BUKITTINGGI, METRO—Pemerintah Kota Bukittinggi kembali menggulirkan program Sekolah Keluarga sebagai upaya meningkatkan kualitas generasi sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial yang berakar dari lingkungan rumah tangga.
Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Bukittinggi, Yessi Endriani, menegaskan bahwa pembangunan ketahanan keluarga memerlukan proses yang berkelanjutan dan tidak bisa dilakukan secara instan.
“Pembangunan ketahanan keluarga bukanlah hal yang bisa dilakukan secara instan. Program Sekolah Keluarga yang telah berjalan selama tujuh tahun menjadi salah satu solusi strategis dalam meningkatkan kualitas keluarga,” ujarnya, Kamis (9/4).
Yessi juga menyoroti sejumlah persoalan sosial yang masih menjadi tantangan, seperti tingginya angka stunting, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas di kalangan generasi muda. Ia menilai, kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk peran aktif camat dan lurah di setiap wilayah.
Menurutnya, pendekatan berbasis dasawisma menjadi langkah efektif untuk mengidentifikasi dan menangani persoalan hingga ke tingkat rumah tangga.
“Ketahanan keluarga tidak bisa diibaratkan seperti membalikkan telapak tangan. Berbagai fenomena yang terjadi dalam rumah tangga, seperti pola asuh yang tidak selaras dan meningkatnya angka perceraian, menjadi perhatian serius,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas DP3APPKB Kota Bukittinggi, Susiyanti, menjelaskan bahwa materi dalam program Sekolah Keluarga disusun berdasarkan kajian para ahli, mulai dari pakar parenting hingga tokoh adat dan agama.
Ia menyebutkan, peserta program diprioritaskan bagi masyarakat yang belum pernah mengikuti kegiatan serupa, agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Untuk tahun 2026, Sekolah Keluarga Gemilang akan diikuti oleh 720 orang peserta dengan distribusi maksimal 30 orang per kelurahan,” jelasnya.
Program ini dirancang secara praktis agar mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mampu membentuk keluarga yang lebih tangguh dan berkualitas.
“Hingga saat ini, tercatat sebanyak 2.267 peserta telah diwisuda, atau sekitar 5,3 persen dari total 42.733 kepala keluarga di Kota Bukittinggi,” tambah Susiyanti.
Sekolah Keluarga sendiri merupakan program pembinaan masyarakat yang berfokus pada penguatan delapan fungsi keluarga, yakni aspek keagamaan, budaya, kasih sayang, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.
Melalui program ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menekan berbagai persoalan sosial seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta melahirkan generasi yang sehat, tangguh, dan berdaya saing. (pry)






