Close

Warga Kota Padang Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Cuaca Ekstrem La Nina

Ketua DPRD Kota Padang, Syafrial Kani.

SAWAHAN, METRO–Ketua DPRD Kota Padang, Syafrial Kani meminta kepada warga Kota Padang untuk me­ning­katkan kewaspadaan ter­hadap fenomena La Nina ter­khusus bagi warga yang tinggal di wilayah rawan longsor dan memiliki curah hujan tinggi. Fenomena La Nina akan ber­dam­pak pada penambahan curah hujan yang cukup eks­trem pada wilayah yang rawan longsor dan banjir.

“Maka dari itu kami meng­imbau kepada warga yang ting­gal di daerah rawan banjir dan longsor  tersebut untuk selalu waspada agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Warga jangan lengah ten­tang situasi cuaca yang seketika badai disertai hujan deras datang dan panas kembali. Namun mesti siaga,” ujar Syafrial Kani, Rabu (10/11).

Ia mengatakan, kesia­gaan warga harus diba­rengi dengan mengaman­kan peralatan rumah ke lokasi aman jika tinggal di lokasi rendah atau rawan banjir. Apabila menetap di ketinggian atau bukit, an­caman longsor harus di­waspadai.

Warga juga harus pro aktif dalam hal cuaca ekstrem ini. Sebab dampak dan akibatnya juga warga yang merasakan nanti. Ia meminta, warga menjalin koordinasi dengan pihak kelurahan, RW dan RT jika terkena musibah. Termasuk BPBD.

“Supaya pertolongan dapat dilakukan dan hal yang tidak diinginkan tak terjadi. Komunikasi harus dijalin, supaya silaturrahmi terjaga dan keharmonisan terlihat,” ucap kader Gerindra ini.

Kepada dinas terkait lanjutnya yakni BPBD, PUPR, diminta bergerak cepat dan turun menyelamatkan warga yang terkena bencana. Jangan dulu korban berjatuhan baru datang. “Jika ada bencana, bantuan juga harus diberikan secukupnya. Jika tak ada anggaran carikan solusi lain. Jangan biarkan warga koban bencana seng­sara,” ulasnya.

Ke depan, dalam merancang sebuah program seperti pembangunan drai­nase, embung, harus jelas alunya. Jangan asal jadi. Ini demi keselamatan warga dan mengurangi kerugian bila bencana datang.

Untuk diketahui sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan rilis di bulan Oktober terkait fenomena La Nina di wilayah Indonesia. Rilis ini didasarkan pada hasil monitoring atau deteksi dini pada suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Telah melewati ambang batas yaitu mengalami anomali pendinginan sebesar minus 0,63 pada dasarian ketiga September 2021 yang lalu.

Fenomena badai La Nina akan memasuki Indonesia pada November 2021 hingga Februari 2022, maka dari itu masyarakat diimbau untuk waspada menghadapi cuaca ekstrem

La Nina merupakan sebuah fenomena cuaca ekstrem yang ditandai dengan curah hujan tinggi. La Nina yang berarti ‘Gadis Kecil’ dalam bahasa Spanyol, terjadi karena temperatur permukaan laut selatan dan laut Pasifik di sekitar utara Australia, New Guinea, dan kepulauan Indonesia.

BMKG memprediksi La Nina tahun ini akan memiliki dampak yang relatif sama dengan tahun sebelumnya, dengan diikuti berbagai bencana hidrometeorologi secara tak tentu di sejumlah wilayah yang terdampak.

Pada La Nina 2020, dari hasil kajian BMKG menunjukkan curah hujan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia pada November, Desember, dan Januari terutama di daerah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali hingga NTT, Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan.

Peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20 hingga 70 persen dari ambang batas normal.

Dengan adanya potensi meningkatnya curah hujan pada periode musim hujan ini, maka BMKG mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat dipicu oleh curah hujan tinggi seperti longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung ataupun terjadinya badai tropis. (ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top