AIEPACAH, METRO–Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Padang sejak Kamis (7/3) sore, hingga Jumat (8/3), menyebabkan ibu kota Sumbar ini dikepung banjir. Sebagian besar daerah yang menjadi langganan banjir, terendam.
Untuk menghindari korban jiwa, warga pun diungsikan ke bangunan gedung sekolah dan masjid yang lebih aman.
Wali Kota dan Wawako Padang, Hendri Septa – Ekos Albar secara bergantian melakukan monitoring proses evakuasi warga terdampak banjir ke tempat yang lebih aman hingga Jumat (8/3) subuh.
Monitoring yang didahului Wawako Ekos bersama Kapolresta Padang, Kombespol Ferry Harahap, Kamis (7/3) malam, meninjau beberapa titik, salah satunya di Perumahan Kharisma di Lubuk Begalung (Lubeg).
Lubeg merupakan salah satu kecamatan dengan dampak banjir terparah, dengan ketinggian muka air mencapai 1 hingga 2 meter, yang merendam lebih dari 40 rumah warga.
Ekos mengatakan Pemko Padang akan memfokuskan evakuasi warga terdampak banjir ke Mesjid serta gedung sekolah yang tidak terendam banjir, sehingga bisa digunakan untuk beristirahat.
“Kita memfokuskan untuk titik evakuasi ke sekolah ataupun di mesjid. Kita sekarang sedang menunggu informasi lanjutan, karena hampir rata di setiap kecamatan ada titik-titik terdampak banjir. Kita berharap hujan segera reda,” katanya.
Dilanjutkannya, saat ini, pihaknya belum dapat menginformasikan tentang berapa total masyarakat yang terdampak, serta kerugian material yang ditimbulkan akibat bencana ini.
Dia mengatakan bahwa saat ini tengah fokus melakukan evakuasi warga ke tempat yang lebih aman, yang dibantu oleh Forkompinda Kota Padang, Brimob Polda Sumbar, dan Marinir menggunakan perahu karet.
“Belum bisa dihitung, karena posisi kita sedang berkonsentrasi dan fokus terhadap proses evakuasi, kita juga dibantu oleh Forkompinda, Brimob, Polda Sumbar, serta Marinir di lapangan,” katanya.
Dia menyebut, saat ini status wilayah Kota Padang yang rawan banjir naik menjadi siaga 1, dan Pemko mensiagakan perahu-perahu karet di tempat-tempat rawan tersebut.
Sementara itu, Wako Hendri Septa, yang meninjau warga terdampak banjir hingga subuh hari bersama Kalaksa BPBD, Hendri Zulviton, Kasatpol-PP, Chandra Eka Putra, serta Kadinsos, Heriza Syanfani, maraton dibeberapa titik seperti, Kelurahan Koto Baru dan Kelurahan Banuaran di Kecamatan Lubuk Begalung, dan Kelurahan Batipuh Panjang di Kecamatan Koto Tangah.
Bahkan, Wako Hendri Septa berhasil membujuk satu keluarga untuk mau dievakuasi ke tempat yang lebih aman, setelah sebelumnya sempat menolak ajakan untuk evakuasi.
Wako bersikeras untuk membujuk keluarga tersebut agar mau di evakuasi karena dalam keluarga tersebut terdapat dua bocah, dan satunya lagi masih bayi. Hal itu dilakukan menurutnya untuk mencegah kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi dalam peristiwa ini.
“Untuk menghindari kemungkinan terburuk, lebih baik kita evakuasi. Karena hujan belum bisa dipastikan akan berapa lama. Apalagi yang bersangkutan bersama dua balita dan satu bayi,” katanya.
Selain itu, keluarga tersebut juga mendapatkan santunan berupa bantuan darurat yang diserahkan oleh Heriza Syanfani yang berisikan keperluan seperti makanan bayi, pakaian, serta selimut.
Wako mengimbau kepada seluruh personel insan kebencanaan Pemko Padang untuk selalu standby, mengingat masyarakat membutuhkan pertolongan kapan saja selama bencana melanda.
“Kita minta seluruh personel kedaruratan Pemko Padang untuk standby. Termasuk personil kewilayahan. Permintaan evakuasi bisa datang kapan saja, tutupnya sesaat setelah evakuasi bayi dan balita di Koto Baru berhasil dilakukan.
Gubernur Tinjau Kondisi Warga Terdampak Banjir
Gubernur Mahyeldi Ansharullah meninjau langsung kondisi masyarakat yang terdampak banjir di Kota Padang, Kamis malam (7/3). Mahyeldi menyebut, tidak hanya Kota Padang yang terdampak, banjir juga melanda beberapa daerah lainnya di Sumbar.
Peninjauan diawali Gubernur di RT 03 RW 06 Kampung Durian, Kelurahan Parak Gadang Timur, Kecamatan Padang Timur. Beruntung, meski pun hingga Jumat dinihari banjir di daerah itu tak kunjung surut dan curah hujan masih tinggi, namun tidak sampai memakan korban luka atau jiwa. Mahyeldi juga memuji gerak cepat dari para Ketua RT dan RW dalam mengkordinir upaya evakuasi warganya.
“Alhamdulillah, seluruh warga sudah dievakuasi dan dipindahkan ke posko pengungsian sementara. Kami berharap, seluruh Ketua RT, RW, dan Lurah di daerah terdampak, mendata dan memastikan seluruh warganya sudah berada dalam kondisi aman,” ujar Mahyeldi.
Diketahui, masyarakat Kampung Durian yang rumahnya terendam banjir diarahkan untuk mengungsi di Masjid Al-Ihsan. Lokasi tersebut dinilai aman dari banjir karena bangunannya bertingkat.
Terkait kebutuhan pokok para pengungsi seperti logistik makanan dan selimut, Mahyeldi, memerintahkan Kepala Dinas Sosial Sumbar, Syaifullah untuk segera berkoordinasi dengan Kepala Dinas Sosial Kota Padang, agar bisa segera diturunkan bantuan.
“Alhamdulillah di daerah ini ada Masjid Al-Ihsan yang bangunannya punya dua lantai, sehingga dalam situasi seperti ini, lantai 2 bisa dimanfaatkan warga untuk mengungsi,” jelas Mahyeldi.
Usai peninjauan di Kampung Durian, Gubernur kembali melanjutkan peninjauannya ke kawasan lainnya di Rawang Jondul, Lubuk Begalung, Alai, Jati.
Mahyeldi menyebut, berdasarkan laporan sementara dari Kalaksa BPBD Sumbar, selain di Kota Padang juga ada beberapa daerah lainnya di Sumbar yang mengalami bencana banjir dan tanah lonsor. Seperti, Pesisir Selatan, Solok, Pariaman, dan Agam.
Sementara itu, salah seorang warga Kampung Durian, Sri (50th) menyebut banjir mulai menggenangi area pemukiman sejak Kamis pukul 15.00 wib, hingga akhirnya keringgiannya mencapai 1,5 meter.
“Ini sudah mulai surut, sore tadi ketinggiannya mencapai 1,5 meter. Apalagi saat ini masih hujan, kemungkinan air akan naik kembali cukup besar. Jadi malam ini kami mengungsi dulu di masjid supaya aman,” ungkapnya. (brm/fan)






