Close

Turun ke Jalan, Aremania Lakukan Aksi Diam

AKSI Damai--Aremania melakukan aksi damai dari Stadion Gajayana menuju Balai Kota Malang.

MALANG, METRO–Aremania akhirnya turun ke jalan kemarin pagi. Suporter Arema FC itu meminta insiden Kanjuruhan segera diusut tuntas. Aksi tersebut dilakukan dengan mode silent.

Mereka berkumpul di Stadion Gajayana pukul 10.00. Lebih dari seribu Aremania memakai dress code hitam. Spanduk-span­duk dibentangkan. ’’Keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Buktikan ideologi negara ini.’’ Begitu tulisan di beberapa span­duk yang dibawa.

Rombongan kemudian menuju Balai Kota Malang. Jaraknya sekitar 1 kilometer. Saat baru berjalan, beberapa Aremania bernyanyi, tapi langsung diminta diam oleh Aremania yang lain.

’’Aksi kali ini silent. Ojo nyanyi, Rek!’’ kata salah seorang peserta aksi. Seluruh Aremania langsung terdiam. Sepanjang jalan tidak ada teriakan atau yel-yel terdengar.

Cuma butuh 15 menit untuk sampai di tujuan. Begitu tiba, tidak ada aksi protes. Tidak ada orasi dan teatrikal. Aremania memilih duduk di depan kantor balai kota. Mereka lesehan dengan tertib. Kemudian menggelar spanduk di ja­lan raya, tapi tidak ditutup sepenuhnya. Masih ada ruang bagi pengendara untuk lewat.

Aksi itu berjalan dengan sangat tertib. Satu jam berselang, Aremania mulai berdiri. Lalu, mereka membentangkan spanduk dan menyanyikan lagu Bagimu Negeri.

Ditutup dengan nya­nyian Salam Satu Jiwa. Se­telah itu, mereka memilih bubar. ’’Ayo semua balik. Kita buktikan bahwa Are­mania cinta damai,’’ jelas salah seorang koordinator aksi.

Suporter meninggalkan balai kota dengan tertib. Tapi, beberapa tetap tinggal. Ada sekitar 10 supor­ter yang membawa kantong kresek. Warnanya hitam, ukurannya juga besar. Mereka memunguti sampah yang ditinggalkan para Aremania.

’’Kami memang adakan sesi bersih-bersih. Kami tidak mau aksi ini meninggalkan sampah,’’ kata sa­lah seorang suporter sembari memunguti botol plastik.

Tidak ada koordinator aksi yang mau bicara kepada awak media. Aksi tersebut memang sudah di-setting untuk diam. Silent sepenuhnya.

’’Sebelum aksi, kami sudah sepakat untuk no dialog. Kami melakukan aksi diam. Apa maksudnya? Untuk menunjukkan kalau Malang belum baik-baik saja,’’ jelas salah seorang simpatisan aksi saat ditemui Jawa Pos setelah acara.

Aksi silent itu tuntas tepat pukul 11.15. Sudah ti­dak ada Aremania di balai kota. Tapi, ternyata ada aksi susulan. Dua jam berselang, ada suporter dari rombongan lain.

Beda dengan sebelumnya, mereka bernyanyi di depan halaman balai kota. Setelah 30 menit, Wali Kota Malang Sutiaji menemui Aremania. Suporter langsung berteriak ’’usut tuntas’’.

’’Ini seperti anak yang ingin menemui bapaknya. Kami akan kawal terus proses (hukum) ini. Jangan sampai ada manipulasi dan seterusnya. Mungkin kami bisa dibohongi, tapi Tuhan tidak bisa,’’ ucap Sutiaji.

Dia memastikan bakal mengawal perkembangan insiden Kanjuruhan. ’’Siapa pun yang berbuat kejahatan pasti akan dihancurkan oleh Tuhan,’’ tambahnya.

Sutiaji kemudian langsung duduk. Dia meminta semua suporter untuk doa bersama. Tangisan pecah saat prosesi doa yang di­pimpin langsung oleh wali kota.

’’Usut tuntas sudah jadi komitmen kami semua. Kami kawal terus-menerus. Kami jaga terus-menerus. Kami kawal mudah-mudahan pro­ses hukum berjalan sebaik mungkin,’’ ucap Sutiaji.

Setelah doa bersama, suporter membubarkan diri dengan tertib. (jpc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top