METRO BISNIS

Akademisi Prof Zainal Azwar Dukung Asta Cita Presiden Prabowo dan Reformasi Polri

×

Akademisi Prof Zainal Azwar Dukung Asta Cita Presiden Prabowo dan Reformasi Polri

Sebarkan artikel ini
SILATURAHMI—Perwakilan Polda Sumbar saat bersilaturahmi dengan Guru Besar Ushul Fiqh Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Prof Dr Zainal Azwar M.Ag.

PADANG, METRO–Guru Besar Ushul Fiqh Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Prof Dr Zainal Azwar M.Ag, menyampaikan dukungannya terhadap implementasi program Asta Cita yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto sebagai kerangka strategis dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan ma­sya­ra­kat.

“Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), secara prinsip program tersebut merupakan kebijakan yang patut diapresiasi karena memberikan man­faat nyata dalam me­ningkatkan pemenuhan gizi anak serta mendukung kualitas kesehatan dan pendidikan generasi mu­da,” kata Prof Zainal yang juga pernah menjabat Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumbar Periode 2020–2025, Selasa (7/7).

Menurut Prof Zainal,  berbagai dampak positif telah dirasakan oleh ma­syarakat, khususnya anak-anak pelajar sebagai penerima manfaat program MBG. Sehingga, program tersebut harus tetap dilanjutkan.

“Aspek yang perlu menjadi perhatian bukanlah substansi programnya, melainkan efektivitas tata kelola, mekanisme pelaksanaan, serta pengawasan agar implementasinya berjalan secara transparan, akuntabel, dan tepat sasaran,” ungkap Prof Zainal.

Baca Juga  Menara Agung Sosialisasikan Safety Riding ke Sekolah

Selain itu, kata Prof Zainal, terkait kebijakan di sektor bahan bakar min­yak (BBM), meningkatnya beban ekonomi yang di­ra­sakan masyarakat berpotensi menambah tekanan terhadap kondisi sosial-ekonomi, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

“Apabila kondisi tersebut tidak direspons melalui kebijakan yang adaptif dan komunikatif, dikhawatirkan dapat memicu meningkatnya ketidakpuasan publik yang berpotensi berkembang menjadi aksi penolakan terhadap kebijakan pemerintah, sehingga berdampak pada stabi­litas keamanan dan keter­tiban masyarakat,” ujar Prof Zainal.

Dalam konteks tersebut, ungkap Prof Zainal, Polri memiliki posisi yang strategis sebagai institusi negara yang berkewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah sekaligus mem­­berikan perlindungan, pengayoman, dan pela­yanan kepada masyarakat.

“Oleh karena itu, setiap pelaksanaan tugas harus senantiasa berpedoman pada konstitusi, peraturan perundang-undangan, serta prinsip profesionalitas, proporsionalitas, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Di samping itu, pendekatan yang me­ngedepankan hati nurani, humanisme, dan keadilan perlu terus dikembangkan guna memperkuat kepercayaan publik serta menghadirkan rasa aman dan nyaman di tengah ma­syarakat,” tutur Prof Zai­nal.

Baca Juga  Menaker Ungkap Penyebab Mengapa Status BSU Masih Calon Penerima

Berkaitan dengan isu sosial, kata Prof Zainal, salah satu tantangan yang memerlukan perhatian adalah dinamika terkait LGBT yang masih menjadi perdebatan di tengah ma­sya­rakat. Penanganan terhadap persoalan tersebut perlu dilakukan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, didukung oleh regulasi yang jelas, serta melalui sinergi antara Polri, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, dan unsur masyarakat lainnya.

“Di Provinsi Sumatra Barat, pendekatan tersebut perlu mempertimbangkan nilai-nilai kearifan lokal yang berlandaskan falsafah “Adat Basandi Sya­ra’, Syara’ Basandi Kitabullah”, sehingga upaya pembinaan dan pencegahan dapat dilaksanakan secara bijaksana, persuasif, serta tetap menghormati prinsip-prinsip negara hukum dan ketertiban masyarakat,” tutupnya. (rgr)