SAWAHLUNTO, METRO–Penantian panjang masyarakat Silungkang akhirnya berbuah manis. Setelah melewati proses panjang, penuh dukungan dan gotong royong masyarakat, Surau Tepi Air Silungkang resmi berubah status menjadi Masjid Tepi Air Silungkang. Kepastian itu tertuang dalam Surat Keputusan Wali Kota Sawahlunto Nomor 100.3.3.3-213-2026 tentang perubahan status Surau Tepi Air menjadi Masjid Tepi Air Silungkang. SK tersebut telah ditandatangani langsung oleh Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra, S.IP. Bagi pengurus dan jamaah, perubahan status tersebut bukan sekadar pergantian nama. Ini merupakan puncak perjuangan panjang sekaligus jawaban atas harapan masyarakat Silungkang, khususnya jamaah Surau Tepi Air dan masyarakat kawasan Pasar/Balai Silungkang.
Ketua Pengurus Surau Tepi Air, Dasril Munir, MM, menyampaikan rasa syukur atas terbitnya SK tersebut. “Alhamdulillah, ini adalah harapan kita semua, terutama jamaah Surau Tepi Air dan masyarakat Pasar/Balai Silungkang. Dengan perubahan status ini, masyarakat semakin terbantu dalam melaksanakan ibadah, terutama salat Jumat,” ujar Dasril.
Ada cerita panjang di balik perubahan status tersebut. Semuanya berawal ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada pertengahan 2020. Pembatasan aktivitas masyarakat juga berdampak terhadap kegiatan ibadah. Melihat kondisi tersebut, pengurus Surau Tepi Air berinisiatif melaksanakan salat Jumat berjamaah serta salat Idulfitri dan Iduladha di surau tersebut. Seiring waktu, jumlah jamaah semakin meningkat. Setiap pelaksanaan salat Jumat maupun salat Id, jamaah yang hadir bahkan membludak. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan aspirasi masyarakat agar Surau Tepi Air tidak lagi hanya berstatus surau, tetapi ditetapkan sebagai masjid secara permanen. Pengurus mengajukan permohonan perubahan status kepada Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang saat itu diketuai oleh Yusri. Gayung bersambut. KAN memberikan izin dan mengeluarkan surat terkait perubahan status Surau Tepi Air menjadi Masjid Tepi Air. “Alhamdulillah, KAN memberikan izin dan mengeluarkan surat asli status untuk dinaikkan dari Surau Tepi Air menjadi Masjid Tepi Air,” ungkap Dasril.
Menariknya, kiprah pengurus Surau Tepi Air tidak berhenti pada pembangunan fisik dan kegiatan ibadah. Semangat untuk menjadikan tempat ibadah sebagai pusat pelayanan masyarakat juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial. Salah satunya adalah inisiatif pengadaan ambulans untuk masyarakat. Program tersebut digagas sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan sosial warga. Setiap Jumat, pengurus menyediakan kotak sumbangan khusus pengadaan ambulans yang diperuntukkan bagi jamaah dan masyarakat yang ingin berpartisipasi. Sedikit demi sedikit, dukungan terus mengalir. Warga kampung maupun masyarakat Silungkang yang berada di perantauan turut memberikan bantuan. Hingga akhirnya, perjuangan tersebut membuahkan hasil.
Kini, ambulans tersebut telah dikelola oleh Pemerintah Nagari Silungkang dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam kondisi darurat maupun pelayanan sosial kemasyarakatan. Kisah ambulans ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong jamaah tidak hanya berhenti di dalam masjid, tetapi juga hadir untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Di sisi pembangunan fisik, perkembangan Masjid Tepi Air juga terbilang pesat. Bidang pembangunan yang digawangi Tri Arno Domas (Tuk Tiah) dan Deviandari (Aan) terus melakukan berbagai pembenahan.
Salah satu pembangunan besar yang dilakukan adalah pembangunan tempat wudu permanen dengan biaya lebih dari Rp300 juta. Dana tersebut berasal dari iuran dan sumbangan masyarakat, baik yang berada di kampung maupun para perantau. Perbaikan lantai dua juga dilakukan melalui dukungan dana APBD Kota Sawahlunto yang merupakan aspirasi H. Afdal, yang ketika itu menjabat sebagai anggota DPRD Kota Sawahlunto. Pemasangan keramik lantai dan plafon juga dilakukan melalui proposal serta bantuan berbagai instansi dan pihak swasta.
Semua pembangunan tersebut merupakan hasil kolaborasi dan gotong royong berbagai pihak. Masjid yang hidup bukan hanya terlihat dari bangunannya, tetapi juga dari aktivitas di dalamnya. Bidang dakwah yang diketuai Hamdani terus menghidupkan kegiatan keagamaan dengan menghadirkan guru dan ustaz dari berbagai daerah. Sejumlah tokoh yang pernah hadir di antaranya Ustaz Ristawardi, Gus Nuril, hingga syekh dari Palestina.
Khusus untuk khutbah Jumat, pengurus juga secara rutin menghadirkan guru dan ustaz ternama, baik dari dalam daerah maupun dari kabupaten dan kota lainnya. Dengan demikian, fungsi tempat ibadah tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga menjadi ruang pembinaan umat dan penguatan dakwah. Setelah mendapat dukungan masyarakat dan KAN, pengurus kemudian mengajukan permohonan resmi kepada Pemerintah Kota Sawahlunto. Berbagai persyaratan dipenuhi, mulai dari kelengkapan dari Kementerian Agama, FKUB, dukungan masyarakat, tanda tangan jamaah dan warga, hingga pengumpulan KTP. Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra, S.IP., kemudian menandatangani SK Nomor 100.3.3.3-213-2026 tentang perubahan status Surau Tepi Air menjadi Masjid Tepi Air Silungkang.
Sah! Perjuangan panjang itu akhirnya resmi. Surau Tepi Air Silungkang kini telah menjadi Masjid Tepi Air Silungkang. Perubahan status ini menjadi babak baru bagi Masjid Tepi Air Silungkang. Dari tempat pelaksanaan ibadah, berkembang menjadi pusat dakwah dan kegiatan sosial masyarakat. Dari pembangunan tempat wudu, perbaikan bangunan dan fasilitas masjid, menghadirkan ustaz dan guru untuk kegiatan dakwah, hingga ikut menginisiasi pengadaan ambulans bagi masyarakat. Semua itu tidak lepas dari dukungan jamaah, masyarakat Silungkang, para perantau, tokoh masyarakat, pemerintah serta para donatur. Kini, masyarakat tinggal menunggu satu momentum lagi: peresmian Masjid Tepi Air Silungkang. Pengurus berencana melaksanakan acara peresmian dalam waktu dekat dan berharap Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra, S.IP. dapat hadir langsung dalam momentum bersejarah tersebut. Masjid Tepi Air Silungkang akhirnya berdiri bukan hanya karena bangunan yang kokoh, tetapi karena kekuatan gotong royong dan kepedulian masyarakat. Dari surau untuk ibadah, tumbuh menjadi masjid untuk umat. Dari jamaah, lahir kepedulian sosial untuk masyarakat.(pin)






