Menu

Tuntut Hak, Warga Sipangkur Blokade Jalan Menuju PT SAK, Karyawan Diusir dari Blok M 

  Dibaca : 238 kali
Tuntut Hak, Warga Sipangkur Blokade Jalan Menuju PT SAK, Karyawan Diusir dari Blok M 
BLOKADE JALAN— Warga Nagari Sipangkur, Kecamatan Tiumang, memblokade jalan menuju perkebunan pengolahan kelapa sawit milik PT Sawit Andalas Kencana (PT SAK).

DHARMASRAYA, METRO–Ratusan warga Nagari Sipangkur,  Kecamatan Tiu­mang, Dharmasraya, Sumatra Barat melakukan aksi protes dengan mem­blokir jalan menuju per­kebunan pengolahan ke­lapa sawit milik PT Sawit Andalas Kencana (PT SAK), Jumat (20/8).  Mereka me­nuntut pihak perusahaan agar mengembalikan ta­nah mereka yang diambil secara paksa untuk per­kebunan.

Warga menuding tanah seluas 300 hektare lebih tersebut diserobot peru­sa­haan tanpa izin dari ninik mamak atau pemilik tanah. Bahkan, pemerintah se­tem­pat (Pemda Sawahlun­to-Sijunjung) kala itu me­ner­bitkan surat larangan pengolahan lahan kebun karet warga.

Dalam aksi blokade jalan, warga mendirikan pagar yang dilengkapi de­ngan kawat berduri di per­simpangan jalan yang bia­sa digunakan oleh truk-truk pengangkut buah sawit me­nuju pabrik. Akibatnya, akti­vitas pengangkutan buah sawit ke lokasi pabrik pun terhenti.

Salah satu warga Na­gari Sipangkur, Mukhtar (63) menyebutkan aksi war­ga ini juga disebabkan oleh arogansi pihak peru­sahaan yang memutus ja­lan warga menuju perke­bu­nannya.

“Beberapa hari yang lalu, pihak PT SAK sengaja memutus jalan menuju ke­bun warga yang berbatas langsung dengan perke­bu­nan PT SAK yang masih ber­sengketa, “ ujarnya kepada Posmetro Minggu (22/8) di Pulau Punjung.

Akibatnya, lanjut Mukh­tar, warga tidak bisa me­manen sawitnya, karena akses jalan yang telah di­pu­tus oleh pihak PT SAK ter­sebut.

“Akibat diputusnya ja­lan ini, ratusan warga tak bisa memanen sawitnya. Apa yang dilakukan pihak PT SAK ini, sudah meman­cing kemarahan warga Nagari Sipangkur,” tegas­nya

Informasi yang ber­hasil dihimpun di lapangan, aksi warga selain mem­blokade jalan, warga juga memasang segel untuk menghentikan aktivitas perusahaan.Tak hanya itu warga yang terdiri dari mayoritas kaum ibu-ibu tersebut juga memaksa karyawan PT SAK mengo­songkan Blok M.

“Kamp atau Blok ini harus diko­songkan, karena pihak PT yang diwakili oleh Al Faizin berjanji kepada kami bah­wa tidak akan ada aktifitas panen di Blok M ini sampai masalah ini diselesaikan. Namun faktanya mereka tetap melakukan aktifitas memanen dengan menyu­ruh karyawan baru tinggal di Kamp M ini, “ ungkap Wo Anis (50) didampingi ratusan warga lainnya ke­pada Posmetro Jumat (20/8).

Dalam aksi tersebut mereka mengklaim tanah yang dikelola perusahaan beberapa di antaranya adalah tanah warga atau masih bersengketa dengan penduduk nagari/desa.

“Ini merupakan tanah turun temurun kami yang diambil paksa oleh pihak PT SAK. Selama puluhan ta­hun, tanah ini tidak men­dapat ganti rugi dari peru­sahaan,” ujar Sokri (58).

Dia menuding peru­sa­haan tidak beriktikad baik untuk menyelesaikan per­masalahan ini. Bahkan pi­hak perusahaan menan­tang warga agar membawa perkara ini ke meja hijau.

Sebelum melakukan blo­­kade, warga terlebih da­hulu melakukan pengu­ku­ran tapal batas lahan ke­bun milik warga yang be­rada di lahan PT SAK de­ngan mendirikan pancang.

Terpisah, Wo Ajis (62) menegaskan bahwa pihak­nya sudah geram dengan ulah pihak PT SAK yang terus memancing amarah warga.

“Setelah kami layang­kan surat ke pihak PT, me­reka langsung memutus jalan menuju kebun sawit kami. Sehingga kami tidak bisa mengangkut hasil pa­nen sawit menggunakan mobil ataupun motor, “ ujar Wo Ajis geram.

Menurutnya, mereka hanya meminta hak me­reka yang diambil secara paksa oleh PT SAK. Mes­kipun sudah ada larangan oleh Pemda Sawah­lunto Sijunjung dan Dandim kala itu.

“Kami akan terus me­ng­upayakan hak hak kami sampai kembali, “ tegas­nya.

Aksi warga juga dihadiri pi­hak berwajib, pemblo­kiran jalan perusahaan ini berlangsung damai. Kegia­tan ini juga dihadiri lang­sung oleh pihak perusa­haan yang datang.

Sementara itu, Wakil Pimpinan PT SAK, Hafizin menanggapi tuntutan war­ga Nagari Sipangkur untuk menghentikan aktifitas me­manen di Blok M ten­tunya tidak bisa dipenuhi.

“Kalau aktifitas me­manen tidak bisa dihen­tikan, harus dilanjutkan,” ujarnya menjawab per­tanyaan warga yang hadir di lokasi pemblokiran jalan kebun.

Terpisah, Kapolres Dhar­masraya, AKBP Ang­gun Cahyono melalui Ka­bag Ops, Kompol Nasrul Efendi membenarkan bah­wa pihaknya melakukan pengamanan terkait aksi warga Kebun Karet Ter­gusur (KKTer) nagari Si­pang­kur.

“Terkait aksi warga ter­sebut, kita persiapkan se­banyak 161 personil gabu­ngan Polres dan Polsek. Namun yang diturunkan ke lokasi sebanyak 45 personil dari Polsek Koto Baru, “ ungkap Kabag Ops Kom­pol Nasril Efendi kepada Pos­metro Minggu (22/8).

Kompol Nasrul Efendi menegaskan bahwa aksi warga tersebut berjalan dengan lancar dan damai serta tidak ada aksi yang anarkis.

“Aksi warga berjalan dengan lancar dan damai, tidak ada gesekan ataupun perbuatan anarkis, “ pung­kasnya. (Gus) 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional