METRO PADANG

Waspadai Hewan Kurban Berpenyakit, Pengurus Masjid Lebih Hati-hati Bagikan Daging Sapi

×

Waspadai Hewan Kurban Berpenyakit, Pengurus Masjid Lebih Hati-hati Bagikan Daging Sapi

Sebarkan artikel ini
Syahrial Kamat Kepala Dinas Pertanian Kota Padang

SUNGAI LAREH, METRO–Hari Raya Idul Adha identik dengan hewan kur­ban, mulai dari pemo­to­ngan sampai pembagian da­ging. Mengingat ba­nyak­­nya penyakit zoonosis yang berasal dari he­wan, Bidang Kesehatan He­wan dan Kesmaves (Ke­­se­hatan Masyarakat Ve­teriner) mengimbau se­mua pengurus masjid dan mushalla se-Kota Padang agar tidak membagikan organ hewan kurban yang terkontaminasi penyakit kepada masyarakat.

Bahkan lebih dari pada itu, pengurus masjid dan mushalla juga dilarang menyembelih hewan kur­ban yang tidak sehat dan mengeluar darah pada sa­lah satu lubang pada tu­buh­nya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Syahrial Ka­mat didampingi Kabid Ke­se­hatan Hewan dan Kes­maves, drh. Sovia, menga­takan ada banyak potensi penyakit yang perlu diwas­padai ada pada hewan kurban. Seperti sapi ca­cingan atau sapi yang ter­kena virus antrak.

Ia menjelaskan, untuk sapi yang cacingan, bia­sanya ditandai dengan bulu yang kusut, mata ko­tor dan tidak ceria atau dia­re. Biasanya, pada ba­gian organ dalam sapi, seperti hati, terdapat ca­cing-ca­cing atau bolong-bo­long.

Baca Juga  HUT ke-80 TNI, Pemko dan Lantamal II Gelar Aksi Bersih Sungai dan Donor Darah

Jika sudah demikian, maka organ tersebut tidak boleh lagi dibagikan se­bagai daging kurban. Ka­rena mengandung pe­nya­kit. “Kalau hati sapinya ber­lubang atau bercacing, harus dibuang. Jangan dibagikan juga kepada ma­s­yarakat sebagai daging kurban. Karena itu pasti mengandung penyakit dan membahayakan jika dikon­sumsi,” sebut drh. Sovia.

Kasus organ sapi  ber­cacing ini, kata dia, sering ditemui setiap hari raya kurban. Semua pengurus masjid dan mushalla yang terlibat dalam pemo­tongan, harus sepakat un­tuk tidak membagikan ba­gian tersebut kepada mas­yarakat.

Begitu juga pada sapi yang sebelum disembelih terlihat mengeluarkan da­rah pada salah satu lubang pada tubuhnya. Seperti hidung, mulut,  telinga, atau anusnya.

“Meski darahnya ha­nya pada satu titik saja, ciri-ciri fisik tersebut sudah cukup meng­indenti­fikasi­kan bahwa sapi yang ber­sangkutan berpenyakit dan  berkemungkinan ter­kena penyakit antrak,” jelas dokter hewan ini.

Baca Juga  PT Semen Padang Perkuat Penanganan Pascabencana di Batu Busuk, Alat Berat Bekerja Dua Minggu Tanpa Henti, Fokus Pulihkan Drainase dan Tanggul Sungai

Apalagi saat ini, pered­aran sapi kurban tak hanya didatangkan sari Sumbar saja, tapi juga dari daerah-daerah luar. Seperti NTT, Lampung dan lainnya. Se­hing­ga sangat memung­kin­kan sapi-sapi yang dida­tang­kan dari luar itu ber­penyakit.

“Kalau di Sumbar, me­mang bukan daerah en­demis penyakit zonosis se­perti antrak. Tapi asal sapi kurban sekarang banyak dari luar. Jadi harus diwas­padai,” tandas Sovia.

Bagi  masyarakat atau pengurus masjid dan mu­shalla yang menemukan adanya indimasi mencu­rigakan pada hewan kur­ban mereka bisa meng­hubungi petugas Keswan Dinas Pertanian di nomorn 081266237927 atau lang­sung ke Kepala Dinas Per­ta­nian Padang, Syahrial Ka­mat dengan nomor 08126626226.

“Nanti petugas akan langsung turun memeriksa hewan yang bersangkutan. Sebelum petugas turun memeriksa, penyem­beli­han harus ditunda,” pung­kasnya. (tin)