Menu

Viral Video Bagi Kertas Swab dalam Bus Asal Sumbar, Perekam Video Dipanggil  Polisi

  Dibaca : 152 kali
Viral Video Bagi Kertas Swab dalam Bus Asal Sumbar, Perekam Video Dipanggil  Polisi
Viralnya video seorang perempuan menggunakan baju hazmad atau Alat Pelindung Diri (APD) membagikan lembaran hasil sweb kepada penumpang di dalam sebuah bus bertulisan Jurusan Jurusan Padang-Pariaman-Bukittinggi-Padang Pan¬jang-Payakumbuh akhirnya ditangani pihak Kepolisian Polres Lampung.

PADANG, METRO–Viralnya video seorang perempuan menggunakan baju hazmad atau Alat Pelindung Diri (APD) membagikan lembaran hasil sweb kepada penumpang di dalam sebuah bus bertulisan Jurusan  Jurusan Padang-Pariaman-Bukittinggi-Padang Pan­jang-Payakumbuh akhirnya ditangani pihak Kepolisian Polres Lampung.

Peristiwa teresebut ter­nyata diketahui terjadi di­se­buah are ajalan tol, te­patnya di KM 33 Rest Area Kalianda, Kecamatan Ka­lian­da, Kabupaten Lam­pung Selatan, pada Jumat 23 Juli 2021.

Video viral dengan n­a­ra­si ‘Jual Hasil Swab di Bus Harga Rp 90 Ribu’ itu viral sejak Senin (26.7) dan sem­pat membuat heboh warga net, khsusunya warga Su­ma­tra Barat.

Awalnya, dalam video tersebut belum diketahui dimana lokasi peristiwanya, namun adanya tulisan di kaca bus jurusan Padang-Pariaman-Bukittinggi-Padang Pan­jang-Payakumbuh.

Kabid Humas Kombes Pol Satake Bayu, Selasa (27/7), mengatakan sudah mengetahui dan sudah mendapatkan dan melihat video viral tersebut.

Dia membenarkan bah­wa bus yang ada dalam vi­deo itu memang berasal dari  Sumatra Barat, namun dia memastikan keja­dian­nya berada di luar Provinsi Sumbar.

“ Busnya memang be­ra­sal dari Sumbar, tapi ke­jadiannya bukan di Sum­bar. Kejadian dalam video itu di daerah Lam­pung Selatan. Di jalan tol. Kalau Sumbar kan tidak ada jalan tolnya. Saat ini ka­susnya sedang ditangani Polres Lampung” ung­kap­nya.

Dalam video itu, se­orang perempuan meng­guna­kan APD atau baju hazmad warna putih ter­lihat membagikan hasil tes swab kepada penumpang bus dengan harga Rp 90 ribu.

Belum adanya kete­rangan jelas terkait video tersebut saat itu, menimbulkan berbagai spekulasi dari warga net. Bahkan ada yang mengira itu adalah bisnis swab palsu. Akibat­nya berbagai tanggapan pun dituangkan dalam ko­lom komentar.

Dalam video berdurasi 13 menit, 12 detik itu, si  pe­tugas berdiri membela­kangi kaca depan bus sem­bari memanggil nama ma­sing-masing penumpang yang tertera dalam lembar hasil swab tersebut.

Tidak diketahui jumlah penumpang dalam bus ter­sebut. Namun dari ta­ya­ngan, bisa dilihat bahwa bus itu terisi penuh. Dari rekaman video, juga  tam­pak di kaca depan bus ter­tulis jurusan Padang-Paria­man-Bukittinggi-Padang Panjang-Payakumbuh.

Yang membuat aneh, ketika pembuat konten menanyakan siapa nama­nya, petugas perempuan itu tak bersedia menjawab.  Malah, ia memilih diam sambil melayani penum­pang lain.

Dalam rekaman itu juga terdengar beberapa kali­mat percakapakan antara pembuat video dengan perempuan tersebut.

“Bayar berapa itu, Bu? tanya pembuat video ini, “90 ribu, Pak,” jawab pe­rem­puan itu sembari me­nerima uang dari penum­pang yang membeli hasil swab palsu tersebut. “Itu di­kasih jangka waktu atau…? tanya sang pem­buat video kepada perem­puan itu lagi. “24 jam, Pak,” jawabnya.

Viral dan banyaknya spekulasi dari masyarakat dalam menanggapi video itu, pihak kepolisian pun akhirnya menindaklanjuti peristiwa itu. Setelah men­da­patkan identitas pem­buat video, Polres Lampung Selatan akan me­­la­kukan pemeriksaan ter­hadap sipembuat video.

“Nah ini yang sedang kita panggil. Ini kan warga Jambi nih, atas nama Khoi­roni. Kita mau panggil ke­napa seperti ini,” tutur Ka­polres Lampung Selatan AKBP Edwin dilansir dari Liputan6.com, Selasa (27/7).

Menurut Edwin, peme­rik­saan di lapangan me­nun­jukkan bahwa klinik Assalam Medical Centre 3 bekerjasama dengan Or­ga­nisasi Angkutan Darat (Or­ganda) dan pihak ter­kait lainnya memang mem­buka jasa pelayanan swab antigen Covid-19 di KM 33 Rest Area Kalianda dengan biaya Rp90 ribu.

“Kalau yang ber­sang­ku­tan menyatakan pada waktu itu ‘Pak saya tidak dilakukan rapid antigen, tidak dicolok hidung saya’, artinya kan yang bohong dari klinik itu. Sementara itu kita dapat keterangan dari klinik itu,” jelas dia.

Edwin memastikan, pi­hak­nya akan tetap mela­kukan pemeriksaan sesuai yang dibutuhkan penyidik. Hal tersebut demi menda­patkan informasi yang ber­imbang.”Sementara yang ada, yang kita temukan faktanya seperti itu,” Ed­win menandaskan.

Edwin menuturkan bah­wa peristiwa yang ter­jadi tidak sesuai dengan na­rasi yang disampaikan da­lam video yang viral ter­sebut. “Itu video sepo­tong,” tutur Edwin.

“Setiap penumpang yang telah dilakukan rapid test langsung naik ke atas bus menunggu hasilnya, dan setelah hasilnya ke­luar dan dibuatkan surat ke­terangan, petugas rapid mem­bagikan surat kete­rangan kepada para pe­num­pang yang nonreaktif atau negatif, sambil me­minta biaya pemeriksaan, dan apabila para penum­pang ditemukan ada yang reaktif atau positif, maka penumpang tersebut di­pang­gil dan diarahkan oleh petugas agar tidak me­lanjutkan perjalanan,” kata Edwin. (hsb)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional