SAWAHLUNTO, METRO–Diperkirakan seluas 93,86 hektare sawah di Sawahlunto rusak setelah dijadikan lahan pertambangan. Paling banyak sawah yang rusak di Kecamatan Barangin, 64,03 hektare. “Lahan sawah bekas penambangan itu sebagian besar rusak berat dan memprihatinkan,” ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Sawahlunto Heni Purwaningsih, Selasa (21/7).
Dikatakan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan, Heni Purwaningsih, rusak berat lahan sawah karena tekstur tanah sudah berpasir, berbatu, miskin unsur hara dan tingkat keasaman atau kebasaan tanah (PH) rendah.
Lebih jauh dikatakannya, dari 93,86 hektare yang rusak, terdiri 89,61 hektare sawah dan 4,25 hektare sawah lahan kering. Kalau dihitung secara persentase dari 1.551 hektare hamparan sawah di Sawahlunto, ada 5,7 persen yang rusak akibat penambangan.
Menurut Heni, lahan sawah yang rusak masih bisa direhabilitasi, difungsikan kembali menjadi lahan pertanian produktif. Namun, belum bisa ditanami padi dan butuh rentang waktu. Paling tidak, dimulai dengan tanaman lain, misalnya jagung.
Disebutkannya, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan akan membuat demontrasi plot (demplot) tanaman jagung pada lahan sawah bekas pertambangan di Desa Kolok Nan Tuo, Desa Rantih dan Desa Muarokalaban.
“Warga pemilik lahan kami imbau mengolah kembali lahan sawah yang pernah dijadikan pertambangan agar bisa ditanami. Kalau pun belum bisa ditanami padi, setidaknya masih produktif buat tanaman lain,” ujar Heni.(pin)






