SOLOK/SOLSEL

Pemko Ajak Warga Buka Peluang Usaha, Edrizal: Budi Daya Belatung Peluang yang Cukup Besar

×

Pemko Ajak Warga Buka Peluang Usaha, Edrizal: Budi Daya Belatung Peluang yang Cukup Besar

Sebarkan artikel ini
RAPAT—Terlihat peserta pelatihan budidaya maggot yang digelar Pemko Solok.

SOLOK, METRO–Pemerintah Kota Solok mendorong masyarakat membuka peluang usaha. Budi daya maggot atau belatung dapat menjadi sumber ekonomi yang cukup besar peluangnya. Salah satu upaya mendorong masyatakat, Dinas Ling­kungan Hidup Kota Solok mengadakan sosialisasi budidaya maggot kepada masyarajat. Dalam kegiatan itu dihadirkan narasumber Yendrizal SP dan Ukma Elsa Dias selaku penggiat budidaya maggot.

Kepala Dinas Lingku­ngan Hidup Edrizal mengatakan bahwa maggot selain dapat dijadikan pakan ternak juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Budidaya maggot sebagai alternatif pupuk organik yang ramah lingkungan telah diakui sebagai sumber protein dan nutrisi yang berharga dalam bidang pertanian dan peternakan. “Maggot dapat dijadikan pakan ternak yang kaya nutrisi dan juga digunakan sebagai pupuk organik ber­kualitas tinggi untuk me­ningkatkan kesuburan ta­nah,” jelasnya.

Ukma yang juga penggiat budidaya maggot Ha­kunamatata menjelaskan, bahwa budi daya maggot bisa menjadi peluang bisnis bagi masyarakat. Kota-kota besar di Indonesia sudah menjadi daerah yang mengekspor magot. “Namun sangat disayangkan, sedangkan kita masih belum terlalu aktif dalam pembudidayaan maggot, padahal budi daya maggot ini secara umum bisa juga jadi peluang bisnis bagi masyarakat sekaligus mem­bantu penyelesaian persoalan sampah orga­nik,” jelas Ukma.

Baca Juga  Kepatuhan Pelayanan Publik, Disdik Solok Terima Penghargaan dari OmbudsmanRI

Dalam membudidayakan magot, Ukma menjelaskan bahwa maggot dewasa berfungsi untuk kawin dan bertelur. Karrna setelah kawin si jantan langsung mati, dan betina mati setelah 3 hari bertelur.

Bangkainya setelah di­teliti juga bermanfaat, da­lam artiannya ketika maggot umur 15 hari sampai 18 hari sudah menjadi sumber protein. Tapi ketika sudah lewat 20 hari, itu akan men­jadi pre-pupa yang akhir­nya nanti akan menjadi lalat. Sebagai media pe­ngem­bangan maggot, lanjutnya setiap tahunnya sampah bertambah sesuai pertumbuhan penduduk. Di Kota Solok, di tahun 2022 setara dengan 0,79 kg sampah perjiwa.  Mulai dari lahir hingga lansia, lebih kurang 21.920,56 ton pertahun.

Baca Juga  Hari Pahlawan di Kabupaten Sijunjung, Pendamping PKH dan Pemuda Pelopor Diapresiasi

Sementara yang terkelola baru lebih kurang 3.300 ton saja, sisanya di­buang ke sungai dan diba­kar, sehingga harus menginovasi paradigma lama ini menjadi kumpul, pilah, olah yang bisa dijual, baru buang sisanya. “Jadi budidaya maggot butuh peran serta dari masyarakat,’ kata Ukma. Di akhir materi Ukma menjelaskan bahwa  industri ini dapat membantu mengurangi jumlah limbah sampah pasar dan rumahan. Terlebih usaha ini juga mudah dilakukan di rumah secara mandiri. “Peralatan budidaya maggot dapat dilakukan de­ngan peralatan sederhana, hanya menggunakan bas­kom, drum dan sodokan,” jelasnya.  (vko)