METRO SUMBAR

Bangun Desa Adat Wisata, Butuh Proses dan Dukungan Masyarakat serta Pemerintah

×

Bangun Desa Adat Wisata, Butuh Proses dan Dukungan Masyarakat serta Pemerintah

Sebarkan artikel ini
DESA ADAT—Sesudut pemandangan Desa Adat Penglipuran Kubu Kabupaten Bangli Bali yang terkenal hingga manaca negara.

BALI, METRO–Untuk mewujudkan des­tinasi wisata, memang makan proses. Selain itu juga membutuhkan duku­ngan semua pihak. Di an­taranya, masyarakat ling­kungan pemerintah, akademisi, media dan pihak ketiga. Pengurus Desa A­dat Tradisional Penglipuran  Kubu, kabupaten Bangli, provinsi Bali Nengah Moneh, Sabu (27/11/2021) mengatakan, yang menjadi unggulan jualan destinasi desa adat ini memang budaya adat Bali. Selain dukungan sarana dan pra­sarana dari pemerintah, seperti sarana transportasi, penginapan, restoran (warung makan) dan dukungan sarana teknologi informasi (TI).

“Tapi, yang menjadi unggulan wisatawan domestik, Asean maupun Man­canegara atraksi budaya adat Bali, yang lestari hingga sekarang,” ujar Nengah di hadapan rombongan Studi Tiru Dispar Sumbar melalui Pokir Anggota DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman.

Ditambahkan Nengah, membangun desa adat ini tidak memakan waktu yang instan. Desa ini mulai di­benahi menjadi destinasi wisata sejak tahun 1990-an silam. Tapi, ini dilatarbelakangi niat dan kemauan yang kuat dari masyarakat sekitarnya. Di mana pengurus Desa Adat dibekali pemerintah dengan studi banding, FGD (Forum Group Discuss) dan pelatihan manajerial.

Namun, yang tak kalah pentingnya dukungan dari unsur media, baik cetak, elektronik dan Medsos. Juga tak kalah urgennya dukungan unsur akademisi dengan melakukan penelitian dan sebagainya. Desa adat ini tak saja dikenal di level domestik, akan tetapi sampai Asean dan Mancanegara.

Baca Juga  Teaching Factory Bukti Keunggulan  SMKN 1 Sumbar

“Di sisi lain, peran Ke­lompok Pariwisata (Pokdarwis) di Desa Adat Peng­lipuran ini juga cukup stra­tegis dalam mengelola atraksi budaya yang sifatnya kontinua dan berke­lanjutan,” unkap Nengah, di samping Kabid Sumberdaya Pariwisata dan Ekraf Dispar Sumbar Drs Mul­yadi Yanis.

Awal mula keberadaan Desa Penglipuran sudah ada sejak dahulu, sejak zaman Kerajaan Bangli. Para leluhur penduduk desa ini datang dari Desa Bayung Gede dan menetap sampai sekarang, sementara na­ma “Penglipuran” sendiri berasal dari kata Pengeling Pura yang mempunyai mak­na tempat suci untuk mengenang para leluhur.

Desa Adat Penglipuran merupakan satu kawasan pedesaan yang memiliki tatanan spesifik dari struktur desa tradisional, se­hingga mampu menampi­l­kan wajah pedesaan yang asri. Penataan fisik dari struktur desa tersebut ti­dak terlepas dari budaya masyarakatnya yang su­dah berlaku turun temurun. Sehingga dengan demikian Desa Adat Penglipuran merupakan obyek wisata budaya. Keasrian Desa Adat Penglipuran dapat dirasakan mulai dari memasuki kawasan pradesa dengan hijau rerumputan pada pinggiran jalan dan pagar tanaman menepi sepanjang jalan, menambah kesejukan pada dae­rah prosesi desa.

Baca Juga  Wujud Kepedulian kepada Masyarakat, PT Padang Raya Cakrawala (Apical Group) Salurkan Hewan Kurban

Pada areal catus pata setelah prosesi tersebut, merupakan areal tapal batas memasuki Desa Adat Penglipuran. Balai wantilan dan fasilitas kemasyarakatan serta ruang terbuka pertamanan, merupakan daerah selamat datang (Welcome Area).. Areal berikutnya adalah areal tatanan pola desa, yang diawali dengan gradasi ke fisik desa secara linier ke arah kanan dan kiri.

Lokasi Desa Adat Peng­lipuran

Desa adat Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu di Kecamatan Bangli, Kabupaten Dati II Bangli. Luas desa adat Penglipuran ku­rang lebih 112 ha, dengan batas wilayah desa adat Kubu di sebelah timur, di sebelah selatan desa adat Gunaksa, dan di sebelah Barat Tukad Sang-sang, sedangkan di sebelah utara desa adat Ka­yang. Desa Adat Penglipuran terletak di kaki Gunung Batur pada ketinggian 700 meter dpl. Desa Adat Penglipuran terletak pada jalur wisata Kintamani, sejauh 5 Km dari pusat kota Bangli, dan 45 Km dari pusat kota De­n­pasar. (boy)