Menu

Waspadai Hewan Kurban Berpenyakit, Pengurus Masjid Lebih Hati-hati Bagikan Daging Sapi

  Dibaca : 133 kali
Waspadai Hewan Kurban Berpenyakit, Pengurus Masjid Lebih Hati-hati Bagikan Daging Sapi
Syahrial Kamat Kepala Dinas Pertanian Kota Padang

SUNGAI LAREH, METRO–Hari Raya Idul Adha identik dengan hewan kur­ban, mulai dari pemo­to­ngan sampai pembagian da­ging. Mengingat ba­nyak­­nya penyakit zoonosis yang berasal dari he­wan, Bidang Kesehatan He­wan dan Kesmaves (Ke­­se­hatan Masyarakat Ve­teriner) mengimbau se­mua pengurus masjid dan mushalla se-Kota Padang agar tidak membagikan organ hewan kurban yang terkontaminasi penyakit kepada masyarakat.

Bahkan lebih dari pada itu, pengurus masjid dan mushalla juga dilarang menyembelih hewan kur­ban yang tidak sehat dan mengeluar darah pada sa­lah satu lubang pada tu­buh­nya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Syahrial Ka­mat didampingi Kabid Ke­se­hatan Hewan dan Kes­maves, drh. Sovia, menga­takan ada banyak potensi penyakit yang perlu diwas­padai ada pada hewan kurban. Seperti sapi ca­cingan atau sapi yang ter­kena virus antrak.

Ia menjelaskan, untuk sapi yang cacingan, bia­sanya ditandai dengan bulu yang kusut, mata ko­tor dan tidak ceria atau dia­re. Biasanya, pada ba­gian organ dalam sapi, seperti hati, terdapat ca­cing-ca­cing atau bolong-bo­long.

Jika sudah demikian, maka organ tersebut tidak boleh lagi dibagikan se­bagai daging kurban. Ka­rena mengandung pe­nya­kit. “Kalau hati sapinya ber­lubang atau bercacing, harus dibuang. Jangan dibagikan juga kepada ma­s­yarakat sebagai daging kurban. Karena itu pasti mengandung penyakit dan membahayakan jika dikon­sumsi,” sebut drh. Sovia.

Kasus organ sapi  ber­cacing ini, kata dia, sering ditemui setiap hari raya kurban. Semua pengurus masjid dan mushalla yang terlibat dalam pemo­tongan, harus sepakat un­tuk tidak membagikan ba­gian tersebut kepada mas­yarakat.

Begitu juga pada sapi yang sebelum disembelih terlihat mengeluarkan da­rah pada salah satu lubang pada tubuhnya. Seperti hidung, mulut,  telinga, atau anusnya.

“Meski darahnya ha­nya pada satu titik saja, ciri-ciri fisik tersebut sudah cukup meng­indenti­fikasi­kan bahwa sapi yang ber­sangkutan berpenyakit dan  berkemungkinan ter­kena penyakit antrak,” jelas dokter hewan ini.

Apalagi saat ini, pered­aran sapi kurban tak hanya didatangkan sari Sumbar saja, tapi juga dari daerah-daerah luar. Seperti NTT, Lampung dan lainnya. Se­hing­ga sangat memung­kin­kan sapi-sapi yang dida­tang­kan dari luar itu ber­penyakit.

“Kalau di Sumbar, me­mang bukan daerah en­demis penyakit zonosis se­perti antrak. Tapi asal sapi kurban sekarang banyak dari luar. Jadi harus diwas­padai,” tandas Sovia.

Bagi  masyarakat atau pengurus masjid dan mu­shalla yang menemukan adanya indimasi mencu­rigakan pada hewan kur­ban mereka bisa meng­hubungi petugas Keswan Dinas Pertanian di nomorn 081266237927 atau lang­sung ke Kepala Dinas Per­ta­nian Padang, Syahrial Ka­mat dengan nomor 08126626226.

“Nanti petugas akan langsung turun memeriksa hewan yang bersangkutan. Sebelum petugas turun memeriksa, penyem­beli­han harus ditunda,” pung­kasnya. (tin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional