JAKARTA, METRO–Upaya memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya kembali menguat. Sebanyak 11 delegasi Perkumpulan Bundo Kanduang DKI Jakarta melakukan audiensi dengan Komisi X DPR RI pada Selasa (15/4), guna mendorong pengembangan program Sekolah Adat Minang Rantau.
Pertemuan tersebut dipimpin Ketua Bundo Kanduang DKI, Rosita Medina, didampingi pembina Wesnina, dan diterima anggota Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta.
Dalam audiensi itu, delegasi memaparkan konsep Sekolah Adat Minang, yakni pendidikan nonformal berbasis nilai budaya Minangkabau yang menyasar generasi muda di perkotaan. Program ini hadir sebagai respons atas mulai pudarnya kedekatan generasi muda dengan akar budaya di kota-kota besar.
Menanggapi hal tersebut, Verrell Bramasta menyambut positif gagasan tersebut dan menilai program ini memiliki dampak strategis bagi pembentukan karakter generasi muda.
“Program seperti ini perlu didorong dan dikelola dengan sungguh-sungguh karena memiliki potensi besar dalam memperkuat karakter generasi muda,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, Komisi X DPR RI akan memfasilitasi pelaksanaan Seminar Adat Minang yang dijadwalkan pada 20 Juni 2026 di Gedung DPR RI, dengan target sekitar 500 peserta dari kalangan generasi muda Minangkabau di DKI Jakarta dan pengurus Bundo Kanduang.
Rosita Medina menjelaskan, seminar tersebut diharapkan menjadi wadah strategis untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai adat Minangkabau dalam konteks kekinian sekaligus memperkuat jejaring antar generasi.
“Dengan pendekatan ini, peserta tidak hanya memahami nilai adat secara teoritis, tetapi juga mengalaminya secara langsung melalui aktivitas seni dan budaya,” katanya.
Selain itu, dukungan juga diberikan dalam bentuk bantuan alat kesenian sebagai sarana pembelajaran berbasis praktik budaya. Menurut Rosita, Bundo Kanduang DKI memiliki modal kuat dalam mengembangkan program ini, mulai dari tokoh adat, akademisi, hingga jaringan organisasi perempuan yang solid.
“Kombinasi antara kekuatan budaya dan kapasitas intelektual ini menjadi modal utama agar Sekolah Adat Minang dapat berkembang sebagai model pendidikan alternatif yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Audiensi ini menjadi langkah awal sinergi antara komunitas adat dan lembaga negara dalam memperkuat pendidikan berbasis budaya. Dukungan DPR RI diharapkan membuka peluang agar program Sekolah Adat Minang dapat direplikasi di berbagai daerah.
“Di tengah dinamika global, nilai budaya bukan sesuatu yang usang, melainkan fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa,” pungkasnya. (rom)





