Close

Varietas Lampai Sirandah Diapresiasi FAO, Hasil Kerja Sama Pemkab Sijunjung dengan Batan

PADI VARIETAS UNGGUL— Varietas padi unggul Lanpai Sirandah hasil kerjasama Dinas Pertanian Sinjunjung dengan Batan, sehingga mendapatkan apresiasi dari FAO dan IAEA.

SIJUNJUNG, METRO–Kerjasama Pemkab Sijunjung melalui Dinas Pertanian sebagai upaya pe­muliaan tanaman varietas lokal dengan Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dalam menghasilkan varietas unggul Lampai Sirandah mendapat penghargaan dari lembaga internasio­nal Food and Agriculture Organization (FAO) dan International Atomic Energy Agency  (IAEA).

Penghargaan itu dibe­rikan salah satunya dengan keberhasilan BATAN pada pemuliaan tanaman bidang pertanian yang sebelumnya  bekerjasama dengan Pemkab Sijunjung. Melakukan pemuliaan varietas tanaman lokal deng­an menerapkan teknologi nuklir, sehingga melewati hasil sidang pengujian dari tim Pelepasan Varietas Tanaman Pangan (PVTP) oleh Kementrian Pertanian dan menetapkan jenis tanaman padi Lampai Sirandah sebagai varietas unggul.

Kini, pemuliaan Varietas Lampai Sirandah de­ngan memanfaatkan tek­nologi nuklir itu diapresiasi oleh lembaga internasional FAO/ IAEA, karena dinilai berhasil dan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Perbaikan varietas tanaman idealnya memakan waktu selama 7 tahun, namun Lampai Sirandah cukup dalam 4 ta­hun. Untuk diketahui, Ka­bupaten Sijunjung sebelumnya memiliki varietas padi yang dikenal sebagai Lampai Kuning. Jenis padi ini memiliki kelebihan dari segi rasa dan aroma khas pandan, serta warna nasi yang putih bersih. Lampai Kuning telah dibudidayakan masyarakat Sijunjung sejak dulunya.

Varietas ini memiliki sejumlah kekurangan se­perti rentan terhadap serangan hama, memiliki batang yang tinggi, mudah patah, umur panen lebih lama dan jumlah hasil panen yang sedikit sehingga secara ekonomi kurang menguntungkan bagi pe­tani lokal.

Melihat hal demikian, Pemkab Sijunjung melalui dinas pertanian menjalin kerjasama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dalam memanfaatkan riset teknologi nuklir dengan pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi terhadap varietas yang sebelumnya dikenal deng­an Lampai Kuning.

Melalui rekayasa genetik dan teknologi nuklir, tim berhasil membuang sifat-sifat buruk pada ta­naman setelah melakukan penelitian selama 4 tahun lebih, kemudian meluncurkan varietas dengan nama yang baru, Lampai Sirandah.

Sebelumnya Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yus­wir menargetkan kehadiran varietas Padi Lampai Sirandah memiliki prospek yang bagus, terutama dibidang pertanian dan pang­an di Sijunjung. “Kehadiran varietas unggul Lampai Sirandah diharapkan mampu mendorong sektor pembangunan da­erah dan masyarakat Ka­bupaten Sijunjung. Kita telah memiliki varietas unggul, sekarang bagaimana agar potensi ini memiliki prospek yang baik bagi masyarakat dan daerah, terutama pada  sektor pertanian kita,” tutur Benny.

Bupati Benny mengatakan, bahwa pertanian merupakan tulang punggung perekonomian ma­syarakat Sijunjung. Kondisi padi yang masih surplus setiap tahunnya akan jadi lebih baik dengan hadir­nya varietas unggul Lampai Sirandah.

Kadis Pertanian, Ir Ro­naldi menjelaskan, penghargaan dari FAO/ IAEA itu diberikan melalui ke­lompok pemuliaan tanaman bidang pertanian BATAN setelah melalui seleksi dan perjuangan bersaing dengan negara-negar lain hingga akhir­nya memenangkan award dari FAO/IAEA. Menjadi suatu prestasi untuk Indonesia di bidang aplikasi riset nuklir.

FAO merupakan organisasi pangan dan pertanian pada badan khusus Perserikatan Bangsa-Bang­sa (PBB) yang memim­pin upaya internasional untuk mengatasi persoalan pa­ngan, bertujuan untuk men­capai ketahanan pangan yang berkualitas. “Ber­kat riset dengan memanfaatkan teknologi nuklir itu menjadikan varietas Lampai Sirandah memiliki banyak keunggulan. Varietas ini menunjukan reaksi yang lebih baik dari induknya, terutama untuk hama dan penyakit, we­reng batang coklat, hawar daun bahteri, tungro ino­kolum dan blas,” jelas Ronaldi.

Selain tahan hama pe­nyakit, keunggulan Lampai Sirandah lainnya memiliki produktivitas yang cukup tinggi. “Hasil ubinan, mencapai 9 ton gabah kering tinggi (GKT),” jelas Ronaldi.

Selain itu, Varietas Lam­pai Sirandah memiliki batang tanaman yang lebih pendek dan tahan rebah. Berdasarkan hasil pengujian umur pa­nen lebih genjah diban­dingkan dengan varietas asal yaitu Lampai Kuniang.

Pada tahun 2019 kemarin, Dinas Pertanian melakukan persentasi dan sidang pengujian dari tim Pelepasan Varietas Tanaman Pangan (PVTP), Kementrian Pertanian. Me­nguji hasil penelitian yang dilakukan serta kelayakan varietas unggul untuk dilepas kepada masyarakat. Sidang pengujian itu dihadiri langsung oleh Bupati Yuswir Arifin, saat itu juga kementrian secara resmi menetapkan Lampai Si­randah sebagai varietas unggul milik Sijunjung.

“Itu semua setelah kita lakukan rekayasa genetik dan pemuliaan varietas dari Padi Lampai Kuniang menjadi Lampai Sirandah. Dari segi rasa dan aromanya sama seperti verietas Lampai Kuniang, memiliki aromatik dan rasa yang khas, serta harga jual beras yang lebih tinggi,” terang Ronaldi.

Varietas Lampai Sirandah ini berhasil di­perpendek masa ta­nam­nya yaitu dari 135 hari menjadi 105 hari, sementara tingginya dari 160cm dipangkas menjadi 104cm.

Sekarang, lanjut Ro­naldi, dinas pertanian te­ngah melakukan penyebaran bibit Lampai Sirandah untuk diperbanyak dan kemudian bisa segera disebar kepada masyarakat. “Setelah diperbanyak a­kan kita sebar kepada masyarakat. Sehingga pe­tani kita di Sijunjung bisa membudidayakan varietas unggul ini, dan nanti akan berdampak pada hasil panen, surplus pangan serta  perekonomian pe­tani kita di Sijunjung,” kata Ronaldi. (ndo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top