BERITA UTAMA

Tragedi Maut saat Pemadaman Listrik Massal, 2 Remaja Tewas Keracunan Asap Genset di Masjid, Ditemukan dalam Kondisi Mulut Berbusa dan Kejang

×

Tragedi Maut saat Pemadaman Listrik Massal, 2 Remaja Tewas Keracunan Asap Genset di Masjid, Ditemukan dalam Kondisi Mulut Berbusa dan Kejang

Sebarkan artikel ini
OLAH TKP— Polisi melakukan olah TKP kasus tewasnya dua remaja akibat kecarunan asap genset di Masjid Nurul Huda, Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar.

TANAHDATAR, METROPemadaman listrik yang melanda seluruh wilayah Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), pada Jumat malam (22/5), menimbulkan jatuhnya korban jiwa di Kabupaten Tanah­datar. Dua orang remaja ditemukan tewas dan satu lainnya kritis akibat keracunan gas karbon monoksida dari mesin genset di Masjid Nurul Huda, Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto.

Diketahui, kedua korban yang meninggal dunia berinisial GA (15) merupakan siswa MTs Diniyah Pandai Sikek dan HAK (15) merupakan santri Pondok Pesantren MTI Koto Tinggi. Sementara satu korban kritis dan menjalani perawatan di rumah sakit berinisial H (16) merupakan pelajar MAN 2 Padang Panjang Koto Baru.

Kapolsek X Koto, Iptu Martheriko, mengungkapkan bahwa insiden itu bermula saat listrik padam pada Jumat (22/5) sekitar pukul 18.40 WIB. Sekelompok remaja setempat kemudian meminta izin menyalakan genset di ruang sekretariat masjid untuk mengisi daya baterai handphone (Hp) sekira pukul 21.00 WIB.

“Jadi, pada saat lampu mati, anak-anak ini berkumpul dan bermain di masjid. Karena baterai Hp habis, mereka minta tolong kepada garin masjid untuk menghidupkan genset,” kata Iptu Martheriko, Minggu (24/5).

Lebih lanjut Iptu Martheriko menjelaskan awalnya ada lima orang yang berkumpul di ruangan ter­sebut. Namun, dua di antaranya memilih pulang, sedangkan ketiga korban memutuskan tidur di kamar belakang masjid ter­sebut dengan kondisi pintu tertutup rapat tanpa ventilasi udara.

“Mesin genset dinyalakan di ruang tertutup tanpa ventilasi. Gas karbon monoksida tidak berbau dan tidak berwarna sehingga korban tidak menyadari bahayanya. Para korban tidak menyadari bahaya asap genset karena tertidur saat mesin masih menyala di dalam ruangan. Kondisi kamar yang tertutup membuat gas dari gen­set terperangkap dan terhirup terus-menerus sepanjang malam,” ucapnya.

Baca Juga  BNI Berikan 2.000 Test Swab Gratis untuk Masyarakat Sumbar

Iptu Martheriko menjelaskan, ketiga korban baru ditemukan tidak sadarkan diri pada Sabtu (23/5) pagi sekira pukul 05.30 WIB oleh ibu dari salah satu korban yang berniat membangunkan mereka. Mengetahui hal itu, warga pun langsung meng­eva­kua­si para korban ke Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Padangpanjang.

“Pada pukul 06.15 WIB, dua korban dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit. Satu korban lainnya masih kritis dan baru sadar sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak medis memastikan para korban mengalami penurunan kesadaran akut aki­bat keracunan gas buang­ genset.,” jelasnya.

Terkait kejadian ini, Iptu Martheriko menagatakan, pihak keluarga korban menerima kematian korban karena kelalaian penggunaan genset, sehingga mereka memutuskan tidak akan melakukan autopsi terhadap jenazah korban dan sepakat untuk tidak melanjutkan proses hukum kasus ini.

“Berkaca dari kejadian ini, kami meminta ma­sya­rakat untuk lebih berhati-hati dan tidak mengoperasikan alat penambah daya tersebut di dalam area tertutup. Genset wajib diletakkan di luar ruangan dengan sirkulasi udara yang baik untuk mencegah kejadian serupa,” ptegas Iptu Martheriko.

Terpisah, Wali Nagari Pandai Sikek, Mas’ap W. Dt. Bandaro, mengungkapkan bahwa posisi genset menjadi pemicu utama keracunan massal ini. Saat pemadaman listrik total melanda wilayah Sumbar  sejak pukul 18.44 WIB, para korban meminjam genset kepada pengurus masjid untuk mengisi daya baterai ponsel mereka.

Baca Juga  Dua Jambret Dibekuk di Lubeg

“Namun, genset tersebut dioperasikan di dalam ruangan bagian belakang Masjid Nurul Huda dengan kondisi pintu tertutup rapat. Genset itu baru saja diservis, makanya posisinya ma­sih di dalam ruangan dan belum sempat di­pin­dah­kan ke luar,” ujar Mas’ap.

Diduga karena kele­lahan,kata Mas’ap, ketiga remaja tersebut tertidur di sofa ruangan kantor masjid tersebut dalam kondisi mesin genset menyala dan mengeluarkan gas beracun tanpa sirkulasi udara yang memadai.

“Pagi harinya, sekitar waktu subuh, aliran listrik dari PLN kembali normal. Marbot (garim) masjid datang untuk mematikan me­sin genset. Garim sempat mengetuk pintu dan membukanya, namun melihat ketiga remaja masih terbaring di sofa, ia mengira mereka hanya sedang tertidur pulas,” tutur dia.

Mas’ap mengakui, pada saat itu garin menganggap ketiga remaja ini masih tertidur, sehingga tidak langsung membangunkan dan memilih me­lan­jutkan aktivitas untuk mengumandangkan azan subuh. Petaka baru terungkap sekitar pukul 05.30 WIB ketika ibu dari korban G datang menyeberang pagar rumahnya menuju masjid untuk membangunkan anaknya agar bersiap pergi ke sekolah.

“Saat itulah korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa dan kejang-kejang. Setelah diperiksa oleh bidan desa, para korban langsung dilarikan ke RS Yarsi Padangpanjang. Insiden ini terntunya menyisakan duka yang menadalam bagi keluarga,” tutup dia. (*)