Bengkalis – Upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir di Kabupaten Bengkalis kian mendapat perhatian di tengah meningkatnya risiko abrasi dan tekanan perubahan lingkungan. Di wilayah ini, hutan mangrove tidak lagi dipandang sekadar benteng alami pantai, melainkan juga sumber penghidupan baru yang tumbuh melalui pendekatan konservasi berbasis masyarakat.
Momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup menjadi pengingat penting bahwa pelestarian ekosistem tidak dapat berjalan sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi lintas pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah desa, hingga dukungan dunia usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Dalam konteks ini, PT PLN (Persero) PLN UIP Sumbagteng melalui program PLN Peduli TJSL turut memperkuat pengembangan ekowisata dan konservasi mangrove di Desa Kelapapati, Kecamatan Bengkalis.
Salah satu titik penggerak program ini adalah Kelompok Konservasi Mangrove Paghet Seghagah yang telah berdiri sejak 2012. Kelompok ini mengelola kawasan konservasi seluas kurang lebih 14 hektare dengan anggota aktif sebanyak 21 orang. Dalam kesehariannya, mereka menjalankan kegiatan penanaman bibit, pemeliharaan, hingga pengawasan kawasan agar ekosistem mangrove tetap terjaga dari kerusakan.
Dalam pelaksanaannya, dukungan TJSL PLN Peduli UIP Sumbagteng tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat. Program yang dijalankan mencakup sosialisasi dan pelatihan pengelolaan mangrove, pengembangan sistem bank mangrove sebagai mekanisme konservasi berbasis insentif, kegiatan penanaman dan rehabilitasi kawasan, penguatan organisasi pengelola, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung eco-eduwisata mangrove.
Ketua Kelompok Konservasi Mangrove Paghet Seghagah, Rio Sempana, menyebut bahwa mangrove di Desa Kelapapati memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar vegetasi pesisir. Menurutnya, kawasan tersebut telah menjadi bagian dari identitas baru desa yang perlahan bertransformasi dari wilayah berbasis kelapa menuju kawasan konservasi dan ekowisata.
Menurutnya, pengembangan kawasan ini tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis wisata alam dan edukasi lingkungan bagi masyarakat setempat. Meski demikian, ia juga menyoroti perlunya penguatan infrastruktur dasar untuk mendukung aktivitas konservasi dan kunjungan wisata, termasuk peningkatan akses penerangan di sekitar kawasan.
Ia menambahkan bahwa dukungan dari berbagai pihak, termasuk melalui program TJSL PLN Peduli UIP Sumbagteng ini, menjadi dorongan penting bagi masyarakat untuk terus menjaga keberlanjutan kegiatan konservasi yang telah dirintis sejak lebih dari satu dekade lalu.
Sementara itu, Direktur Kelompok Advokasi Riau, Khaidir Air, yang turut mendampingi kegiatan, menekankan bahwa keberlangsungan program konservasi sangat bergantung pada konsistensi masyarakat dalam menjaga kawasan yang telah dipulihkan bersama. Ia menilai bahwa kelembagaan kelompok harus terus diperkuat agar tidak hanya berjalan secara kegiatan, tetapi juga memiliki daya tahan jangka panjang.
“Yang paling penting adalah komitmen menjaga apa yang sudah dibangun bersama. Kolaborasi antara masyarakat, pendamping, dan para pemangku kepentingan menjadi kunci agar program ini tidak berhenti di tengah jalan,” ujarnya.
Kepala Desa Kelapapati, Dasril, melihat bahwa keberadaan kawasan mangrove telah membawa perubahan citra desa secara bertahap. Kelapapati yang dahulu identik dengan hamparan kelapa, kini mulai dikenal sebagai salah satu titik pertumbuhan ekowisata mangrove di Bengkalis.
“Dulu wilayah ini dikenal dengan hamparan pohon kelapa. Kini kami berupaya mengembalikan keseimbangan alam melalui mangrove. Harapan kami, Desa Kelapapati dapat semakin dikenal sebagai kawasan mangrove yang lestari dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Rio.
Sementara itu, saat serah terima program ini pada jumat(19/06), Assistant Manager Komunikasi dan TJSL PLN UIP Sumbagteng, Muhammad Jamil, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung pembangunan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
“Melalui program TJSL PLN Peduli, kami berupaya memastikan bahwa keberadaan perusahaan tidak hanya menghadirkan manfaat dari sisi kelistrikan, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan yang nyata. Pengembangan ekowisata dan konservasi mangrove di Bengkalis ini menjadi contoh sinergi yang tumbuh dari masyarakat,” ujar Jamil.
Ia menambahkan, kelompok masyarakat seperti Paghet Seghagah menjadi mitra strategis dalam memastikan program TJSL berjalan berkelanjutan, tidak hanya sebagai kegiatan jangka pendek, tetapi sebagai bagian dari perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
Program ini juga selaras dengan agenda Sustainable Development Goals, khususnya SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, melalui upaya perlindungan ekosistem pesisir, rehabilitasi lingkungan, serta penguatan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
Ke depan, pengembangan ekowisata mangrove di Desa Kelapapati diharapkan tidak hanya menjadi proyek konservasi, tetapi juga model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang mampu mengintegrasikan pelestarian alam dengan peningkatan kesejahteraan warga secara berkelanjutan.(*)






