Menu

Waspadai Fenomena Equinox , Bila Langit Gelap, Hindari Daerah Terbuka

  Dibaca : 917 kali
Waspadai Fenomena Equinox , Bila Langit Gelap, Hindari Daerah Terbuka
Ilustrasi Langit Gelap

SUDIRMAN, METRO – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu udara di wilayah Sumbar, mencapai suhu 34 derajat celcius menjelang puncak musim kemarau pada Oktober 2019. Potensi peningkatan suhu udara di Sumbar ini mulai sangat terasa selama dua pekan terakhir karena posisi matahati berada di ekuator, dan mulai berlahan bergerak ke arah selatan.

”Posisi suhu udara di Sumbar saat fenomena equinox atau hari tanpa bayangan akan meningkat rata-rata mencapai 32 derajat sampai 34 derajat celcius. Sehingga penguapan semakin cepat terjadi akibatnya hujan ringan hingga sedang di beberapa titik,” kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau Padang Pariaman, Yudha Nugraha, Rabu (27/3) saat dihubungi.

Terkait suhu udara dalam beberapa hari terakhir ini mencapai 32 derajat Celsius, Yudha mengatakan, ada kaitannya dengan fenomena Equinox. Dimana, posisi matahari berada tepat di garis khatulistiwa akibatnya suhu udara meningkat seperti yang dirasakan masyarakat Sumbar saat ini.

Pada kondisi seperti itu, kata Yudha, apabila matahari sudah bergerak ke arah selatan akan berdampak meningkatnya suhu udara di Sumbar. Sebab akhir September hingga November merupakan puncak musim kemarau di Sumbar ditandai dengan mulai meningkatnya suhu udara di beberapa daerah di Sumbar.

”Bahkan, menjelang puncak musim kemarau akan diikuti dengan meningkatnya temperatur udara yang sangat tinggi di Sumbar, seperti Kota Padang,” ujar Yudha.

Yudha menjelaskan, peristiwa equinox dapat mempengaruhi pola iklim dan cuaca di Sumbar. Suhu udara yang tinggi merupakan pengaruh dari equinox. Karena radiasi matahari semakin besar saat berada di khatulistiwa. Matahari berada pada posisi terdekat dengan bumi karena itu bumi akan menerima radiasi yang lebih tinggi dari kondisi biasanya.

”Hal ini juga dapat memicu hujan lebat karena bisa meningkatkan jumlah penguapan sehingga hujan lebih banyak terjadi dan temperatur bumi bisa sedikit lebih tinggi dari normal,” ujar Yudha.

Dalam setahun, sambung Yudha, Equinox bisa terjadi dua kali yakni, Maret dan September. Sementara pada September, biasanya terjadi antara di tanggal 22, 23 dan 24. Dia menyebut, BMKG sebelumnya sudah memprediksi hujan dan mendung akan terjadi di beberapa daerah di Sumbar.

Selain fenomena equinox, lanjut Yudha, suhu udara meningkat juga dipengaruhi peralihan musim dari puncak hujan pertama ke puncak hujan kedua yaitu, bulan April-Mei nanti. Karakteristik musim peralihan itu secara umum kondisi cuaca cerah berawan, namun terdapat anomali cuaca satu atau dua hari dengan kondisi hujan.

”Berdasarkan pola iklimnya, saat ini juga termasuk dalam musim peralihan. Sehingga pada siang hari cuaca cenderung terik dan penguapan terus terjadi selama siang hari. Lalu, menjelang malam hingga dini hari mulai terbentuk awan-awan hujan dengan disertai petir/kilat dan juga angin kencang,” sebut Yudha.

Terakhir, Yudha menyarankan, kepada masyarakat agar waspada apabila kondisi langit berubah menjadi gelap. Segera hindari daerah terbuka karena berpotensi menjadi tempat sambaran petir. Selain itu waspadai terjadinya angin kencang yang dapat menumbangkan baliho dan pepohonan lapuk dalam dua hari ke depan. (mil)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional