MOTOGP resmi mengumumkan perubahan besar dalam protokol pra-balapan. Mulai Grand Prix San Marino di Sirkuit Misano, akhir pekan ini, seluruh pembalap wajib mengikuti upacara grid bergaya Formula 1 sebelum balapan dimulai.
Dilansir dari Crash, Senin (15/9), prosesi baru ini akan menampilkan lagu kebangsaan, trofi balapan, dan trofi kejuaraan MotoGP yang dipajang di depan grid. Seluruh pembalap tidak lagi bertahan di atas motor, melainkan diarahkan ke area khusus untuk mengikuti seremoni.
Sebelumnya, upacara lagu kebangsaan hanya melibatkan pejabat kejuaraan dan perwakilan lokal. Kini, dengan format baru, kehadiran pembalap diharapkan menambah kesan megah layaknya ajang Formula 1.
Pihak penyelenggara, Dorna Sports, menegaskan aturan ini bersifat wajib. Setiap pembalap yang tidak hadir akan dikenakan sanksi berupa denda EUR 500 (Rp 9,6 juta) pada pelaksanaan perdana di Misano. Jika pelanggaran terulang, hukuman finansial akan semakin berat.
Kebijakan ini hadir setelah Liberty Media, perusahaan yang juga menaungi Formula 1, resmi mengakuisisi MotoGP pada Juli lalu. Dorna berharap format baru ini memperkuat citra MotoGP sebagai ajang balap roda dua paling bergengsi di dunia.
Sejak diperkenalkannya sprint race pada 2023, aktivitas pembalap di luar lintasan memang semakin padat. Mereka kini juga rutin mengikuti acara fans seperti parade pasca-pemanasan dan walk of heroes. Penambahan upacara pra-balapan ini otomatis menambah daftar kewajiban setiap akhir pekan.
Hal ini juga menjadi sorotan para pembalap. Marc Marquez, pemimpin klasemen sementara, menilai permintaan terhadap rider semakin banyak.
“Permintaan untuk pembalap makin besar. Kekhawatirannya, kegiatan di luar balapan akan terus bertambah. Tapi pada akhirnya, keputusan ada di tangan penyelenggara,” ujarnya.
Meski menuai pro dan kontra, MotoGP yakin perubahan ini akan memberikan pengalaman berbeda bagi penonton di sirkuit maupun televisi. Atmosfer balapan diharapkan semakin berkelas dan mendekatkan MotoGP dengan standar olahraga global. (*/rom)





