METRO PESISIR

Gubernur Mahyeldi dan Menteri LH, Bahas Isu Strategis Terkait Pengelolaan LH

×

Gubernur Mahyeldi dan Menteri LH, Bahas Isu Strategis Terkait Pengelolaan LH

Sebarkan artikel ini
KUNJUNGAN KERJA MENTERI LH— Gubernur Mahyeldi bersama Menteri Lingkungan Hidup RI, Moh. Jumhur Hidayat, bicarakan soal isu strategis dan pengelolaan lingkungan hidup.

PDG. PARIAMAN, METRO–Gubernur Sumatera Ba­rat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menyambut kedatangan Menteri Ling­kungan Hidup RI, Moh. Jum­hur Hidayat, di Ruang VIP Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Senin (13/7).  Kunjungan kerja Menteri ke Sumbar akan berlangsung selama dua hari, dengan fokus agenda penguatan berbagai program strategis di bidang lingkungan hidup, mulai dari pengelolaan sampah terpadu, penanaman pohon, hingga pengembangan perdagangan karbon berbasis perhutanan sosial. Sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kehormatan yang datang ke Ranah Minang, Mahyeldi memasangkan deta kepada Menteri Lingkungan Hidup sesaat setelah tiba di BIM. Pertemuan kemudian dilanjutkan di Ruang VIP bandara dengan mem­ba­has sejumlah isu stra­tegis terkait pengelolaan lingkungan hidup di Sumbar.

Selama berada di Sumbar, Menteri Lingkungan Hidup dijadwalkan akan menghadiri sejumlah agenda, di antaranya peninjauan inovasi pengelolaan sampah terpadu berbasis kawasan, penanaman pohon, serta Rapat Koordinasi Permasalahan Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah bersama Gubernur dan Bupati/Walikota se-Sumbar.

Baca Juga  Penerimaan Pajak belum Memenuhi Harapan

Dalam pertemuan sing­kat di VIP BIM tersebut, Mahyeldi memaparkan po­tensi besar perhutanan sosial yang dimiliki Sumbar kepada Menteri. Menurutnya, program ter­sebut ti­dak hanya berperan menjaga kelestarian kawasan hutan, tetapi juga mampu meningkatkan ke­se­jah­te­raan masyarakat melalui berbagai aktivitas ekonomi yang ramah ling­kungan. “Melalui kelompok-kelompok perhutanan sosial, masyarakat dapat memanfaatkannya untuk budidaya, pengembangan eko­wi­sata, maupun berbagai jasa lingkungan lainnya. Karena itu, kami berharap penguatan program ini terus mendapat dukungan dari pemerintah pusat,” ujar Mahyeldi.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat menilai Sumbar memiliki peluang besar untuk mengembangkan perdagangan karbon melalui pengelolaan kawasan hutan secara berkelanjutan, termasuk kawasan hutan adat dan hutan yang dikelola masyarakat. “Ada yang namanya unit-unit karbon. Kawasan hutan, termasuk hutan adat atau kawasan yang dikelola masyarakat, didata untuk mengetahui cadangan karbon yang dimiliki. Selanjutnya didaftarkan ke Sistem Registrasi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI), itu bisa ditindaklanjuti,” jelas Jumhur.

Baca Juga  Jelang HUT Bhayangkara ke 73, Wujudkan Masyarakat Madani

Menurutnya, unit karbon yang telah terdaftar memiliki nilai ekonomi ka­rena dapat diperdagangkan kepada berbagai pihak yang membutuhkan kompensasi emisi karbon. “Unit karbon itu bisa dibeli siapa pun dan nilainya cukup baik. Intinya, kita memperoleh manfaat ekonomi dari upaya menjaga ling­kungan, seperti mengurangi penebangan hutan atau menghentikan sumber emi­­si. Upaya itu memiliki nilai dan bisa diperdagangkan,” katanya.

Meski demikian, Jumhur menekankan bahwa keberhasilan pengembangan perdagangan karbon me­mer­lukan kesiapan sum­ber da­ya manusia di tingkat peme­rintah daerah maupun ma­syarakat. “Mungkin kita ha­rus menyiapkan pelatihan-pelatihan agar masyarakat dan daerah memahami mekanisme pengelolaan serta perdagangan karbon ini,” ujarnya.

Melalui kunjungan kerja tersebut, Pemprov Sumbar berharap sinergi dengan Kementerian Lingkungan Hidup semakin kuat, terutama dalam mendorong pengelolaan sampah yang lebih terpadu, pe­ngem­bangan perhutanan sosial, serta pemanfaatan perdagangan karbon sebagai instrumen pelestarian lingkungan yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masya­ra­kat. (fan)