METRO SUMBAR

Jadi Guru Besar UIN Mahmud Yunus, Prof. Dr. Akhyar Hanif, M.Ag: Gelar Bukan Dipajang, Tapi Amanah yang Harus Dibuktikan

×

Jadi Guru Besar UIN Mahmud Yunus, Prof. Dr. Akhyar Hanif, M.Ag: Gelar Bukan Dipajang, Tapi Amanah yang Harus Dibuktikan

Sebarkan artikel ini
bersalaman— Prof. Dr. Akhyar Hanif, M.Ag, salah satu guru besar di UIN Mahmud Yunus Batusangkar, usai menerima KMA tentang Penetapan Guru Besar saat kegiatan Penyerahan KMA Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025 di Jakarta, Senin, (13/7),

JAKARTA, METROBagi kebanyakan orang, gelar guru besar mungkin terdengar seperti puncak karier seorang akademisi. Tapi bagi Prof. Dr. Akhyar Hanif, M.Ag, salah satu guru besar di lingkungan Universitas Islam Ne­geri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat (Sumbar), gelar itu jus­tru terasa seperti tugas ba­ru yang baru saja dimulai.

Usai menerima Keputusan Menteri Agama (KMA) tentang Penetapan Guru Besar saat kegiatan Penyerahan KMA Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025 di Jakarta, Senin, (13/7), Akhyar Hanif menegaskan, predi­kat tertinggi dalam dunia aka­demik itu tidak boleh ber­henti di atas kertas. Ia harus terus dihidupkan lewat karya ilmiah, riset berkelanjutan, dan kontribusi nyata bagi masya­rakat. “Guru besar itu bukan ga­ris finis, itu justru tanggung jawab yang makin berat,” ujar Akhyar Hanif usai acara.

Menurutnya, arahan menteri agama agar para guru besar terus aktif ber­karya adalah pengingat penting bagi seluruh akademisi di Indonesia —bahwa gelar ini menuntut mereka, menjadi motor penggerak keilmuan di kampus masing-masing, bukan sekadar status kehormatan.

Kampus Harus Peka pada Generasi Baru

Salah satu poin yang ia soroti, pentingnya perguruan tinggi membaca perubahan zaman. “Setiap generasi punya tantangannya sendiri, dan generasi mahasiswa sekarang belajar dengan cara yang berbeda dari sebelumnya,” kata Akhyar Hanif.

Baca Juga  Pemko Pa­dang Panjang Salurkan Bantuan Sosial Ekonomi dan Isi Huntara kepada 383 KPM

Menurutnya, pendekatan pengajaran di kampus mesti ikut menyesuaikan diri dengan perubahan itu — tanpa mengorbankan nilai akademik dan moral yang menjadi fondasi pendidikan tinggi.

Ia juga menekankan, kam­pus tidak boleh berhenti menjadi sekadar tem­pat kuliah. Ruang kelas, katanya, harus tumbuh menjadi pusat lahirnya riset, inovasi, dan solusi atas persoa­lan-persoalan nya­ta di tengah masya­ra­kat.

Dari situlah, menurutnya, budaya riset di kalangan akademisi perlu terus diperkuat, karena penelitian yang baik adalah penelitian yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memberi manfaat langsung bagi pembangunan bangsa.

Kolaborasi, Bukan Jalan Sendiri-sendiri

Akhyar Hanif juga me­ng­­garisbawahi satu hal yang menurutnya sering terlewat: kemajuan sebuah per­guruan tinggi tidak akan pernah tercapai kalau mahasiswa, dosen dan guru be­sar berjalan sendiri-sen­diri.

“Mahasiswa tidak cukup hanya rajin hadir di kelas. Mereka harus aktif mem­bangun budaya mem­baca, terlibat riset, dan turun langsung dalam pengabdian masyarakat. Dosen dan guru besar pun harus jadi mitra yang mendorong lahirnya gagasan baru,” ungkap Akhyar Hanif.

Baca Juga  Dua Putra Terbaik Agam Bertemu, Bertekad Bangun Potensi Kelautan Demi Sumatera Barat

Ia percaya, kolaborasi tiga unsur ini kunci untuk mencetak SDM unggul yang siap menjawab tantangan pembangunan Indonesia di masa depan.

Rasa Syukur dan Beban Baru

Di tengah kebanggaannya menerima amanah ini, Akhyar Hanif tidak menutupi bahwa gelar guru besar membawa beban moral dan akademik yang lebih besar dari sebelumnya.

“Saya bersyukur dan bangga, tapi gelar ini justru jadi tantangan buat saya memperdalam keilmuan yang selama ini saya tekuni, khususnya di bidang ilmu agama,” tutur Akhyar Hanif.

Ia pun meminta doa dari sivitas akademika, mahasiswa, kolega, hingga masyarakat luas. “Semoga Allah SWT memudahkan langkah saya, sehingga ilmu yang saya miliki benar-benar bermanfaat bagi umat,” ujarnya.

Penyerahan KMA Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025 ini momentum penting bagi penguatan pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia. Kehadiran para guru besar baru seperti Akhyar Hanif diharapkan memperkuat tradisi akademik, mendorong kualitas riset, memperluas kolaborasi lintas kampus, dan melahirkan inovasi yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Bagi Akhyar Hanif sendiri, gelar Guru Besar bukanlah garis akhir dari perjalanan akademiknya— melainkan titik awal dari pengabdian yang jauh lebih luas.(rel/fan)