METRO PADANG

Pemko Perkuat Strategi Turunkan Angka Kemiskinan, Wako: Program OPD Jangan Berjalan Sendiri, Harus Terintegrasi TKPK

×

Pemko Perkuat Strategi Turunkan Angka Kemiskinan, Wako: Program OPD Jangan Berjalan Sendiri, Harus Terintegrasi TKPK

Sebarkan artikel ini
RAPAT TKPK— Wali Kota Padang Fadly Amran, Wakil Wali Kota Maigus Nasir menghadiri rapat Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kota Padang, di Ruang Abu Bakar Ja’ar, Balaikota Padang, Senin (8/9).

AIA PACAH, METRO —Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kota Padang, terus memperkuat langkah dalam upaya menekan angka kemiskinan, khususnya kemiskinan masyarakat di Ruang Abu Bakar Ja’ar, Balaikota Padang, Senin (8/9).

Rapat tersebut dihadiri Wali Kota Padang Fadly Amran, Wakil Wali Kota Maigus Nasir sekaligus Ketua TKPK. Selain itu juga ada juga Baznas, Balai Pelatihan Vokasi, dan sejumlah Orga­nisasi Perangkat Daerah (OPD).

Rapat ini menjadi momen untuk mengoptimalkan upaya penanggu­langan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025.

Menurut Maigus Nasir, langkah ini bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan di daerah dengan menyelaraskan berbagai kebijakan dan program antar-sektor.

“Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota diminta untuk menyusun serta melaksanakan program penghapusan kemiskinan ekstrem,” ujar Maigus.

Ia menjelaskan, fokus utama adalah mengurangi beban pengeluaran warga, meningkatkan pendapatan masyarakat melalui akses pekerjaan dan pelatihan, serta menekan kantong-kantong kemiskinan di wila­yah tertinggal.

Berdasarkan data terbaru, angka kemiskinan di Kota Padang menunjukkan tren positif. Pada tahun 2024, persentase penduduk miskin berada di angka 4,06 persen, atau menurun 0,11 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, untuk kemiskinan ekstrem, Kota Padang bahkan diklaim telah mencapai 0 persen. Meskipun demikian, masih ada sekitar 40.000 jiwa ma­sya­rakat berpenghasilan rendah (MBR) yang terdata.

Pro­gram-program yang disusun pemerintah me­nargetkan graduasi atau pelepasan masya­ra­kat dari status kemiskinan.

Baca Juga  Terlalu Sibuk Soal Pindah Ibu Kota, Andre Minta Jokowi Fokus Tangani Papua

Kriteria graduasi meliputi peningkatan pendapatan, jaminan pendidikan dan kesehatan, perumahan layak huni, kepemilikan aset produktif, serta kemandirian dari bantuan sosial.

“Kondisi sebelum graduasi adalah pendapatan tidak tetap di bawah UMK, anak putus sekolah, atau rumah tidak layak huni,” jelas Maigus.

“Setelah graduasi, me­reka diharapkan memiliki pendapatan tetap di atas UMK, anak-anak berse­kolah, serta memiliki aset produktif seperti wa­rung atau sawah,” sambungnya.

Pemko Padang telah men­jalankan berbagai stra­­­tegi untuk mencapai tar­get tersebut. Untuk me­ngurangi beban pengeluaran, misalnya, Dinas Pendidikan dan Kebuda­yaan serta Dinas Perikanan dan Pangan mengalokasikan anggaran sekitar Rp19,6 miliar untuk program seperti pemberian seragam dan LKS gratis, bantuan beras, serta makanan bergizi untuk pelajar dan ibu hamil.

Sementara itu, untuk meningkatkan pendapatan, telah dianggarkan Rp1,5 miliar untuk peningkatan keterampilan ke­pe­mudaan.

Maigus Nasir menekankan pentingnya fleksibilitas dalam penggu­naan anggaran. Ia meminta Baznas untuk segera melakukan verifikasi dan mengalihkan program yang sudah diambil alih oleh APBD, seperti beasiswa, ke program produktif lain seperti pemberian modal kerja.

“Presiden sudah sangat fleksibel dalam hal ini karena ada perubahan kebijakan. Kami minta Baznas segera mengubah rencana kerjanya agar bisa diprogramkan untuk penanggulangan kemiskinan dalam bentuk lapangan kerja atau modal kerja,” kata Maigus.

Baca Juga  Anggota Dewan Melancong lagi 7 Hari, Kasus Covid-19 Melonjak tak Berpengaruh, Syafrial Kani: Anggota DPRD Belajar Penyelesaian Ranperda

Tak hanya itu, menanggapi arahan dari Menteri Dalam Negeri, pemerintah juga akan memperbanyak kegiatan pasar murah.

Rencananya, pasar mu­rah ini akan dilengkapi de­ngan sistem voucher khu­sus untuk MBR, agar bantuan lebih tepat sasaran. “Kami punya usul, voucher ini dikhususkan untuk masyarakat miskin, apakah dia yang terdata di DTSN atau MBR,” ungkap Maigus.

Ia menambahkan, sis­tem ini diharapkan dapat dikelola melalui masjid-masjid agar lebih terkontrol.

Pentingnya Perenca­naan dan Sinkronisasi Data

Semenara itu, Wali Ko­ta Fadly Amran menyoroti pentingnya perencanaan dan data yang akurat. Ia berharap program yang dijalankan OPD tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi melalui koordinasi TKPK.

“Kalau kita lihat dari instruksi Presiden sudah je­las, sasaran dan strategi. Sebenarnya kita tinggal mengikuti apa yang sudah men­jadi arahan,” kata Fa­dly.

Ia juga menyoroti tantangan dalam mencapai target graduasi yang telah ditetapkan pemerintah pusat, yakni sebanyak 4.079 jiwa pada 2025.

“Ini yang perlu kita dalami. Siapa yang bertanggung jawab? Program itu menyasar siapa? Apakah yang 4.000 ini atau tidak?” katanya.

Fadly Amran menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinkronisasi data dan perencanaan yang ma­tang.

“Tanpa itu, kalau misalnya Dinas Sosial menja­lankan programnya sendiri, Dinas Perdagangan sen­­diri, akhirnya tidak sinkron. Itulah mengapa TKPK sa­ngat penting,” tegasnya. (ren)