Close

Warga masih Bandel Kumpul di Warung

BUBARKAN WARGA— Jajaran Polsek Tapan, Polres Pesisir Selatan, bersama Camat Ranah Ampek Hulu Tapan , MUI Tapan, dan Koramil, Sabtu (26/4) membubarkan warga yang masih berkumpul di warung-warung di malam hari.

PESSEL, METRO
Jajaran Polisi Sektor (Polsek) Tapan, Polres Pesisir Selatan, bersama Camat Ranah Ampek Hulu Tapan Mar Alamsyah, MUI Tapan, dan Koramil, Sabtu (26/4) kembali blusukan untuk memastikan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berjalan dengan baik. Sayangnya, PSBB sudah diberlakukan, namun masih banyak warga yang bandel dan mengacuhkan imbauan pemerintah.

Pada saat kegiatan malam itu, Kapolsek Tapan dan Camat mendapatkan beberapa oknum warga yang masih bandel, duduk di warung-warung. Dalam warung itu, terdapat lebih dari lima orang dan duduk bersantai.

”Kita imbau pada mereka untuk bubar, sambil memberikan himbuan tentang pemberlakukan PSBB di seluruh kecamatan, di Kabupaten Pesisir Selatan,” tegas Kapolsek Tapan AKP. Raflen.

Dikatakan Raflen, dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus covid -19, di wilayah hukum Polsek Tapan, Polres Pesisir Selatan bersama Forkompimca akan terus melakukan kegiatan tersebut di wilayah nya.

Dia meminta kepada seluruh masyarakat di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan dan Kecamatan Basa Ampek  Balai Tapan, agar bisa mematuhi aturan selama pemberlakuan PSBB. ”Kita bersama Kapolsek, serta anggota Koramil turun hari ini melaksanakan imbauan dan sosialisasi PSBB,” tegas Camat Mar Alamsyah.

Menurut Camat, kegiatan ini dimaksudkan agar seluruh warga di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan memahami apa itu PSBB, karena PSBB sebagai bentuk untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 serta untuk memutus mata rantai Covid-19.

Selain itu, sebagai salah satu Kecamatan yang berada di garis terdepan berpatasan langsung dengan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, maka telah disiagakan Posko penanggulangan Covid-19, di batas Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan dan Kerinci.  ”Setiap mobil umum, maupun pribadi serta penguna kendaraan roda dua, dilakukan pemeriksaan suhu tubuh oleh petugas jaga di Posko,” terang Mar Alamsyah.

Adapun pelaksanaan PSBB tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 dan diturunkan secara rinci di Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Untuk diketahui, Pemerintah Provinsi Sumbar resmi menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 20 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam penanganan Covid-19 di Sumbar.

Setidaknya, ada tujuh poin penting dalam Pergub yang merujuk kepada aturan Kementerian Kesehatan yang harus ditaati masyarakat selama penerapan PSBB.

Di antaranya, pembatasan aktivitas keluar rumah, pembatasan pelaksanaan pembelajaran di sekolah dan atau institusi pendidikan. Pembatasan aktivitas bekerja.

Khitan diperbolehkan dengan ketentuan dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan, dihadiri oleh kalangan terbatas.

Kemudian, pembatasan kegiatan keagamaan di rumah ibadah, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial dan budaya, dan pembatasan penggunaan moda transportasi untuk pergerakan orang dan barang.

Meski begitu, ada kegiatan tertentu yang tetap beroperasi dan berjalan selama PSBB. Misalnya fasilitas pelayanan kesehatan, kegiatan lain yang berkaitan dengan aspek pertahanan keamanan dan aktivitas gugus tugas pusat, provinsi, hingga kabupaten dan kota.

Selain itu juga kegiatan yang bisa dilaksanakan dengan pengecualian atau sesuai ketentuan yakni khitanan, pernikahan dan pemakaman dan atau takziah kematian yang bukan karena Covid-19. Kegiatan dibolehkah ini masuk dengan dalam poin pembatasan kegiatan sosial dan budaya yang dibolehkan dengan ketentuan.

Khitan diperbolehkan dengan ketentuan dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan, dihadiri oleh kalangan terbatas. Hanya boleh dihadiri keluarga inti dan menggunakan masker dan dilarang menggelar perayaan yang mengundang keramaian.

Kemudian, kegiatan pernikahan dilakukan di KUA atau di Kantor Catatan Sipil dan hanya boleh dihadiri kalangan terbatas yakni keluarga inti. Selama proses pernikahan wajib menggunakan masker. Kemudian, dilarang menggelar resepsi pernikahan yang mengundang keramaian dan menjaga jarak antar pihak yang hadir (physical distancing) paling sedikit dalam rentang 1 satu meter.

Selanjutnya, kegiatan pemakaman atau takziah kematian yang bukan karena Covid-19 boleh dilakuan di rumah duka. Namun, tetap dihadiri kalangan terbatas, yaitu keluarga inti, menggunakan masker dan menjaga jarak. (rio)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top