BUKITTINGGI, METRO–Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan dukungan penuh terhadap Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan. Dukungan itu disampaikan melalui pesan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan DIY dalam Seminar Nasional Bukittinggi Kota Perjuangan di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis (18/6).
Dalam pesannya, Sri Sultan menyebut peringatan 100 Tahun Jam Gadang bukan sekadar perayaan sebuah bangunan bersejarah, tetapi momentum untuk mengingat kembali peran Bukittinggi dalam menjaga eksistensi Republik Indonesia saat Agresi Militer Belanda II pada 1948.
“Hari ini saya tidak ingin berbicara tentang Jam Gadang sebagai monumen wisata. Saya ingin mengajak kita semua kembali ke momen ketika jam itu berdetak di tengah kota yang terkepung dan pemerintahan sebuah republik masih terus berdenyut, justru dari sini, dari Bukittinggi,” ungkapnya.
Sri Sultan menegaskan, ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, Bukittinggi berdiri sebagai benteng terakhir republik melalui lahirnya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Menurutnya, PDRI menjadi bukti nyata bahwa bangsa Indonesia tidak menyerah dan tetap memiliki pemerintahan yang sah.
“Ketika Republik hampir padam, Bukittinggilah yang menjaganya tetap menyala,” ujarnya.
Ia juga menilai hubungan Yogyakarta dan Bukittinggi bukan sekadar hubungan historis antardaerah, melainkan persaudaraan perjuangan yang ikut melahirkan Indonesia. Karena itu, Jam Gadang harus dijaga sebagai simbol ingatan dan semangat kebangsaan yang terus hidup.
Pesan tertulis Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut diserahkan langsung kepada Wali Kota Bukittinggi dan diharapkan menjadi penyemangat dalam memperjuangkan pengakuan Bukittinggi sebagai daerah istimewa atau daerah khusus di Indonesia. (pry)






