Close

UP2D Sumbar Didaulat sebagai OBVITNAS, PLN UIW Sumbar Gelar Simulasi Penanganan Teror Bom

SIMULASI--PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sumbar lakukan Simulasi Pelatihan Penanganan Teror Bom di UP2D Sumbar.

WAHIDIN, METRO–Unit Pelaksana Pe­nga­tur Distribusi (UP2D) Sum­bar adalah unit PLN yang berperan dalam mela­ku­kan pengaturan pendis­tribusian tenaga listrik hing­ga sampai ke pelanggan di seluruh kawasan Sumatera Barat. Mengingat penting­nya peran ini, UP2D Sum­bar didaulat sebagai salah satu Objek Vital Nasional (OBVITNAS) yang perlu keamanan maksimal.

Guna menambah wa­wasan pengamanan ob­vitnas, Kamis (27/05) lalu PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sumbar lakukan Simulasi Pelatihan Pe­na­nganan Teror Bom di UP2D Sumbar.

Hadir dalam agenda simulasi tersebut Ko­man­dan Gegana Satbrimob Polda Sumbar Kompol En­cep Henry selaku pema­teri, Senior Manager Distri­busi PLN UIW Sumbar Arif Pramudya, Pejabat Pe­ngen­dalian K3L PLN UIW Sumbar Misran, Manajer UP2D Sumbar Riki Yacob, dan tim K3L serta satuan pengamanan di PLN UIW Sumbar maupun UP2D Sum­bar.

Kegiatan simulasi ini diharapkan menumbuhkan kepekaan dan cepat tang­gap dari personil siaga pengamanan maupun pe­ga­wai internal PLN me­ngenai hal-hal yang dicu­rigai mengancam keama­nan lokasi perseroan. Ke­mudian terlatih untuk da­pat mengambil tindakan yang tepat atas hal-hal mencurigakan tersebut.

Arif Pramudya dalam sambutannya menu­turkan, pelatihan untuk keamanan obvitnas adalah agenda yang sangat perlu dila­kukan. ‘’Perlu adanya pe­latihan untuk menjaga ke­siapan, kepahaman dan kerjasama yang baik dari masing-masing personil siaga pengamanan agar sigap dan tidak panik meng­hadapi kondisi tak terduga seperti teror bom,’’ tuturnya.

Pada paparannya, Kom­pol Encep menyam­paikan bahwa prosedur penanganan teror bom perlu ada dalam sistem manajemen pengamanan terpadu di objek-objek vital, seperti PLN. ‘’Prosedur penanganan teror bom memerlukan tiga aspek; personil security yang ter­latih dan terampil, pro­sedur tetap yang baku dan tepat, serta yang terakhir peralatan predetect, prep­ro­tect dan perlatan pen­dukung yang memadai,’’ jelasnya kemudian.

Simulasi prosedur pe­nanganan teror bom, di­sebut Encep seharusnya dilakukan secara periodik, untuk pengamanan yang lebih terlatih dan ling­ku­ngan kerja yang lebih was­pada. ‘’Untuk kasus dite­mukan benda yang ter­deteksi mencurigakan, ma­ri senantiasa berkoordinasi dengan kepolisian atau gegana dan instansi terkait lainnya.(ade) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top