Menu

Warga Menjerit Solar Langka, Beli Pakai Jeriken, Nyogok Dulu Rp50 Ribu

  Dibaca : 501 kali
Warga Menjerit Solar Langka, Beli Pakai Jeriken,  Nyogok Dulu Rp50 Ribu
MENANTI GILIRAN— Antrean mobil, truk kampas, minibus travel hingga Trans Padang saat menanti giliran mendapatkan solar di SPBU Khatib, beberapa waktu lalu. (romi rahmad/posmetro)

BYPASS, METRO – Efek solar langka semakin mengkhawatirkan. Saat ini untuk mendapatkan solar, warga harus menyogok oknum petugas SPBU, sehingga diprioritaskan mendapat Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut.

“Makin susah sekarang, beli solar saja pakai jeriken, harus disogok Rp50 ribu per jeriken,” sebut Asnul, salah seorang warga yang membeli solar, Selasa (19/11).

Ia mengatakan, untuk menghidupkan alat berat, dirinya harus menyediakan solar. Dalam kondisi normal, Asnul mengaku membeli solar dengan jeriken. Satu jerikennya seberat 35 liter. Kini untuk mendapatkan solar, ia harus menyediakan uang Rp50 ribu dan diberikan kepada oknum petugas di SPBU.

Selain itu, waktu pembelian pun terbatas. Ia membeli solar harus pada dinihari WIB, atau sekitar pukul 02.00 dinihari.

“Kalau tidak jam 02.00 dinihari, tak bisa dapat solar. Itu pun harus disogok,” kata warga Bypass ini. Asnul berharap kelangkaan solar bisa cepat diatasi.

Warga lainnya, Deni (40) mengatakan agar mendapatkan solar yang cukup di tengah kelangkaan BBM, dia terpaksa mensiasati dengan meminjam truk temannya dengan tangki minyak. Dengan itu, mampu memuat BBM hampir 1 drum.

Hal ini dilakukan agar kebutuhan solar dapat terpenuhi. Soalnya, untuk sekali antre membeli solar, dirinya harus butuh waktu lama karena antrean kendaraan panjang sekali.

Kepala Bagian Perekonomian Pemko Padang Swesti Fanloni, mengatakan tak hanya warga yang terimbas kelangkaaan BBM, tapi juga Pemko Padang yang memiliki UPT khusus yang mengelola bus Trans Padang dengan bahan bakar solar.

Akibat kelangkaan ini, bus Trans Padang sulit beroperasi serta pendapatannya menurun. Sebelumnya, kata Swesti, Wali Kota Padang Mahyeldi telah menyurati Pertamina terkait kelangkaan ini. Hingga kini OPD terkait di lingkungan Pemko Padang terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk mencarikan solusi untuk mengatasi kelangkaan tersebut.

Seperti diletahui, Pemprov Sumbar pun sudah geram atas kondisi BBM yang berlarut-larut tersebut. Sebab, sulitnya BBM akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Tak ingin persoalan ini berlarut-larut, pemprov pun melayangkan surat kepada pihak Pertamina.

Sekda Sumbar Alwis dalam keterangan persnya, beberapa waktu lalu menyebut, surat ini menindaklanjuti kerisauan masyarakat atas kesulitan BBM. Surat pemprov tersebut dikirimkan ke Pertamina melalui Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar. Isinya agar Pertamina memenuhi kuota BBM agar tidak lagi langka di pasaran.

“Kami berharap Pertamina dapat segera menindak lanjuti kelangkaan BBM. Antrean di SPBU ini juga membuat jalan macet. Ini menganggu kelanjaran arus lalu lintas,” sebut Alwis.

Selain itu, Alwis juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan jangan sampai memborong kebutuhan BBM berulang-ulang ke SPBU. Masyarakat diharap memakai BBM sesuai kebutuhan kendaraan, sehingga antrean panjang bisa diminimalisir.

Sementara Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I, Roby Hervindo, mengatakan antrean di SPBU karena konsumsi BBM jenis solar sedang meningkat. Hal ini dipicu kendaraan industri yang tidak sepatutnya pakai solar bersubsidi ikut terlibat membeli.

Kondisi di lapangan, ketika operator SPBU mengingatkan sopir truk industri, mereka malah mendapat perlawanan. Sesuai temuan BPH Migas, menurut Roby, BBM jenis solar di Sumbar banyak digunakan oleh kendaraan industri. Hal ini jelas tidak sesuai peruntukan, karena menurut Perpres 1919 Tahun 2014, kendaraan industri tidak berhak menggunakan solar.

Namun faktanya, Pertamina sudah menyalurkan solar, bahkan melebihi kuota yang ditetapkan pemerintah. Hingga September 2019, total penyaluran mencapai 114 persen atau lebih banyak 14 persen dibandingkan kuota.

Sementara itu, Area Sales Branch Manager Pertamina Padang Arwin Nugraha mengatakan, ada 2 faktor utama yang menyebabkan kelangkaan solar. Yakni karena alokasi BBM solar untuk Sumbar tahun ini turun 9 persen dibandingkan 2018. “Sumbar hanya mendapat jatah kuota BBM solar sebesar 392 ribu kiloliter. Sementara penyaluran hingga 31 Oktober 2019 over 12 persen,” ujarnya.

Faktor kedua, kata dia, banyak konsumen truk industri yang membeli solar subsidi. Padahal dilarang menggunakan solar subsidi seperti yang telah dilarang dalam Perpres. “Dua faktor ini yang membuat solar langka,” pungkas Arwin. (tin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional