Close

Usut Kasus Pengoplosan Miras, Polda Segera Periksa Pemilik Toko Damarus

Ilustrasi

PADANG, METRO – Pascapenggerebekan toko minuman 4F Damarus di Jalan Niaga, No. 183, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, yang melakukan aksi pengoplosan minuman beralkohol atau minuman keras (miras) tanpa izin, Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumbar akan terus melanjutkan proses hukumnya.

Dalam waktu dekat, penyidik Sundit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Sumbar akan melakukan pemeriksaan terhadap pemilik toko minuman berinisial TS yang masih berstatus sebagai saksi. Saat ini, penyidik juga sudah mengirimkan surat pemanggilan. Direncanakan, pemilik toko minuman tersebut akan diperiksa pada hari Rabu  (29/5) mendatang.

“Untuk tindaklanjut kasus pengolosan Miras ini, kita sudah mengirimkan surat pemanggilan terhadap pemilik toko berinisial TS. Karena pemilik toko bertanggung jawab atas kegiatan pengoplosan minuman di toko tersebut. Yang bersangkutan diperiksa penyidik untuk tahapan sidik kasus ini,” kata Dirreskrimsus Polda Sumbar AKBP Juda Nusa Putra.

AKBP Juda menjelaskan, pihaknya belum menetapkan tersangka atas kasus pengoplosan tersebut karena masih dalam tahap penyidikan. Saat ini, pemilik toko masih berstatus sebagai saksi, dan pemeriksaan masih sebatas keterangan saksi, yang tentunya pemilik mengetahui kegiatan pengoplosan yang ada di dalam toko. “Tahapan selanjutnya, kita juga masih menunggu hasil uji sampel dari  BPOM. Sampel yang diuji merupakan minuman oplosan yang ditemukan di toko Damarus itu. Selanjunya kita akan meminta keterangan dari ahli seperti BPOM dan Disperindag,” ungkap AKBP Juda.

Terkait apakah ada atau tidaknya toko minuman lain yang diduga melakukan kegiatan serupa, AKBP Juda tidak menampiknya. Ia mengakui adanya toko minuman lain yang terindikasi juga menjual minuman yang dioplos atau dalam bentuk paket-paket. Namun, pihaknya masih terus melakukan penyelidikan.

“Kita masih terus melakukan penyelidikan di lapangan, untuk mengungkap dugaan ada atau tidaknya toko lain yang juga mengoplos miras. Kalau ada informasi dari masyarakat, kita sangat terbuka, dan pastinya akan kita tindaklanjuti dengan penegakan hukum,” ungkap AKBP Juda.

AKBP Juda menjelaskan terkait apakah minuman tersebut berbahaya atau tidak, tentu harus dibuktikan dari hasil uji sampel dari BBPOM. Untuk sangkaan awal, toko itu ditemukan dugaan tindak pidana memperdagangkan minuman beralkohol tanpa izin edar yang mana minuman beralkohol dioplos tanpa ada aturan yang jelas. “Jadi, pelaku ini meracik minuman beralkohol dengan cara mencampur-campur dengan minuman merek lain. Produk oplosan itulah yang kemudian dijual toko minuman itu. Padahal mereka tidak punya izin untuk kegiatan  pengoplosan minuman itu, dan juga tidak ada keahlian dalam pencampuran minuman,” ujar AKBP Juda.

AKBP Juda menjelaskan terungkapnya kasus ini, berkat adanya informasi dari masyarakat, kalau di lokasi itu ada memperdagangkan minuman beralkohol yang dijual dengan sistem paket. Penjual menemas minuman itu ke dalam sebuah plastik bening dan diberikan kepada si pembeli.

“Berkaitan dengan apa yang dilakukan si pedagang, sesuai dengan ketentuan berlaku di dalam undang-undang pangan, bahwa ada ketentuan larangan membuka kemasan akhir pangan untuk diperdagangkan kembali. Tetapi toko minuman itu jelas sudah melanggar ketentuan itu,” ungkap AKBP Juda.

AKBP Juda menuturkan sesuai dengan ketentuan undang-undang, setiap minuman yang sudah beredar itu adalah di dalam kemasan akhir, karena di situ ada labelnya, ada ketentuannya dan ada aturannya, termasuk juga ada perizinannya. Sehingga minuman yang beredar dipastikan aman untuk dikonsumsi.

“Seandainya itu dibuka, disalin dengan kemasan yang lain, maka label dan keterangan barang itu sudah tidak ada lagi dan konsumen tidak tahu lagi apa yang dia konsumsi. Dan yang lebih berbahaya lagi kita temukan berdasarkan informasi beberapa jenis minuman beralkohol yang dia jual itu dicampur dengan jenis minuman yang lainnya. Misalnya alkohol jenis colombus dicampur dengan bir golongan A, golongan C, termasuk ada jenis jus buavita, kemudian dicampur lagi dengan minuman suplemen M-150,” jelas AKBP Juda

AKBP Juda menuturkan pekerja maupun pemilik toko dipastikan tidak mempunyai kemampuan atau keahlian untuk meracik, mencampur minuman tersebut, seperti seorang bartender. Dalam artian, peracikan minuman tentu memiliki takaran dan aturan yang jelas serta orang yang meracik harus ahli atau profesiobal. “Itu yang kita persangkakan. Untuk tindak lanjut, minuman tersebut sedang dilakukan uji di laboratorium, termasuk kemasannya kita uji, apakah ada dampak atau tidak terhadap konsumen. Tahapan kasus ini sudah masuk tahap sidik. Yang pasti siapa yang menyuruh melakukan, atau pemilik toko yang mendapat keuntungan dari hasil jual beli minuman tersebut bisa saja jadi tersangka,” tegas AKBP Juda.

Terkait sejak kapan praktek ilegal itu berlangsung, AKBP Jusa mengatakan kalau kegiatan itu sudah berlangsung sangat lama. Selain memeriksa para pelaku, pihaknya juga akan meminta keterangan dari tim ahli seperti dari Disperindag dan BPOM. Penindakan ini bertujuan mencegah, sekaligus mengantisipasi peredaran minuman beralkohol selama Ramadan dan Idulfitri, termasuk juga mencegah kejahatan.

  “Atas kasus pengolosan itu, mereka terancam dijerat pasal 139 atau pasal 142 Undang-undang RI No. 18 tahun 2012 tentang Pangan dan atau Pasal 62 ayat (1) junto pasal 8 ayat (1) huruf a Undang-undang RI No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” pungkasnya.

Sebelumnya, diduga menjual minuman beralkohol atau minuman keras oplosan tanpa izin edar, Toko minuman 4F Damarus di Jalan Niaga, No. 183, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, digrebek oleh Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumbar. Disinyalir, kegiatan pengoplosan minuman beralkohol itu dilakukan sejak lama.

Saat penggerebekan itu, polisi berbagai merek minuman beralkohol sebanyak 130 botol yang tidak ada izin untuk dijual (ilegal), 70 botol minuman berlalkohil yang kosong, satu bungkus minuman oplosan beralkohol, 4 pak plastik bening cap singa lait, 4 pak plastik hitam, dan 5 pak sedotan merek plastisindo.

Atas kasus pengolosan minuman tersebut, penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 4 orang berinsial FT, Y, D yang berperan sebagai pekerja dan TS berperan sebagai pemilik toko. Selain itu, Polisi juga belum menetapkan tersangka, karena masih dalam tahapan penyidikan (sidik).  Dari hasil pemeriksaan, terungkap modus operandi yang dijalankan pelaku untuk mengoplos minuman keras dengan cara membuka kemasan akhir minuman beralkohol, kemudian mencampurkan dengan minuman jenis lain tanpa takaran yang jelas dan tanpa ada keahlian.

Setelah itu, minuman yang telah dicampur-campur berbagai merek itu kemudian dikemas ulang menggunakan plastik bening untuk diperdagangkan kembali. Penjualan miras yang sudah dicampur-campur seperti itu biasa dikenal dengan sebutan miras paket yang dijual dengan harga yang beragam, mulai dari Rp10 ribu. (rgr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top