Menu

Umar Jaya Dibayar Rp100 Juta untuk Bunuh Pemilik Baiturrahmah

  Dibaca : 2953 kali
Umar Jaya Dibayar Rp100 Juta untuk Bunuh Pemilik Baiturrahmah
Pemimpin BNI Wilayah Padang yang mencakup Riau, Sumbar dan Kepri S Hidayat Safwan melaunching Tapcash Co-Branding PSMTI dengan Experience Tol Pekanbaru-Dumai.
pembunuh bayaran ditangkap - web

Umar Jaya alias Nayau (baju krem) diamankan polisi dari Polresta Padang, karena diduga melakukan beragam tindakan kejahatan, baik perampokan hingga pembunuhan.

PADANG, METRO–Pelarian penjahat kelas kakap yang terlibat dalam sejumlah aksi kriminal sadis di Sumbar, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumsel dan Lampung terhenti Kamis (17/9) sekitar pukul 00.05 WIB. Tertangkapnya pelaku bernama Umar Jaya alias Nayau (53) menguak semua aksi kejahatan yang pernah dilakukannya selama ini, termasuk sudah melakukan lima kali aksi pembunuhan bayaran.

Penjahat kelas kakap ini dilumpuhkan kaki sebelah kirinya dengan timah panas di Kota Padang, karena berusaha melarikan diri dari petugas saat dibawa ke Payakumbuh. Jajaran Polda Sumbar bersama dengan Polres Limapuluh Kota langsung menggeledah dua rumah milik pelaku yang dikabarkan juga DPO di empat Polres yakni, Payakumbuh, Limapuluh Kota, Bukittinggi dan Kota Padang.

Penangkapan pelaku bermula dari jebakan transaksi narkoba oleh Dit Res Narkoba Polda Sumbar. Warga Perumahan Palapa Saiyo, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Padangpariaman ini dibekuk saat transaksi narkoba di parkiran RS Siti Rahmah, Aiapacah, Padang.

”Saat melakukan transaksi dengan polisi, ternyata Umar Jaya menipu. Sabu yang hendak dijualnya dalam paket seberat dua ons itu ternyata hanya garam dapur halus. Padahal, awalnya transaksi itu sudah disepakati Rp25 juta,” kata Kabag Bin Ops Dit Res Narkoba Polda Sumbar, AKBP M Yasli, Kamis (17/9) dini hari.

Namun, Umar Jaya yang memang dikenal sebagai penjahat sadis tidak dilepaskan begitu saja. Petugas menginterogasi pelaku dan jawaban yang sangat tidak disangka keluar dari mulut pria kurus ini. Ternyata, dia adalah pembunuh bayaran dan perampok sadis yang kerap beraksi di beberapa lokasi di Sumbar, bahkan sampai ke Jakarta.

Dia juga kerap beraksi menggunakan senjata api, ada dua yang digunakan Nayau bersama gerombolannya, yakni satu senjata jenis FN dan satu lagi senapan AK-47.

”Dia ini adalah jaringan perampok antarprovinsi mulai dari Sumbar hingga Lampung. Tapi untuk saat ini, dia merupakan DPO Polres Limapuluh Kota,” kata Yasli.

Disebutkan Yasli, penyelidikan semua tindak kriminal oleh pria yang akrab dipanggil Nayau ini pun diserahkan ke Polres Limapuluh Kota. Selain itu, sejumlah aksi kriminal yang dilakukannya juga akan dirunut satu per satu. Dugaan kuat, Nayau tidak hanya melakukan pembunuhan bayaran dan perampokan saja, tapi juga terlihat sejumlah aksi curanmor.

”Sementara, untuk BB narkoba sendiri masih terus kita kembangkan. Namun, kita sudah koordinasi dengan personel Polres Limapuluh Kota,” ucapnya.
Setelah kedatangan petugas dari Polres Limapuluh Kota sekitar pukul 05.30 WIB, mereka langsung membawa pelaku ke rumah istri keduanya di Kampung Lalang, Kelurahan Aia Pacah, Kecamatan Kototangah untuk mencari dua senjata api yang digunakan pelaku dalam beraksi. Di sini, petugas melakukan penggeledahan di dalam rumah dan mendapati puluhan tas, diduga hasil perampokan.

Tidak puas di lokasi tersebut, petugas melanjutkan pencarian barang bukti (BB) lainnya di rumah pelaku yang ada di Perumahan Palapa Saiyo. Namun, petugas pun hanya mendapatkan 10 unit STNK yang diduga kuat hasil curanmor.

Dibayar Rp100 Juta

Sementara, saat ditanyai POSMETRO, Umar Jaya mengakui sejumlah aksi pembunuhan, perampokan dan penjambretan yang dilakukannya. Salah satunya adalah aksi yang sempat menggemparkan Kota Padang 1996 silam yakni, pembunuhan di Jalan Damar, dengan korban pemilik Universitas Baiturrahmah Padang, Yusma dan pembantunya bernama Ana.

”Saat itu saya dibayar Rp100 juta untuk membunuh. Saya melakukannya bersama tiga rekan lain. Saat itu, Eko dan Epi Samsul sebagai eksekutor, Andi jaga di luar dan saya sebagai sopir. Masing-masing kami dibayar dengan harga yang sama,” ujar Umar.

Kemudian, polisi berhasil menangkap Eko dan Epi Samsul, tapi keduanya sudah meninggal karena sakit. Sementara, rekannya Andi sudah bebas dan Umar masih menjadi buronan sampai saat ini.

Sebelumnya, di tahun 1985, Umar Jaya melakukan perampokan di Bukittinggi dan membunuh seorang gadis yang menghuni rumah saat itu dengan sebilah pisau. Dia berhasil ditangkap dan dipenjara selama 10 tahun.

Pascabebas dari penjara, tepatnya di bulan puasa, Umar Jaya kembali melakukan aksinya yakni membunuh pemilik Yayasan Baiturahmah tersebut menggunakan linggis. Lalu, tahun 2003, Umar Jaya melakukan aksi perampokan dan membunuh korbannya di Pekanbaru, Riau.

Bukannya bertaubat, tahun 2005, pelaku kembali ke Sumbar dan melakukan aksi jambret di Payakumbuh. Saat itu, korbannya melawan dan dibunuh. Dia ditangkap dan kembali masuk penjara dan keluar pada tahun 2011.

Setelah bebas dari penjara Umar ini kembali melakukan aksi penjambretan di beberapa titik. Paling sadis itu di Kota Payakumbuh dengan korban jambret meninggal dunia. Kemudian, perampokan juga dilakukan bersama komplotannya di Jambi dengan korban seorang dan melarikan uang Rp80 juta. Dan, komplotan itu memang terbilang sadis karena tidak akan segan-segan membunuh korban kalau ketahuan.

”Terakhir, pada akhir tahun 2014, Umar beraksi di sebuah heuler yang ada di Kota Payakumbuh serta merampok rumah toke emas. Dia bersama delapan orang rekannya berhasil melarikan 200 emas serta uang tunai hampir Rp100 juta. Sementara korban mengalami luka karena melawan,” jelasnya sambil tertunduk.
Tidak Bersosialisasi

Di tempat tinggalnya yang lain di Perumahan Nuansa Indah III Kampung Lalang, Kelurahan Aiapacah, Kototangah, Padang, Umar Jaya dikenal sebagai sosok yang tidak bersosialisasi. Dia hanya bertegur sapa dengan penduduk sekitar jika bertemu wajah. Bahkan, warga sendiri tidak pernah mengetahui secara jelas apa pekerjaan Umar, meskipun sudah lebih dari dua tahun mengontrak disana.

”Saya tahunya dia itu berdagang, karena pernah bilang seperti itu sama saya. Tapi, anehnya, setiap malam memang rumahnya itu ramai oleh orang-orang bermobil mewah dan juga anak-anak muda,” ucap Anwar (70), salah seorang warga.

Begitu juga dengan Jon (40), warga lainnya. Dia menyebut, Umar ini menang tidak pernah berbaur dengan warga. Dia hanya berdiam di rumah dan selalu pergi dijemput dengan membawa koper-koper. “Kami warga disini tahunya Umar itu pergi bawa koper besar dan nanti pulang tidak tahu kapan,” paparnya.
Terpisah, keluarga Yusma, korban dari Umar Jaya ini mengaku lega karena pelaku pembunuh terhadap ibunya sudah ditangkap. Dia meminta, petugas polisi mengusut tuntas kasus yang menimpa keluarganya, meskipun sudah puluhan tahun terlewat.

”Kita dari keluarga sudah lega pelakunya ditangkap dan kita ingin polisi berikan dia hukuman yang sesuai dengan perbuatannya,” pungkas Epi, anak korban.

Penjahat Tersadis

Usai dibekuk, Nayau dibawa ke Polres Limapuluh Kota untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada 8 Agustus 2011 lalu terhadap seorang bos rice miling di Kubang, Nagari Kubang, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota. Ketika itu, Nayau beraksi bersama dengan empat kawannya masing-masing Susandi Azwar, Masrizal, Mukhcandra dan Dwisan dimana keempatnya kini sudah divonis.

Sementara, Nayau sejak saat itu berstatus sebagai DPO atas kasus pencurian dengan pemberatan terhadap H Salmi Dt Garang dengan kerugian 200 gram emas batangan berupa kalung, gelang dan cincin, kemudian uang tunai Rp90 juta rupiah. Dalam pelarian, Nayau tetap melakukan berbagai aksi kejahatan sehingga tercatat sebagai DPO di beberapa Polres di wilayah Hukum Polda Sumbar.

Kepada penyidik, dia mengakui aksi pencurian emas batangan dan uang milik Salmi Dt. Garang. Kemudian, dia juga mengakui telah melakukan aksi kejahatan di beberapa lokasi di Sumatera Barat. “Benar, saat itu saya bersama dengan kawan-kawan lainnya, tapi saya berhasil lari,” jelasnya di hadapan penyidik Polres Limapuluh Kota.

Jajaran Polres Limapuluh Kota tidak hanya mengamankan Nayau, tetapi juga dua koper besar yang dibawa pelaku selama pelarian, Juga ditemukan beberapa STNK kendaraan roda dua dan mobil, kemudian tiga KTP yang beralamat di Padang, lalu kunci yang diduga dipergunakan pelaku untuk melakukan aksi kejahatan.
“Dia memang sudah lama jadi DPO kita dan DPO beberapa Polres di wilayah hukum Polda Sumbar dan berhasil diamankan malam tadi di Padang,” jelas Kasat Reskrim Polres Limapuluh Kota, AKP Dicky Vertoffan Bachriel, Kamis (17/9) kepada wartawan saat ekspose di Mapolres Limapuluh Kota.

Disampaikan Kasat, penyelidikan terhadap kasus Nayau terus didalami oleh penyidik Satreskrim Polres Limapuluh Kota, termasuk aksi-aksi kejahatan yang dilakukan selama pelarian. Ketika disinggung soal rumor bahwa Nayau merupakan seorang pembunuh bayaran yang ditakuti di Sumatera Barat, Kasat Dicky menyebut terus dilakukan penyidikan.

“Kita terus melakukan penyidikan terhadap kasus-kasus yang dilakukannya. Yang jelas selama pelarian tersangka masih terus melakukan aksi-aksi kejahatan di beberapa daerah di Sumatera Barat, sehingga tersangka masuk DPO beberapa Polres,” jelas Kasat yang baru saja bertugas di Polres Limapuluh Kota menggantikan Kasat AKP Amral. (age/da/r/us)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional