METRO SUMBAR

Keutamaan Tarawih di 10 Malam Terakhir Ramadan, Momentum Meraih Lailatul Qadar

×

Keutamaan Tarawih di 10 Malam Terakhir Ramadan, Momentum Meraih Lailatul Qadar

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI— Pelaksanaan Tarawih.

MEMASUKI sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk semakin me­ningkatkan kualitas ibadah. Pada periode ini, berbagai amalan seperti salat ma­lam, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa dianjurkan untuk lebih diperbanyak sebagai bentuk upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sepuluh malam terakhir Ramadan juga dikenal sebagai waktu yang sangat istimewa karena diyakini terdapat malam Lailatul Qadar. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mem­­perbanyak ibadah pa­da masa tersebut sebagai bentuk kesungguhan da­lam meraih keberkahan malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Dalam sejumlah kajian keislaman, keutamaan sa­lat Tarawih pada setiap malam Ramadan juga se­ring dibahas, termasuk pada sepuluh malam terakhir. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib RA pernah meriwayatkan penjelasan Rasulullah SAW mengenai keutamaan salat Tarawih dari malam pertama hingga malam ke-30.

Dalam riwayat tersebut dijelaskan berbagai ke­utamaan yang diperoleh bagi umat Islam yang me­laksanakan salat Tarawih. Misalnya, pada malam ke-20 disebutkan seseorang akan mendapatkan pahala seperti pahala para syuhada dan orang-orang saleh.

Sementara pada ma­lam ke-21, disebutkan Allah SWT akan membangunkan baginya sebuah istana dari cahaya di surga. Kemudian pada malam ke-22, orang yang menunaikan salat Tarawih disebut akan datang pada hari kiamat tanpa merasakan kesedihan.

Baca Juga  Pertemuan Khusus MTsN 6 Batusangkar

Riwayat tersebut juga menyebutkan pada malam ke-23 Allah membangunkan sebuah kota di surga bagi orang yang melaksanakan salat Tarawih. Sedangkan pada malam ke-24, disebutkan seseorang akan memperoleh 24 doa yang dikabulkan.

Selanjutnya pada ma­lam ke-25 disebutkan bahwa azab kubur akan dihapuskan. Pada malam ke-26, pahala yang diterima akan dilipatgandakan seperti pahala selama 40 ta­hun.

Keutamaan lain yang disebutkan adalah pada malam ke-27, seseorang akan melewati shirath secepat kilat. Sementara pa­da malam ke-28 disebutkan derajatnya akan diangkat hingga seribu tingkat di surga.

Kemudian pada malam ke-29, orang yang melaksanakan salat Tarawih disebut memperoleh pahala seperti seribu haji yang diterima. Sedangkan pada malam ke-30 disebutkan Allah SWT berfirman, “Wa­­hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air Salsabil, dan minumlah dari telaga Kautsar. Aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hamba-Ku.”

Namun demikian, se­jumlah ulama menyebutkan bahwa riwayat me­ngenai keutamaan salat Ta­rawih dari malam pertama hingga malam ke-30 tersebut memiliki status hadis dhaif atau lemah. Bahkan sebagian ulama juga menilai riwayat tersebut sebagai hadis maudhu atau palsu.

Baca Juga  2 Anggota Dewan PAW Resmi Dilantik, Formasi DPRD Agam Kembali Lengkap

Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan mem­perbanyak ibadah pa­da sepuluh malam terakhir Ramadan. Hal ini berkaitan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk mencari ma­lam Lailatul Qadar, khu­susnya pada malam-ma­lam ganjil.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan’.”

Salah satu amalan yang dianjurkan pada malam-malam tersebut adalah melaksanakan salat Tarawih. Salat ini merupakan ibadah sunnah yang dikerjakan pada malam hari sepanjang bulan Ramadan dan memiliki nilai keu­tamaan yang besar.

Terlebih lagi jika salat Tarawih dilakukan pada malam Lailatul Qadar, ma­ka pahala yang diperoleh sangatlah besar. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ibadah pada malam tersebut lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan.

Karena itu, ketika salat Tarawih dikerjakan dengan penuh keimanan, keikhlasan, serta kekhusyukan, seorang muslim memiliki peluang besar untuk me­raih pahala dan keberkahan dari Allah SWT pada sepuluh malam terakhir Ramadan. (*/rom)