METRO PADANG

Pemko Padang Siapkan Strategi Tangani Dampak Krisis Perubahan Iklim

×

Pemko Padang Siapkan Strategi Tangani Dampak Krisis Perubahan Iklim

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO–Pemko Padang memaparkan sejumlah strategi daerah tersebut dalam menangani dampak krisis perubahan iklim sejak beberapa tahun terakhir.

“KotaPadang telah aktif dalam upaya menangani krisis iklim dengan langkah-langkah nyata dan stra­tegis,” kata Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang Yosefriawan.

Hal tersebut disampaikan Yosefriawan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati 5 Juni setiap tahunnya.

Strategi tersebut yakni mengalokasikan lahan seluas 37.767 hektare (Ha) untuk kawasan lindung sebagai upaya melestarikan keanekaragaman hayati, dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Selanjutnya menyediakan ruang terbuka hijau dan membangun taman di setiap kecamatan. Bukan hanya memberikan ruang bagi warga Kota Padang untuk beraktivitas, tetapi juga meningkatkan kualitas udara dan menyerap emisi karbon di kota berjuluk Kota Bengkuang.

Baca Juga  Sambut 26 Tahun Kementerian BUMN, PT Semen Padang Gelar Pasar Murah, Mudik Gratis dan Bazar UMKM

Tidak hanya itu, dengan menetapkan lahan sawah yang dilindungi seluas 2.404 Ha, Pemerintah Kota Pa­dang berupaya untuk menjaga keberlanjutan pertanian dan memastikan pangan bagi masyarakat.

Langkah berikutnya pe­ne­­rapan program kam­pung­ iklim. Program ini membina lokasi-lokasi di  Kota Pa­dang dengan mengoptimalkan ko­munitas setempat un­tuk berpartisipasi dalam upa­ya adaptasi, dan mitigasi terhadap perubahan ik­lim.

“Mulai dari penanaman pohon, pengelolaan sampah, hingga pemanfaatan energi terbarukan,” kata Yosefriawan.

Pemko Padang juga telah menyediakan transportasi umum ramah ling­kungan. Penyediaan alat transportasi massal ini diharapkan dapat mengu­rangi penggu­naan kenda­raan pribadi yang ber­kon­tri­busi pada emisi gas rumah kaca.

Baca Juga  Rori Pasla Pimpin TLCI Chapter 28 Padang

Terakhir, pemerintah daerah menggalakkan gotong royong yang menekankan tiga prinsip utama yaitu serentak secara bersama satu bulan sekali, bersama keluarga, dan di pekarangan rumah masing-masing.

“Ini bukan sekadar gotong royong namun juga memberikan edukasi kepada generasi muda untuk mengolah sampah dengan baik agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan,” ujarnya.

Para generasi muda di­edu­kasi agar tidak memba­kar sampah, menanam tum­­bu­han di pekarangan rumah, membersihkan draina­se.(brm)