SOLOK/SOLSEL

DisperkimLH Atasi Persoalan Sampah, Buka Ruang bagi Pengembang Teknologi Tepat Guna

×

DisperkimLH Atasi Persoalan Sampah, Buka Ruang bagi Pengembang Teknologi Tepat Guna

Sebarkan artikel ini
PERTEMUAN MAHASISWA KKN— Jajaran DisperkimLH bersama dosen pendamping dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Fort De Kock Bukittinggi di Posko Rusunawa Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Solok

SOLOK, METRO–Dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan, Dinas Perumahan, Kawa­san Permukiman, dan Ling­kungan Hidup (DisperkimLH) Kota Solok terus membuka ruang bagi pengembangan teknologi tepat guna. Komitmen ini ditunjukkan melalui pertemuan intensif jajaran DisperkimLH bersama dosen pendamping dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Fort De Kock Bukittinggi di Posko Rusunawa Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Solok.

Sekretaris Dinas Per­kimLH Kota Solok, Novri Aprilizen, menyambut positif setiap terobosan tek­nologi yang diinisiasi oleh sektor perguruan tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa penerapan teknologi di skala publik memerlukan kajian ilmiah yang matang dan komprehensif.

“Pemerintah Kota Solok sangat mendukung lahirnya inovasi yang bertujuan mengurangi timbulan sampah di daerah. Namun, agar teknologi ini dapat diimplementasikan secara massal, penerapannya ha­rus didukung oleh data kajian yang memadai. Kita perlu memastikan seluruh aspek manfaat, efisiensi anggaran, hingga dampak lingkungannya telah teruji secara menyeluruh,” jelas Novri Aprilizen.

Baca Juga  Kawasan Kumuh Kota Solok Ditargetkan Mencapai Nol Persen

Agenda utama pertemuan ini adalah pemaparan hasil riset aplikatif oleh tim akademisi Universitas Fort De Kock me­ngenai alat prototipe bernama “Predator”. Alat ino­vatif ini dirancang khusus untuk mengolah limbah sampah plastik menjadi produk bernilai guna, se­perti paving block dan Ba­han Bakar Minyak (BBM) alternatif. Saat ini, mesin prototipe tersebut berada da­lam fase pengembangan dengan kapasitas konversi mencapai 10 kilogram sampah plastik dalam se­kali proses pengolahan.

Pihak akademisi Universitas Fort De Kock menjelaskan bahwa riset ini lahir sebagai solusi konkret untuk menekan laju akumulasi sampah plastik yang sulit terurai secara alami.

“Penelitian ini merupakan langkah nyata kami dalam memanfaatkan limbah plastik agar memiliki nilai ekonomi baru. Mesin ‘Predator’ ini masih terus kami kembangkan secara intensif. Kami sangat berharap inovasi teknologi ini bisa membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan Pemerintah Kota Solok demi pengelolaan sampah yang lebih efektif di masa depan,” urai perwakilan dosen Universitas Fort De Kock.

Baca Juga  Raimuna, Momentum Keluarga Besar Pramuka

Senada dengan hal itu, Penyuluh Lingkungan Ahli Madya DisperkimLH, Agus Susanto, SH, menggarisbawahi pentingnya pemenuhan standar keamanan operasional, terutama terkait dengan emisi gas buang yang dihasilkan dari proses pembakaran plastik.

“Aspek teknis, uji kela­yakan mekanis, serta pe­ngujian emisi udara harus menjadi perhatian utama. Kita harus menjamin bahwa teknologi pengolahan sampah ini aman bagi o­perator di lapangan, tidak menimbulkan pencemaran udara baru di lingkungan sekitar, dan memenuhi standar keberlanjutan,” tegas Agus.

Diskusi interaktif ini ditutup dengan kesepakatan untuk melakukan kajian lebih mendalam. Hasil eva­luasi dan pengembangan lebih lanjut terhadap tek­nologi “Predator” ini nan­tinya akan dijadikan bahan pertimbangan strategis bagi Pemerintah Kota Solok dalam menentukan a­rah kebijakan pengelolaan sampah plastik yang aman, modern, dan berkelanjutan di wilayah Kota Solok. (vko)