Menu

Warga Harapkan Perbaikan, Jalan Menuju Monumen Gempa Cumanak Rusak

  Dibaca : 131 kali
Warga Harapkan Perbaikan, Jalan Menuju Monumen Gempa Cumanak Rusak
MONUMEN GEMPA— Monumen gempa Cumanak 2019 kondisinya menunggu kedatangan wisatawan.

PDG.PARIAMAN, METRO
Ismael salah seorang saksi hidup gempa 30 September 2009 bercerita tentang kisah pilu saat musibah tersebut terjadi sekitar sebelas tahun yang lalu. Katanya, 30 September 2009 merupakan saksi sejarah memilukan bagi Sumatera Barat. Kebahagiaan seakan direnggut paksa oleh alam yang berguncang dan tanah yang melahap perkampungan.  Gempa dengan kekuatan 7,9 SR ini menjadi ajang penghabisan nyawa dengan mirisnya. Semua panik, semua menangis, semua teriris. Betapa mengerikannya alam pada saat itu.

“Namun di balik itu semua, ada kesan yang masih memilukan hingga kini belum terjawab yakni mengenang gempa Cumanak pemerintah membangun sebuah monumen. Tapi aksi jalan menuju monumen rusak, sehingga masyuarakat banyak tak mengetahui dengan jelas tentang sejarah gempa Cumanak. Karena apa, jalan untuk menuju lokasi rusak,” ujar Ismael, saksi gempa yang masih hidup yang juga menjabat sebagai Wali Korong Lubuk Laweh, Cumanak, Kapalo Koto kepada POSMETRO.

Dikatakan Ismael, bagaimana generasi muda kita mengenang peristiwa gempa di Cumanak yang begitu dasyat karena bukit yang terbelah. Sudah 11 tahun peristriwa itu terjadi, namun di sana di sini masih banyak kekurangan. Tapi yang jelas, semuanya kita berikan tugas ini kepada para pejabat nanti untuk menyikapi persoalan Cumanak. Agar monumen yang dibangun itu dapat dilihat oleh generasi pengurus kita. “Saya yakin, pejabat kita nantinya akan terbelalak matanya untuk menyikapi persoalan tersebut,” harap Ismael.

Dilanjut Ismael, jika dikenang kembali gempa itu, sungguh sangat dasyat. Tanah dan bukit yang menjadi tempat menarinya rerumputan dan bunga-bunga itu seakan hidup dan menelan banyak jiwa yang sedang istirahat dan berkumpul bersama sanak dan keluarga.  Tepatnya di Nagari Lubuk Laweh, Cumanak, Kapalokoto. Ketiga nagari tersebut diguncang gempa dan tanah longsor. Orang-orang yang selamat banyak kehilangan seorang yang dicintai, keluarga, sahabat dan harta. Banyak cerita yang dapat dituliskan dalam catatan buku kenangan buruk. Sangat banyak. Beberapa korban yang selamat bahkan masih ingat betapa suramnya kejadian yang berlangsung hanya dalam waktu dua menit saja.

“Pada saat itu pukul 17.13 WIB, gempa berguncang hebat, saya pikir itu cuman gempa saja. Ternyata ada longsor dan saya berlari ke belakang rumah. Pada saat saya berada di pintu dapur, rumah saya sudah tertimbun longsor begitupun dengan saya. Badan saya tertimbun sedalam leher bahkan kaki saya terjepit puing-puing bangunan. Saya berteriak untuk mencari pertolongan dalam ketakutan dan berharap ada yang menolong,” cerita Ismael.

Memang pada saat itu banyak kejadian yang susah untuk diutarakan. Mayat bergelimpangan, rumah-rumah tertimbun bagaikan kuburan rumah. Semua rata dengan tanah seperti gurun kesedihan. Kampung ini dikelilingi asap yang tebal. Terdengar suara-suara minta tolong dari kejauhan yang tidak tahu asalnya. Isak tangis keluar dari wajah Ismael. Pria kelahiran 1986 ini hanya menunggu pertolongan dari orang-orang. Bukannya pasrah, tetapi badan yang tertimbun itu tidak bisa digerakkan.

“Pada jam tujuh malam, perjuangan saya akhirnya terbalaskan. Suara minta tolong saya terdengar oleh orang-orang yang ada di kampung seberang. Dan mereka beramai-ramai berusaha membongkar dan menggali tanah-tanah untuk mengeluarkan saya dari timbunan longsor. Penggalian tanah itu cukup sulit dikarenakan banyak material bangunan yang menghalangi. Bahkan kaki saya terjepit dengan keras. Setelah penggalian itu sudah sampai pinggang saya, saya jadi bisa bernafas dengan leluasa. Tetapi hanya bisa sampai disitu dikarenakan sulitnya akses penggalian kebagian kaki karena terjepit puing-puing bangunan,“ lanjut Ismael.

Karena kondisi pada saat itu gelap dan hanya ditemani penerangan dari warga, maka Ismael tidak bisa ditolong bahkan dikeluarkan dari tumpukan tanah. Selama 18 jam, Ismael hanya ditemani warga yang berjaga dan sesekali diberi minuman agar bisa bertahan dalam cuaca dingin yang menusuk.

“Jam 11.00 WIB warga berhasil mengeluarkan saya dari tumpukan tanah secara total. Dengan kondisi yang memilukan, saya langsung dibawa ke Rumah Sakit Pariaman. Buruknya akses menuju jalan keluar desa karena hancurnya jalan dan sebagainya membuat saya dan warga susah untuk tiba di rumah sakit dengan cepat. Saya tiba di rumah sakit jam empat sore dan langsung dibawa ke IGD,” ujar pria yang sekarang menjabat sebagai Wali Korong Lubuk Laweh Jajaran.

Bukan hanya sampai disitu saja, Ismael bahkan mengalami kelumpuhan selama satu tahun akibat luka yang ada dikakinya karena terpahan material bangunan. Pengobatan selama di rumah sakit didapati Ismael dengan gratis.

Dengan kondisi dan masalah yang dihadapi Ismael ini, beliau tetap berjuang dan melanjutkan hidup dengan semangat serta menjadi pribadi yang lebih baik. Dan menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran dan kisah pilu yang tidak bisa dilupakan. Dan patut bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup. Selang 1 tahun setelah kejadian yang merenggut ribuan nyawa itu, Pemerintah Kabupaten Padangpariaman berinisatif untuk membangun monumen yang menjadi saksi sejarah bencana yang sangat memilukan.

Monumen gempa ini berupa patung-patung dan ukiran yang menggambarkan visual yang sedikit membuat bulu kuduk berdiri yaitu pengambaran mayat-mayat bergelimpangan tertimpa longsor dan material bangunan. Dibawah patung-patung itu terdapat tembok persegi dengan nama-nama korban gempa yang ditulis dalam prasasti. Pembangunan monumen gempa ini bukan hanya menjadi bukti kenangan oleh warga sekitar tetapi juga warga Sumatera Barat yang ingin bernostalgia kelam untuk kejadian yang tidak terlupakan ini.

Ismael yang sekarang menjabat sebagai Wali Korong Lubuk Laweh Jajaran mengatakan bahwa sekarang monumen tersebut sudah terlihat tidak terawat dan ditumbuhi oleh lumut yang menggorogoti beberapa sisi monumen. Walaupun begitu, masih ada masyarakat yang mengunjungi monumen ini bukan hanya dari warga Sumbar tetapi juga dari mancanegara.

Sulitnya akses karena jalan yang kian rusak, membuat pengunjung makin berkurang untuk datang ke monumen yang menjadi Maskot Gempa Sumbar 30 september 2009 ini. Padahal, pemandangan yang disuguhkan disepanjang jalan dari nagari Kapalokoto sampai Lubuk Laweh sangatlah indah. Dengan gunung tiga yang membentang diatas nagari Cumanak, membuat pemandangan yang menghubungkan tiga nagari ini terasa begitu indah dan asri. Disepanjang jalan kita akan ditemani oleh sungai yang mengalir dan ada bendungan yang sering dikunjungi wisatawan untuk menikmati keindahan sekitar.

“Dengan akses jalan yang susah ini saya berharap pemerintah lebih memperhatikan lagi. Karena sebagai tujuan tempat wisata, masyarakat awal yang mendiami nagari-nagari ini sudah mulai melakukan proses penggarapan pertanian, ladang, bahkan masih ada sawah-sawah yang menjadi ladang rejeki warga yang masih selamat setelah peristiwa gempa dan longsor tersebut,” tambah Ismael. (efa)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional