PAYAKUMBUH/50 KOTA

Pemko Payakumbuh Bekali 150 Pelajar Kesiapsiagaan Bencana, Perkuat Budaya Siaga Sejak Dini

×

Pemko Payakumbuh Bekali 150 Pelajar Kesiapsiagaan Bencana, Perkuat Budaya Siaga Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
PEMBEKALAN MITIGASI BENCANA— Pemko Payakumbuh terus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana melalui jalur pendidikan dengan membekali 150 pelajar tingkat SMA dan madrasah keterampilan dasar kesiapsiagaan.

PAYAKUMBUH, METRO—Pemko Payakumbuh terus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana melalui jalur pendidikan dengan membekali 150 pelajar tingkat SMA dan madrasah kete­ram­pilan dasar kesiapsiagaan.  Langkah ini menjadi bagian dari strategi memba­ngun budaya siaga bencana sejak dini agar ma­syarakat memiliki kemampuan menghadapi situasi darurat secara cepat dan tepat.

Kegiatan Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Kebencanaan yang digelar di Aula Peternakan Provinsi Sumatera Barat, Senin (15/6), diikuti pelajar dari S­MAN 1 Payakumbuh, S­MAN 2 Payakumbuh, dan MAN 2 Payakumbuh. Da­lam arah pembangunan daerah yang menempatkan keselamatan ma­sya­rakat sebagai prioritas, Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta mendorong pe­nguatan literasi kebencanaan melalui sektor pendidikan guna menciptakan generasi yang tangguh, adaptif, dan mampu berperan aktif dalam upa­ya mitigasi di lingkungan masing-masing.

Wali Kota Zulmaeta melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sum­ber Daya Manusia Erizon mengatakan se­kolah memiliki peran stra­tegis dalam membangun budaya siaga bencana sekaligus menyiapkan ge­nerasi muda yang mampu merespons keadaan darurat secara tepat. “E­dukasi bencana bukan lagi sekadar pengetahuan pelengkap, melainkan keterampilan hidup yang wajib dimiliki oleh generasi mu­da kita saat ini,” kata Erizon.

Baca Juga  Lahirkan Generasi Baik, Berikan Hukuman bila Tidak Menjalankan Kebaikan 

Menurutnya, pelajar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan pengetahuan mitigasi bencana kepada keluarga dan masyarakat.  Dengan demikian, manfaat edukasi kebencanaan dapat dirasakan lebih luas dan berkontribusi terha­dap peningkatan ketangguhan masyarakat secara keseluruhan.

Ia menambahkan, se­kolah merupakan ruang yang efektif untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. “Pelajar dapat menjadi penghubung pe­nyebaran informasi mitigasi ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika pemahaman ini dimiliki sejak dini, maka budaya siaga bencana akan tumbuh lebih kuat di tengah masyarakat,” ujarnya.

Erizon juga menekankan bahwa pembentukan budaya siaga bencana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pen­didikan hingga ma­syarakat. Karena itu, kegiatan tersebut turut melibatkan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat Wilayah IV dan Kementerian Agama Kota Payakumbuh sebagai ba­gian dari upaya memperluas jangkauan edukasi kebencanaan di lingku­ngan sekolah.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Payakumbuh Devitra mengatakan pemahaman terhadap tingkat kerawanan wilayah menjadi salah satu kunci dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Ia menjelaskan BPBD terus memperkuat pe­metaan potensi ancaman bencana sebagai dasar penyusunan kebijakan mitigasi yang lebih terarah dan sesuai dengan karakteristik wilayah. “Semakin baik masyarakat memahami risiko yang ada di lingkungannya, maka semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan saat bencana terjadi,” katanya.

Baca Juga  Nagari Gunuang Malintang Ikuti Lomba Gerakan PKK Tingkat Provinsi

Pada kesempatan ter­sebut, Komandan Pos Ba­sarnas Kabupaten Lima Puluh Kota Roni Nur memberikan materi mengenai teknik dasar penyelamatan diri serta langkah-langkah yang perlu dilakukan pada saat-saat awal setelah bencana terjadi.

Menurutnya, kemampuan bertahan dan me­nyelamatkan diri merupakan keterampilan penting yang perlu dimiliki pelajar karena bantuan profesional membutuhkan waktu untuk menjangkau seluruh lokasi terdampak. “Detik-detik pertama setelah bencana sering menjadi penentu keselamatan. Karena itu, kemampuan melakukan penyelamatan diri harus dipahami dan dilatih sejak usia sekolah,” katanya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Payakumbuh Arman Riska menambahkan keberhasilan pengu­rangan risiko bencana sangat bergantung pada kesiapsiagaan ma­sya­rakat yang dibangun secara berkelanjutan. Ia berharap para pelajar yang mengikuti sosialisasi ter­sebut dapat menjadi pe­lopor budaya siaga bencana di sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya sehingga upaya mitigasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. (uus)