Menu

Warga Desa Rantih Keluhkan Jaringan Internet Lelet

  Dibaca : 92 kali
Warga Desa Rantih Keluhkan Jaringan Internet Lelet
M Edi Yusuf Kades Rantih

SAWAHLUNTO, METRO–Kepala Desa Rantih, Kecamatan Talawi, Sa­wah­lunto M Edi Yusuf ingin membangun jembatan penyeberangan sungai di perbatasan segitiga an­tara Desa Salak dengan Desa Rantih dan Desa Rantih dengan Desa Sik­a­lang, untuk mem­per­mu­dah akses transportasi ke desa wisata penghasil beras tersebut.

Namun, sekaran  Pem­des Rantih mengeluhkan soal leletnya jaringan in­ternet. Mereka minta Pem­ko memperkuat kapasitas jaringan yang ada se­hingga dapat membantu kelancaran komunikasi dan informasi baik bagi pemerintahan, masya­rakat, dan wisatawan.

Selain itu, Kades yang pernah menjabat pada periode 2009-2015 itu kini juga tengah memper­siap­kan tiga Ranperdes untuk mendukung implementasi peraturan-peraturan yang ada agar efektif dilak­sanakan ditingkat Desa Rantih. Hal itu terkait de­ngan peraturan tatakrama dan estetika sejalan de­ngan program Rantih se­ba­gai Desa Wisata. Kemu­dian Ranperdes Lubuk Larangan, dan Ranperdes Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Kami ingin bangun jembatan gantung yang bisa dilewati kendaran roda empat di segitiga perbatasan Desa Rantih dengan Desa Salak dan Desa Sikalang untuk mem­buka akses transportasi kedesa wisata Rantih me­lalui penyeberangan Ba­tang Ombilin. Selain itu sedang mempersiapkan lahirnya tiga Ranperdes tentang aturan tatakrama objek wisata, Ranperdes Lubuk Larangan dan Ran­perdes BUMDes. Insya­Allah langkah kearah itu sudah kami siapkan,” ujar Edi Yusuf  di Rantih, Kamis (15/7).

Didampingi Sekdes Ik­rar Mustaqim, Edi Yusuf mengutarakan, Desa Ran­tih dengan penduduk seki­tar 703 jiwa ini merupakan desa potensial di sektor pertanian dan pariwisata. Rata-rata penduduknya berprofesi sebagai pe­tani, dan kalangan mile­nialnya sudah banyak yang me­ngikuti pen­di­dikan ke jen­jang pergu­ruan tinggi, kelak me­reka-mereka ini­lah yang akan memba­ngun desa agar tidak ter­tinggal dari daerah lain.

Desa Rantih, seperti diuraikan, memiliki lahan potensial persawahan se­kitar 25 hektare dan la­dang atau perkebunan dengan luas sekitar 35 hektar. Selain potensi ini bisa dikembangkan untuk penguatan ekonomi war­ga di tengah pandemi saat ini, juga bisa dikelola untuk menjadikan Desa Rantih sebagai Desa Wisata yang sesungguhnya jika Pok­darwis Meranti yang dulu bernama Lembaga Desa Wisata Rantih mampu memanfaatkan potensi ini dengan baik, apalagi desa ini berada dibelahan su­ngai atau Batang Ombilin.

Bicara objek wisata tambah Ikrar, tentu Desa dan seluruh perangkatnya mendukung semua itu, termasuk tokoh masya­rakat dan kalangan pe­muda. Rantih memiliki dua objek air terjun yakni air terjun Bikan dan air terjun Tibarau yang akan mereka kembangkan bersama dan butuh dukungan serta binaan pemerintah daerah serta pihak lainnya seperti BUMN dan Pemerintah Pusat melalui Kemen­te­rian Pariwisata Dan Eko­nomi Kreatif.

Jika semua diserahkan ke desa anggaran tidak cukup, tetapi dalam men­dukung kegiatan sektor wisata selalu ada kebi­jakan untuk mealokasikan anggaran sekitar 0.75 per­sen setiap tahun yang sudah berjalan sejak 2016. Untuk diketahui saja, AB­PDes Rantih sangat ter­batas dengan anggaran Dana Desa (DD) sebesar Rp 900 juta dan ADD-nya sekitar Rp1,2 miliar.

“Meski demikian, ting­k­at kunjungan wisatawan ke Desa Rantih cukup menghibur. Jika sebelum pandemi Covid-19 rata-rata 300 orang perminggu, setelah pandemi menurun rata-rata 85 orang setiap pekannya dengan me­mungut tarif masuk ke objek wisata sebesar Rp 5000 per orang,” kata Ikrar. (*/pin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional