Close

Wanita Depresi Dikurung di Kamar Berjeruji Besi,Tangan Dirantai, Sering Menangis di daerah Jorong Lombok, Kabupaten Pa­sa­man Barat, Polisi langsung Beri Pertolongan

DIKURUNG— Kapolsek Lembah Melintang, AKP Aditya Lidarman saat mencek kondisi kondisi Butet yang dikurung oleh kakaknya lantaran mengalami depresi.

PASBAR, METRO–Diduga karena takut menganggu warga, seorang wanita paruh baya yang diduga mengalami depresi dikurung dalam kamar berterali besi oleh saudaranya di sebuah rumah daerah Jorong Lombok, Nagari Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pa­sa­man Barat.

Wanita berinisial S alias Butet berusia 50 tahun itu mengalami depresi lanta­ran bercerai dengan sua­mi­nya. Sejak mengalami de­presi itulah, Butet diurus oleh kakak kandungnya di rumahnya. S pun dikurung  oleh kakak kandungnya di tempat khusus yang mirip penjara.

Aksi pengurungan itu­pun akhirnya tesebar ke ma­syarakat hingga dilapor­kan ke Polsek Lembah Me­lintang dan langsung me­nin­daklanjutinya. Petugas ke­mudian mengeluarkan wanita itu dari dalam jeruji besi dan selanjutnya ber­koor­dinasi dengan Dinas Sosial untuk dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin, Padang.

Kapolsek Lembah Me­lin­tang, AKP Aditya Lidar­man mengatakan, pihak­nya bersama Wali Nagari Ujunggading, Kepala jo­rong Lombok dan pemuda serta koordinasi dengan Camat Lembah Melintang sudah men­da­tangi lokasi.

“Saat tiba di dalam ru­mah ditemukan seorang perempuan dalam kondisi tangan terikat rantai dan digembok. Diduga pe­rem­puan Inisial S  dikurung da­lam jeruji dan dirantai se­jak 4 hari yang lalu di ru­mah  M yang merupakan kakak kandung dari S ,” kata AKP Aditya Lidarman, Rabu (14/7).

Dijelaskannya, pihak­nya melakukan langkah persuasif terhadap ke­luarga korban untuk men­cari informasi mengenai kondisi sebenarnya yang dialami oleh S. Berda­sar­kan keterangan dari kakak kandung dari S, bahwa S mengalami stres dan peru­bahan perilaku setelah bercerai dengan suaminya yang sebelumnya mereka tinggal di Jakarta.

“Atas dasar itulahpihak keluarga akhirnya me­ngam­­bil langkah untuk me­la­kukan merantai dan me­ngu­rung S itu karena takut nanti S akan mengganggu warga apabila dibiarkan bebas. Memang, ketika kita ajak berko­mu­nikasi, S ter­lihat linglung, ka­dang ia nyam­bung kadang tidak nyam­bung,” ungkap Kapol­sek.

Dikatakan AKP Aditya Lidarman, atas inisiatif M sendiri dengan alasan ter­kendala biaya untuk pe­ngo­batan, maka M mem­buat­kan jeruji besi ber­ukuran 2×2 m untuk S di ru­mah tersebut karena takut mengganggu warga apa­bila keluar rumah, ter­lebih S pernah melempari ru­mah tetangga.

“Kita juga sudah laku­kan pemeriksaan terhadap S yang bekerja sama de­ngan dokter, dan dari hasil pemeriksaan dokter me­mang benar S mengalami gangguan jiwa. Kita sudah minta pihak keluarga untuk melepaskan rantai yang membelenggu tangan S,” ujarnya.

Solusinya, ditam­bahkan AKP Aditya Lidarman,  se­te­lah dilakukan peme­rik­saan oleh dokter, besok S akan dirujuk ke RSJ oleh Dinsos Pasbar dan didam­pingi pihak keluarga. Pihak­nya juga melakukan Koor­dinasi dengan Unsur Mus­pika sehubungan dengan kejadian tersebut untuk dapat di teruskan ke Dinas Sosial Kabupeten Pasa­man Barat.

“Rencananya akan di­an­tarkan ke RSJ oleh pihak dari Dinas Sosial dan di­dam­pingi oleh pihak ke­luar­ga untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik, agar pribadi S menda­pat­kan pengobatan dan pihak keluarga,” pungkasnya. (end)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top