Menu

Udara Kota Padang Bisa Picu TBC, Prodi Ilmu Lingkungan dan Himes Bagikan Masker

  Dibaca : 54 kali
Udara Kota Padang Bisa Picu TBC, Prodi Ilmu Lingkungan dan Himes Bagikan Masker
membagikan— Sejumlah mahasiswa Prodi Ilmu Lingkungan dan Himes membagikan masker pada pengendara yang melintas di depan kampus UNP kemarin. (milna/posmetro)

HAMKA, METRO – Bencana kabut asap yang berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan bagi tubuh manusia. Hal ini pun menggerakkan manajamen Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Negeri Padang (UNP) dan Himpunan Mahasiswa Environmental Science (Himes) untuk berinisiatif mengajak masyarakat menggunakan masker guna melindungi sistem pernapasan dan kabut asap.

Ketua Prodi Ilmu Lingkungan, Dr Indang Dewata menyebutkan, saat ini, kualitas udara tidak sehat lagi. Tak hanya di Padang, kabut asap ini bahkan telah menyeluruh, terutama pulau Sumatera dan Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan. Indeks standar pencemaran udara memasuki angka diatas 170. Bila terkena kabut asap dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorakan.

“Ini merupakan bentuk kecintaan dan kepedulian kita terhadap masyarakat terkhsusus civitas akademika UNP dan masyarakat sekitar kampus,” kata Indang Dewata didampingi guru besar Doktoral Lingkungan, Prof Eri Berlian, disela-sela kegiatan tersebut di depan pintu gerbang kampus UNP, Kamis (19/9) pagi.

Lebih lanjut, kata Indang Dewata, sebanyak 60 kardus masker telah dibagikan di sekitar kampus UNP Air Tawar. Sedangkan untuk titik yang disebarkan seputaran kampus dan sekitarnya. Selain membagikan masker, pihaknya juga mengedukasi penerima masker bahwa dampak kabut asap primer akan beraksi cepat dengan ditandai iritasi.

“Sementara untuk dampak yang begitu lama atau dampak sekunder ditandai dengan penyakit TBC,” tukas Indang Dewata.

Sebelumnya, pengamat Lingkungan Hidup dari Universitas Andalas, Ardainis Arbain mengingatkan, pemerintah kabupaten/kota di Sumbar harus mewaspadai kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan provinsi lain. Berdasarkan kejadian dari tahun-tahun lalu, kebakaran hutan di Sumbar itu sedikit, api terbanyak ada di Riau.

“Seluruh perangkat daerah mulai dari kepala desa, wali nagari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hingga kepala daerah, serta masyarakat harus waspada asap kiriman dari Riau,” kata Ardainis Arbain.

Saat ini, kata Ardainis Arbain, seluruh pihak terkait sudah berkoordinasi satu sama lain seperti BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api, jika terjadi kebakaran hutan sekecil apapun api yang muncul, petugas langsung turun mematikan api.

“Masyarakat agar tidak membiasakan membakar sampah di ladang atau di perbukitan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Harus diwaspadai karena dapat menimbulkan kerusakan dan kebakaran tanpa disadari,” tukasnya.

Sementara, Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yulieaday mengatakan, dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh kabut asap ini cukup banyak. Jangka pendeknya, penyakit yang bisa disebabkan kabut asap seperti infeksi saluran pernafasan atas, iritasi mata, dan asma. “Sedangkan untuk jangka panjangnya adalah bisa menyebabkan kanker paru-paru,” kata Merry. (mil)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional