Close

Viral Caleg Incumbent Gagal, Tarik Bantuan, Mevrizal: Jika Pokir, itu Pelanggaran

Ilustrasi Depresi

PADANG, METRO – Meski Pemilu 2019 telah berakhir, namun berbagai cerita tetap tinggal mewarnai Pemilu 2019 ini. Salah satu cerita tertinggal yang tengah viral saat ini adalah tentang calon legislatif alias caleg yang gagal tak terpilih.

Kecewa dengan kekalahan, mereka pun mengungkit-ungkit pemberiannya kepada masyarakat. Bahkan ada yang menarik kembali bantuan tersebut.

Di Limapuluh Kota misalnya, seorang caleg dari salah satu partai politik yang gagal pada pileg diduga menarik kembali sumbangan peralatan kongsi kematian hasil bantuan dana aspirasi. Sementara di Solok, sejumlah karpet untuk mushalla juga ditarik. Ungkapan rasa kekecewaan itu ditumpahkan caleg karena impian besar untuk duduk di parlemen kandas di tengah jalan.

Praktisi Hukum, Mevrizal memandang, sikap incumbent dengan menarik dana pokir yang telah diberikan kepada rakyat merupakan suatu yang memalukan. Maka wajar seorang incumbent tidak terpilih pada Pileg 2019 kemarin karena memiliki perilaku yang tidak elegan dengan cara ‘menyuap’ masyarakat dengan cara memberikan sesuatu berupa barang.

”Jadi perilaku caleg-caleg incumbent yang membayar atau menyerahkan sesuatu ke masyarakat untuk duduk di parlemen patut dicap sebagai predator politik karena telah merusak moral anak bangsa dan demokrasi, betapa bejatnya itu,” kata Mevrizal, Kamis (25/4).

Terlepas dari itu, Mevrizal menuturkan, bantuan dari calon legislatif ini juga perlu dilihat dari klarifikasinya. Apakah melalui bantuan pribadi atau bantuan sosial dari dana hibah sebagai anggota DPRD. Jika sebagai anggota dewan, menurut dia, maka mereka perlu menyalurkan hak masyarakat melalui dana aspirasinya.

”Kemudian kalau bantuan itu diminta (caleg incumbent) tentu mereka sudah sangat melanggar. Pertama, itu kewajibannya sebagai anggota dewan untuk penyalurkan aspirasi rakyat. Kedua, saat mereka meminta kembali dana pokir itu artinya sudah melanggar fungsinya sebagai anggota dewan, itu kan hak masyarakat,” ujar Mevrizal.

Jika ditelaah dari sisi agamanya, kata Mevrizal, berdasarkan hadist Imam Bukhari dikatakan, jika seseorang telah memberikan sesuatu kemudian ditarik kembali mereka sama seperti anjing yang mau menjilat air ludahnya kembali.

”Itu dari sisi agamanya, kalau dari sisi perundang-undangan, mereka (caleg incumbent) telah melanggar sumpah jabatannya sebagai anggota DPRD. Itu buktinya mereka menarik kembali dana aspirasi yang berasal dari APBD apa yang telah berikan ke masyarakat, ini sangat tidak dibenarkan,” ucap Mevrizal.

Mevrizal menyayangkan, perilaku caleg incumbent yang demikian ketika sudah kalah malah diminta kembali. Dia juga mendapat kabar bahwa ada caleg incumbet yang gagal kemudian menarik kembali bantuan tikar masjid. Kendati demikian, dia mengingatkan, kepada masyarakat jangan menjanjikan suara kepada caleg saat turun ke lokasi.

”Terkadang ada masyarakat ketika calon legislatif ini tamu ramah, masyarakat juga menjanjikan memberikan suara. Tapi ketika sudah nyoblos zonk saja suaranya. Jadi ada timbal baliknya, perilaku yang kurang baik antara pemilih dengan yang akan dipilih,” tukas Mevrizal. (mil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top