METRO SUMBAR

Pengamat: Dongkrak Perekonomian, Geothermal Minim Risiko

×

Pengamat: Dongkrak Perekonomian, Geothermal Minim Risiko

Sebarkan artikel ini
Harif Amali Rivai

PADANG, METRO–Ekonom dari Universitas Andalas, Harif Amali Rivai mengatakan, Su­ma­tra Barat memiliki potensi energi panas bumi yang besar. Harif menyebut berdasarkan data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), ada 19 titik panas bumi di Sumbar. Di mana total sumber daya energi panas bumi di 19 titik itu dapat menghasilkan 1.680 mega watt (MW). Dan yang baru berhasil dikelola kata dia baru di Muara Labuh, Kabupaten Solok Selatan.

Harif menyayangkan belum banyak energi pa­nas bumi di Sumbar yang belum tergarap. Padahal kata dia, energi panas bumi atau geothermal a­dalah alternatif energi bersih, minim resiko dan mampu mendongkrak pe­rekonomian daerah. “Tentang energi panas bumi ini kan alternatif energi terbarukan yang ramah ling­kungan. Geothermal ini minim resiko. Resikonya sangat kecil dan itu bisa dikendalikan,” kata Harif, Senin (6/11).

Mantan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas ini, mencontohkan keberhasilan pemanfaatan energi panas bumi di Solok Selatan yang dikelola oleh PT Supreme Energi Muara Labuh.

Sudah bertahun-tahun berjalan, menurut dia, eksplorasi energi panas bumi di Solsel tidak memberikan dampak buruk kepada ling­kungan dan juga memberikan dampak ekonomi yang besar buat kabupaten ter­sebut. Dalam satu tahun saja, ada kurang lebih Rp 70 miliar lebih Pendapatan Asli Daerah (PAD) masuk ke Solok Selatan.

Baca Juga  Polres Pesisir Selatan Gagalkan Peredaran Narkoba, Satu Tersangka Diamankan

Untuk daerah lain yang juga memiliki potensi energi panas bumi seperti di Gunung Talang, Kabupaten Solok, Harif mendorong supaya pemerintah daerah menyelesaikan persoalan sosial yang dapat menjadi penghalang investasi masuk.

Karena kata dia masih ada sebagian masyarakat yang belum paham manfaat masuknya investor dan perusahaan ke daerah mereka karena ketakutan akan digusur atau lahan mereka rusak. Harif me­nyebut investor akan sungkan masuk bila persoalan sosial di lapangan belum selesai. Sehingga ada potensi operasional perusahaan terhenti. “Di sinilah seharusnya peran peme­rintah daerah. Meyakinkan masyarakat bahwa Geothermal itu ramah lingkungan dan akan ada dampak ekonomi yang besar untuk daerah. Terutama  masya­rakat sekitar,” ujar Harif.

Dampak ekonomi untuk masyarakat yang sangat dirasakan menurut Harif adalah terserapnya tenaga kerja lokal. Kembali mencontohkan geothermal di Solok Selatan, Harif melihat investor lebih banyak menggunakan tenaga kerja lokal. “Dimulai dari masa konstruksi awal (EPC), tentunya akan butuh banyak sekali tenaga kerja yang menyerap masyarakat setempat untuk membantu pembangunan PLTP seusai dengan keterampilan ma­sing-masing. Dilanjutkan dengan adanya transfer teknologi melalui pendidikan kejuruan (SMK) bagi masyarakat yang ingin bekerja di tingkat yang le­bih tinggi yang memerlukan keterampilan teknis, ataupun pelatihan-pelatihan kewirausahaan agar masyarakat menjadi maju dan berkembang dengan dukungan dari perusahaan, ” terang Harif.

Baca Juga  Obrolan Ringan Bersama Kabag Humas Agam, tentang Dinamika Kehumasan

Di samping itu, salah satu aset yang akan dibangun untuk memperlancar pembangunan PLTP a­da­lah pembangunan jalan dari dan menuju ke lokasi PLTP.

“Pembangunan jalan ini tidak hanya untuk PLTP, tapi otomatis juga berguna bagi masyarakat luas. De­ngan ada terbukanya akses jalan yang baru, maka transportasi dari dan me­nuju ke desa-desa terdekat akan menjadi lancar. Hasil-hasil bumi yang diproduksi akan mudah didistribusikan dengan biaya yang lebih murah apabila transportasi menjadi lancar,” jelas Harif lebih lanjut.

Kemudian kata dia akan ada lagi dampak turunan kepada UMKM masya­ra­kat sekitar proyek geothermal tersebut, seperti pemanfaatan panas bumi untuk pengeringan produk holtikultura seperti kopi dan sejenisnya. Persoalan lain yang menghambat masuknya investor untuk geothermal ini lanjut Harif adalah adanya provokasi dari pihak luar untuk mencari keuntungan. Provokasi ini kata dia dilakukan dengan menghasut serta memberikan kabar buruk tentang geothermal. Se­hingga ada ketakutan bagi masyarakat geothermal akan merusak lingkungan yang selama ini dipakai untuk lahan pertanian.

“Pemda harus menjelaskan bahwa ketakutan seperti itu tidak punya da­sar. Contoh Solok Selatan, mereka bergerak sudah sesuai Amdal, semua o­perasional memenuhi standar. Lalu tenaga kerja lokal akan terserap,” ujar Harif. (rom)