Menu

Warga dan Perantau Minang ‘Panas Hati’ Nasrul Abit Difitnah Keturunan PKI

  Dibaca : 312 kali
Warga dan Perantau Minang ‘Panas Hati’ Nasrul Abit Difitnah Keturunan PKI
BERSAMA ISTRI— Calon Gubernur Sumbar Nasrul Abit bersama istri Wartawati Nasrul Abit.

PADANG, METRO
Masyarakat dan perantau Minang geram Nasrul Abit difitnah sebagai keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI). Fitnah itu diterbitkan oleh situs berita Akurat.co pada Jumat (9/10). Pimpinan Umum Akurat.co, Afriadi, menghapus berita itu dan meminta maaf atas kesalahan redaksinya.

Tindaklanjut dari kesalahan redaksinya itu, Akurat.co juga sudah menayangkan hak jawab Tim Pemenangan Nasrul Abit-Indra Catri perihal fitnah yang sudah sempat ditayangkan oleh media online tersebut.

“Isu murahan. Bukan zamannya lagi. Kami tidak akan terpengaruh. Kami bukan orang bodoh. Panas hati saya mendengar isu seperti ini,” ujar Eri (48), warga Pasar Surantih, Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan, Rabu (21/10).

Menurutnya, fitnah murahan itu sengaja dibuat-buat untuk menjatuhkan Nasrul Abit dalam Pilkada Sumbar. Alasannya, isu itu mencuat pada masa pilkada.

“Sebelumnya tidak ada isu ini. Dulu ada ijazah palsu, tapi tak mempan. Ke depan entah isu apa lagi yang dibuat oleh lawan politik Pak Nasrul Abit,” katanya.

Senada dengan Eri, Ahmad Fitra (57), warga Tanjung Raya, Kabupaten Agam, tidak percaya bahwa Nasrul Abit keturunan PKI.

“Ah ndak mungkinlah. Kok baru sekarang dikatakan keturunan PKI? Setahu saya beliau dulu PNS di Lampung, kemudian Wakil Bupati Pesisir Selatan, lalu bupati dua periode, dan Wakil Gubernur Sumbar. Kalau PKI, mana bisa lulus semua itu. Maklum saja ini tahun politik,” katanya.

Perantau Sumbar juga tak menerima tuduhan tak berdasar terhadap Nasrul Abit itu. Sekjen Forum Komunikasi Perantau Pesisir Selatan, Agus Chaniago, menilai isu itu sebagai kampanye hitam. Menurutnya, isu itu sengaja dimainkan untuk mempengaruhi masyarakat karena masyarakat Sumbar sangat anti PKI.

“Kami berpikir logis saja. Kalau memang ayah Nasrul Abit terlibat PKI, kok bisa beliau jadi PNS? Ndak mungkin. Ngawur isu itu,” ucapnya.

Agus menegaskan bahwa makin banyak fitnah terhadap Nasrul Abit makin kuat tekad masyarakat dan perantau Sumbar untuk memenangkan NA-IC. “Kami tidak mudah termakan hoaks murahan yang disebarkan di media sosial itu. Berpolitik itu harus sportif. Nyalakan lampu sendiri. Lampu orang jangan dipadamkan,” tuturnya.

Doakan Pemfitnah Diampuni
Peribahasa semakin tinggi pohon, semakin lebat buahnya, semakin kencang angin menerpanya cocok untuk Nasrul Abit saat ini. Peribahasa itu cocok karena banyak isu miring yang menyerangnya beberapa waktu terakhir ini, antara lain, dituduh memakai ijazah palsu Nasrul Abit dan difitnah sebagai anak PKI.

Difitnah sebagai anak PKI merupakan isu miring terbaru yang menyerang Nasrul Abit. Tetapi, Nasrul Abit selalu membantah isu miring yang merundungnya. Tidak hanya membantah, ia menyertakan bukti dalam tiap bantahannya.

“Anak PKI dari mana?” kata calon Gubernur Sumatra Barat itu, Selasa (20/10).

Menurut Nasrul Abit, tuduhan dirinya anak PKI itu tidak masuk akal karena ia pegawai negeri sipil (PNS). Ia mengawali karirnya sebagai PNS di Lampung. Pada tahun 1970-an mustahil seorang yang punya garis keturunan PKI bisa lolos seleksi PNS karena masa itu adalah masa Orde Baru.

Selain itu, Nasrul Abit juga sudah lama menjadi datuk dengan gelar Datuak Malintang Panai. Oleh sebab itu, ia mengajak siapa pun agar tidak menyebar berita bohong, fitnah, dan ujaran kebencian. “Masyarakat sudah cerdas. Jangan lagi dicekoki dengan berita-berita fitnah seperti itu,” ujarnya.

Nasrul Abit menyampaikan bahwa saat ini merupakan waktu bagi peserta pilkada untuk menjual ide, mengadu gagasan, dan visi misi. Setelah itu, biarkan masyarakat yang menilai calon yang akan mereka pilih dalam pemungutan suara nanti.

“Saya tidak pernah memfitnah orang lain. Bahkan ketika diberitakan yang tidak-tidak, kadang-kadang saya diam saja,” ucapnya.

Secara pribadi, Nasrul Abit mengaku memaafkan orang-orang yang memfitnahnya. Ia juga mendoakan agar siapa saja yang menyebarkan berita bohong tentangnya diampuni dosanya oleh Allah. “Saya diajarkan agama oleh orang tua saya dan tidak boleh dendam. Saya doakan mereka diampuni Allah,” katanya.

Akurat Minta Maaf
Pimpinan Umum Akurat.co Afriadi, meminta maaf kepada calon Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, atas pemberitaan yang tidak memenuhi kaidah jurnalistik, bahkan cenderung bersifat fitnah. Berita yang dimaksud menyebutkan bahwa Nasrul merupakan anak keturunan PKI (Partai Komunis Indonesia). “Mohon maaf atas keteledoran anak redaksi,” tulis Afriadi melalui pesan singkat, Minggu (18/10) malam.

Dia menyatakan bahwa pihaknya telah menghapus berita yang ditayangkan pada Jumat (9/10) dengan judul “Salah Satu Cagub Sumbar Diisukan Keturunan PKI” itu tidak lama setelah naik tayang. Meskipun begitu, hingga saat ini berita tersebut masih bisa diakses melalui fitur Google AMP (Accelerated Mobile Pages).

“Ternyata (berita ini) masih ada di AMP Google. Anak IT telah koordinasi dengan Google agar berita bisa lenyap dari AMP,” tuturnya.

Afriandi juga mempersilakan Nasrul ataupun Tim Pemenangan NA-IC dalam Pilkada Sumbar untuk menulis hak jawab. Tulisan tersebut akan dimuat di Akurat.co sebagai klarifikasi atas pemberitaan sebelumnya.

Sekretaris Tim Pemenangan Nasrul Abit-Indra Catri, Hidayat, menyayangkan sikap redaksi Akurat.co yang tidak hati-hati dalam menjalankan fungsi jurnalistik. Ia mengatakan bahwa berita tentang keturunan PKI itu sangat merugikan karena sudah masuk dalam kategori pencemaran nama baik.

“Kita bisa saja mengadu ke Dewan Pers, bahkan ke polisi sekalipun karena berita ini bukan produk jurnalistik, tetapi sudah ada indikasi fitnahnya,” kata mantan wartawan yang kini menjadi anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Gerindra itu.

Menurut Hidayat, berita Akurat.co itu tidak memiliki narasumber. Penulisnya hanya membuat sumber berita berasal dari isu yang berkembang di masyarakat.

“Berita ini seperti opini recehan saja. Tidak ada sumber, tidak ada kutipan, tidak cover both side. Sayang sekali, padahal penulisnya tercatat sebagai redaktur pelaksana di media itu, seharusnya ia yang lebih mengerti soal kode etik jurnalistik,” kata dia.

Hidayat berharap hal serupa tidak kembali terulang. Ia juga berharap tidak ada lagi pembunuhan karakter seseorang melalui berita yang tidak berdasar, apalagi jika berita tersebut merupakan pesanan politik untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional