DAK

“Kami mengerahkan 72 personel gabungan. Radius pencarian kini mencapai 5 mil laut (sekitar 9 kilometer) hingga ke perairan Ulak Karang,” jelas Tri. Namun, ia mengakui kendala di lapangan tidaklah mudah. “Dasar laut di titik kejadian adalah kawasan berkarang. Ada kemungkinan korban tersangkut di celah karang atau terbawa arus bawah laut yang bergerak ke arah utara. Tim penyelam pun harus ekstra hati-hati karena visibilitas dan arus yang tidak menentu.”

Selain perahu karet (LCR), tim juga membagi sektor pencarian menjadi empat titik pantau, termasuk penggunaan drone untuk memantau area yang sulit dijangkau oleh kapal besar.

Harapan yang Belum Padam

Hingga operasional harian ditutup pada pukul 18.00 WIB, tanda-tanda keberadaan kedua korban belum juga ditemukan. Namun, bagi keluarga besar SDN 06 Kampung Lapai, harapan adalah satu-satunya yang mereka miliki.

“Kami tidak akan berhenti. Jika laut belum memberi jawaban, kami akan terus mengetuk pintu langit melalui doa,” kata Ummi Suhaimi, Guru PAI sekolah tersebut.

“Allah Maha Penolong. Kami berdoa agar Tim SAR dan nelayan yang tidak kenal lelah sejak hari pertama diberikan kemudahan untuk menemukan mereka,” harapnya.

Senja berganti malam mulai turun di Pantai Ujung Karang, namun doa-doa tulus dari mereka yang mencintai Rasyid dan Zafran, membawa pesan se­derhana namun mendalam: Cepat pulang, Rasyid dan Zafran. (ren)