PADANG, METRO— Kamera mantap di genggaman, mata fokus membidik momen terbaik, dan langkah kaki bergerak cepat mengikuti setiap alur kegiatan pimpinan daerah. Bagi tim liputan Pemerintah Kota (Pemko) Padang, pemandangan tersebut adalah ritme harian Wiki Wido Warisman.
Namun, ketika tugas publikasi usai dan lensa kamera ditutup, Aparat Sipil Negara (ASN) Diskominfo Kota Padang berganti peran: mengolah rasa dan melantunkan nada-nada syahdu dalam belantika musik Minang.
Berdinas di Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kota Padang, tugas harian Wiki Wido memang berpacu dengan waktu. Ia berada di garis depan dalam merekam, menyajikan, dan mempublikasikan seluruh agenda pimpinan daerah serta dinamika pembangunan Pemko Padang agar sampai ke tengah masyarakat secara visual dan informatif.
Di tengah kesibukan mobilitas tinggi tersebut, pemuda kelahiran Padang, 24 Oktober asal Kayu Aro, Kelurahan Bungus Barat, Kecamatan Bungus Teluk Kabung ini membuktikan bahwa dedikasi kerja dan passion seni bisa saling melengkapi. Setelah sukses dengan karya perdananya berjudul Kasiah Pamenan Urang, pria berbakat ini resmi meluncurkan single kedua bertajuk “Cinto Usah Dikana”.
Bertugas Bidang IKP Diskominfo menuntut kesiapan penuh. Dari peninjauan lapangan hingga agenda resmi Pemko Padang yang padat, dia dituntut selalu siap menangkap setiap momen penting.
Bagi sebagian orang, dinamika kerja seperti ini mungkin menyita seluruh energi. Namun bagi Wiki Wido, perjalanannya di lapangan justru menjadi sumber inspirasi yang memperkaya rasa dalam bermusik.
Dia pun berbagi cerita bagaimana mengelola waktu dan energinya di antara dua dunia tersebut.
“Tugas utama saya di Bidang IKP adalah melayani publikasi daerah. Memanggul kamera, mencari sudut pengambilan gambar terbaik, dan memastikan kegiatan pimpinan tuntas terdokumentasi adalah tanggung jawab profesional saya sebagai ASN,” tutur Wiki Wido, Senin (27/7/2026).
Selayaknya seniman, Wiki Wido tidak pernah bisa lepas dari bermusik. Melantunkan nada bukan saja passion tapi juga tempat dia melepas lelah dan mengekspresikan diri.
“Bermusik adalah ruang ekspresi saya. Lelah setelah beraktivitas seharian justru terbayar ketika saya bisa menyalurkan rasa melalui lagu. Saya selalu memastikan proses kreatif—mulai dari latihan hingga rekaman—dilakukan sepenuhnya di luar jam dinas, seperti saat akhir pekan,” jelasnya.
Langkah Wiki Wido di industri musik Minang bukanlah cerita instan. Namanya mulai dikenal luas setelah meluncurkan single perdana bertajuk Kasiah Pamenan Urang yang cukup mendapat apresiasi hangat dari penikmat musik daerah berkat karakter vokalnya yang khas.
Single kedua Cinto Usah Dikana hadir dengan nuansa emosional yang lebih mendalam. Lagu ini mengisahkan tentang keikhlasan merelakan kenangan masa lalu dan keteguhan hati untuk terus melangkah ke depan—sebuah pesan yang dibawakan dengan penuh penghayatan.
Memahami pentingnya keterbukaan informasi dan media baru—yang juga sejalan dengan bidang pekerjaannya—Wiki Wido memanfaatkan berbagai platform digital untuk membagikan karya-karyanya kepada publik yang lebih luas, baik di ranah Minang maupun perantauan. Singel Cinto Usah Dikana dapat dinikmati di chanel YouTube AdiskotangPRO.
Untuk karya-karya Wiki Wido lain juga dapat diakses dan dinikmati melalui saluran media sosial resminya:YouTube: @wiki Wido (Video Musik Resmi) , TikTok: @wiki Wido, Instagram: @Wiki Wido, dan Facebook: @Wiki Wido
Kisah Wiki Wido Warisman menjadi gambaran nyata bagaimana seorang pelayan masyarakat dapat terus berkarya tanpa mengesampingkan tugas pokoknya. Dari sudut Bungus Teluk Kabung hingga pusat aktivitas Pemko Padang, langkahnya membuktikan bahwa profesionalisme kerja dan pelestarian budaya lokal dapat berjalan beriringan secara harmonis.
“Semoga singel terbaru saya ini dapat dinikmati para pecinta musik Minang di ranah dan di rantau,” pungkas ayah dua putri ini mengakhiri. (rom)






