PADANG, METRO–KRI Kurau-856 melaksanakan kegiatan Pembinaan Teritorial/Pembinaan Potensi Maritim (Binter/Binpotmar) kepada masyarakat nelayan di perairan daerah operasi wilayah kerja Kodaeral II, Kamis (7/5). ”Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh prajurit KRI Kurau-856 di bawah pimpinan Mayor Laut (P) Indra Permana, S.S.T.Han. selaku PgS Komandan KRI Kurau-856, dengan sasaran masyarakat nelayan yang sedang melaksanakan aktivitas mencari nafkah di wilayah perairan operasi,” ungkap Kadispen Kodaeral II Letkol Laut (KH) Rizaldy ddiampingi PgS Komandan KRI Kurau Mayor Laut (P) Indra Permana S.S.T,Han kepada POSMETRO di lokasi Kamis (7/5).
Dijelaskan Rizaldy, dalam pelaksanaannya prajurit KRI Kurau-856 melaksanakan komunikasi sosial maritim secara langsung dan humanis melalui pembagian paket sembako kepada nelayan, pemberian imbauan keselamatan berlayar, sosialisasi kepedulian keamanan laut, penggalangan informasi potensi kerawanan laut, serta penyampaian pesan kehadiran TNI AL di tengah masyarakat maritim. ”Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial TNI AL kepada masyarakat pengguna laut, sekaligus sebagai upaya mempererat hubungan antara prajurit TNI AL dengan nelayan yang merupakan mitra strategis dalam menjaga keamanan wilayah perairan,” jelasnya.
Selain memberikan bantuan sosial, kata Rizaldy, prajurit KRI Kurau-856 juga mengimbau para nelayan agar senantiasa memperhatikan faktor keselamatan selama melaut, di antaranya penggunaan alat keselamatan, pengecekan kondisi mesin kapal, pemantauan cuaca, kelengkapan sarana komunikasi, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi laut. Pada kesempatan tersebut, masyarakat nelayan juga diajak untuk berperan aktif sebagai mata dan telinga TNI AL di laut dengan melaporkan apabila menemukan kejadian menonjol seperti kapal mencurigakan, aktivitas ilegal, kecelakaan laut, penyelundupan, pencemaran laut maupun potensi gangguan keamanan lainnya. ”Melalui kegiatan ini, prajurit KRI Kurau-856 turut menggali informasi awal terkait kondisi perairan sekitar, pola aktivitas kapal, daerah rawan, kendala operasional nelayan, serta berbagai potensi kerawanan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mendukung pelaksanaan operasi keamanan laut,” jelasnya. (ped)






