SOLOK, METRO—Ketua Yayasan Khalid Bin Walid Arosuka, Kabupaten Solok, Ustadz Dahril Masril menekankan pentingnya menumbuhkan sikap toleransi guna memperkokoh rasa persaudaraan dan persatuan di tengah masyarakat yang kaya akan keberagaman suku, agama, dan budaya.
Menurutnya, semua pihak terlebih tenaga pendidik maupun santri memiliki peran penting sebagai aktor kerukunan untuk menolak segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat memecah belah masyarakat.
“Dengan semangat kebersamaan tersebut diharapkan dapat mencegah berkembangnya paham-paham radikal dan intoleran yang dapat mengganggu stabilitas kamtibmas di wilayah Sumatra Barat (Sumbar),” kata Ustadz Dahril Masril, Rabu (27/5).
Menurutnya, menyebaran paham-paham intoleran, radikalisme, dan terorism tentunya bisa ditangkal dengan semangat bersama semua pihak. Terutama dalam membangun semangat cinta NKRI untuk tetap menjaga kesatuan dan persatuan di negeri ini.
“Kami selalu mengajak para jemaah maupun peserta didik untuk tegas menolak paham intoleran. radikalisme dan terosime. Paham-paham itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam,” ungkap dia.
Ustadz Dahrul Masril juga mengajak kaum muslimin dan masyarakat Sumbar untuk selalu bersama dan menjaga kebersamaan, persatuan dan kesatuan, serta menjaga bangsa dan negara ini dari hal-hal yang tidak menguntungkan dan membahayakan, seperti paham intoleran, terorisme dan radikalisme.
“Paham intoleran, terorisme dan radikalisme merupakan sesuatu yang tidak baik bagi bangsa dan negara ini. Paham seperti ini sangat dilarang agama kita. Saya mengajak umat Islam di Ranah Minang, agar selalu menjaga perjuangan bangsa dan negara ini, untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik,” tuturnya.
Ditegaskan Ustadz Dahrul Masril, tidak ada satu pun ajaran dalam Islam yang boleh menyakiti antar sesama, karena harus menjaga hubungan anta manusia dan antar agama ada aturannya. Jangankan menyakiti fisik, menyakiti perasaan dan menginjak martabat seseorang sangat dilarang dalam Islam.
“Di dalam Islam tidak layak seorang muslimin sejati mengucilkan atau memandang sebelah mata ajaran Rasullullah yang menebarkan kasih sayang. Ajaran Islam sangatlah sempurna, terutama yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia, di dalam Islam harus saling menghargai dan saling menyayangi, serta saling bertoleransi antar sesama,” ungkapnya.
Selaku pendakwah maupun pemimpin yayasan yang mengelola pondok pesantren, akan terus memberikan pembekalan soal wawasan kebangsaan sebagai upaya menumbuhkan rasa cinta pada tanah air yang belakangan agak terkikis terutama pada generasi Z dan Alfa.
“Pembekalan ini akan menambah pengetahuan santri terhadap wawasan kebangsaan. Dari situ integritas santri akan terbentuk, terutama juga untuk menumbuhkan perasaan cinta tanah air,” pungkasnya. (rgr)






