METRO BISNIS

Perhatian Pemprov Sumbar Terhadap Nagari Creative Hub di Pangian Minim

×

Perhatian Pemprov Sumbar Terhadap Nagari Creative Hub di Pangian Minim

Sebarkan artikel ini
PELATIHAN—Aktivitas pelatihan yang dilaksanakan Mahasiswa KKN di Medan Balinduang NCH di Nagari Pangian.

TANAHDATAR, METRO–Pelaksanaan Nagari Cre­ative Hub (NCH) di Nagari Pangian, Kecamatan Linatu Buo, Kabupaten Ta­nah Datar dihadapkan pa­da persoalan minimnya pelatihan digital marketing terhadap pelaku produk-produk UMKM di nagari tersebut.

Satuan Tugas (Satgas) NCH Nagari Pangian, Zilnovita Zainal mengungkapkan, Nagari Pangian merupakan nagari ketiga yang launching NCH.  Di nagari ini, NCH dilengkapi fasilitas internet gratis dan bangunan yang terdiri dari Medan Balinduang, Lapau Nagari dan Teras Nagari. Sementara, untuk Medan Nan Bapaneh yang menjadi panggung pertunjukan budaya dan seni fasilitas bangunannya belum ada.

Khusus fasilitas ba­ngunan Lapau Nagari, dimanfaatkan untuk tempat menjual produk-produk unggulan UMKM asal Pangian secara online. Aktifitas jualan produk UMKM ini terang Zilnovita, sudah mulai berjalan.

“Sudah mulai jual beli. Produk UMKM nagari ini banyak. Namun, yang masuk untuk jualan online baru ada enam produk, yakni sambal lado khas Pangian, rendang baluik, minuman kesehatan dari bahan serei lemon dan jahe dan kripik pisang. Juga ada produk kriya seperti deta dan tas kampih sirih serta kerajinan hasil rajutan karya Ibu-ibu Pangian,” terang Zilnovita kemarin.

Meski sudah ada enam produk UMKM yang sudah masuk market online, namun omsetnya masih ren­dah. Diakui Zilnovita dalam memasarkan produk secara online dihadapkan berbagai kendala. “Karena produk UMKM banyak ku­liner, kita terkendala makanan yang dijual kedaluwarsanya cepat. Seperti kuliner sambal lado yang perlu dilakukan kajian tek­nologi pengawetan, a­gar bisa bertahan lama,” terangnya.

Kendala lainnya, untuk memasarkan produk de­ngan live secara online pelaku UMKM masih perlu banyak belajar lagi. Se­karang ini jualan online, pelaku UMKM di Nagari Pangian dibina oleh mahasiswa KKN.

Baca Juga  Pengembangan UMK menjadi Prioritas Program TJSL PLN

“Selama ini learning by doing. Kita belum mendapat pelatihan penuh. Pelatihan selama ini kita tidak terlalu bisa. Sekarang ada Mahasiswa KKN dari UNP yang bantu cara penjualan live di TikTok. Kita juga ingin belajar bagaimana merespon jika ada pesanan. Cara mengirim produknya bagaimana? sistem pembayarannya bagaimana? Kalau sudah dibayar, ba­gaimana mengambil uangnya? Termasuk juga me­nyiapkan host yang menarik untuk jualan,” ung­kapnya.

Tidak hanya digital mar­­keting, produk UMKM Nagari Pangian juga terkendala pengurusan label halal. Padahal, label halal ini sangat penting untuk masuk di pasar online.  Meski jualan secara online masih terbatas, namun diakui Zilnovita melalui NCH penjualan produk UMKM secara offline justru ber­kembang pesat.

“Dengan jadi NCH, di nagari ini sekarang banyak event. Sehingga berdampak  banyak UMKM melakukan transaksi jualan UMKM secara offline saat event berlangsung. Produk UMKM kita juga banyak masuk took-toko kuliner. Seperti, minuman berbahan serei lemon dan jahe serta rending belut yang sudah masuk ke salah satu toko kuliner terkemuka di Sumatera Barat (Sumbar),” ungkapnya.

Perhatian OPD Pemprov Sumbar Minim

NCH ini program unggulan Pemprov Sumbar. Program ini melibatkan 21 Organisasi Perangkat Da­erah (OPD) Pemprov Sumbar. Namun, dalam rea­lisasinya di lapangan perhatian OPD Pemprov Sumbar ini sangat minim.

Zilnovita mengungkapkan, sejak NCH dilaunching di Nagari Pangian. Baru tiga OPD Pemprov Sumbar yang turun langsung dan melakukan pendampingan ke Nagari Pangian. Tiga OPD tersebut yakni, Dinas Pemberdayaan Ma­sya­rakat Desa (PMD), Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik (Kominfotik) dan Dinas Kebudayaan.

Baca Juga  AHM Bagikan Tips Berkendara Jarak Jauh

“Sudah ada tiga dinas yang datang. Seperti Dinas Kebudayaan Sumbar su­dah dua kali membuat kegiatan besar yang datangkan banyak orang. Ada juga kegiatan menggali nilai sejarah Panginan. Salah satunya makanan tradisional yang punah. Ada 54 makanan yang kita sediakan. Namun, Dinas Kebudayaan hanya minta, 20 sekian makanan. Makanan tersebut dipamerkan melalui kegiatan pameran,” terangnya.

Ketua KAN Nagari Pangian, Wirdani Engku Khatib Mudo mengungkapkan, sejak adanya NCH di Nagari Pangian, nilai adat seni dan budaya nagari ini yang telah punah dibangkitkan kembali. Seperti Silek Pangian, saat ini juga sudah diajarkan kembali oleh tuo silek kepada generasi mu­da sekarang. Termasuk juga ada pidato Bahasa Minang dan seni talempong pacik juga sudah dihidupkan kembali.

“Melalui NCH ini kita berharap agar adat, seni dan budaya yang telah hilang selama ini kembali muncul dan diturunkan kepada generasi muda saat ini,” terangnya.

Kepala Dinas PMD Sum­bar Yozarwardi Usama Putra mengatakan NCH dirancang sebagai ruang kolaborasi memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi nagari sekaligus mempercepat transformasi digital di tingkat desa.

“Nagari Creative Hub kami dorong menjadi ruang kolaborasi bagi ma­sya­rakat untuk mengembangkan UM­KM, melestarikan budaya, sekaligus me­ning­katkan kemampuan ge­nerasi muda dalam menghadapi ekonomi digital sehingga manfaat pemba­ngunan benar-benar di­rasakan hingga tingkat nagari,” ujar Yozarwardi Usama Putra.

Menurutnya, Pemprov Sumbar akan terus memperkuat pendampingan, meningkatkan kapasitas SDM, serta membuka akses pasar yang lebih luas agar produk unggulan nagari mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional. (fan)