Menu

Tragedi Serangan Teroris Bersenjata di Selandia Baru, Ayah dan Anak Asal Padang Dirawat Intensif 

  Dibaca : 215 kali
Tragedi Serangan Teroris Bersenjata di Selandia Baru, Ayah dan Anak Asal Padang Dirawat Intensif 
KORBAN TERORIS— Yuli Erna (71) memperlihatkan foto anaknya Zulfirman Syah (21) yang menjadi korban penembakan brutal oleh teroris Selandia Baru.

PADANG, METRO – Dua warga asal Padang, Ayah dan Anak yang menjadi korban penembakan brutal oleh teroris di dalam masjid Kota Christchurch Selandia Baru, pada Jumat(15/3) dilalu, masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat. Kondisnya, kini sudah mulai stabil usai melewati masa kritis dan sudah menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru.

Korban Zulfirman Syah (21) mengalami luka yang sangat parah dengan luka tembak di beberapa bagian tubuhnya,dan belum sadarkan diri. Korban sempat sadarkan diri dan berkomunikasi dengan isterinya. Sedangkan anaknya Omar Rois (2) yang mengalami luka tembak pada kaki dan tangan mulai membaik, dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.

“Mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia. Sampai pagi ini, saya mendapat informasi dari istrinya, dia lagi menjalani proses operasi kedua di rumah sakit setempat. Masih diruang ICU. Zul, sudah menjalani operasi kedua, mudah-mudahan berhasil. Sudah sempat sadar dan sempat komunikasi dengan istrinya, namun kondisi masih lemah, masih blank,”kata Kakak Kandung Korban, Handra Yaspita, Sabtu (16/3).

Handra menjelaskan, meski belum mendapat informasi secara rinci berapa total jumlah peluru yang bersarang ditubuh adik kandungnya itu, namun luka tembak yang dialami korban cukup parah. Terutama dibagian paru-paru yang mengalami kebocoran.

“Persis nya saya tidak mendapat informasi (jumlah peluru yang bersarang). Yang pasti, cuma memang ada peluru dibadan, di kaki, lengan dan Alhamdulillah tidak ada peluru di kepala. Zul dan putranya masih ditangani tim medis disana. Kalau Omar sudah dipindahkan ke ruang rawat inap,” ungkap Hendra.

Kabar Kematian Zulfirman Syah Hoax

Handra menegaskan baik isu tentang sekolah, tanah kelahiran hingga kabar perihal meninggalnya korban yang beredar di media sosial itu, sama sekali tidak benar. Dan itu merupakan kabar hoax. Pasalnya, korban masih menjalani perawatan medis di rumah sakit.

“Itu kabar hoax. Masih ada ya hoax seperti itu. Sampai pagi ini saya mendapat informasi dari istrinya, dia lagi menjalani proses operasi kedua di rumah sakit setempat. Masih diruang ICU. Anaknya juga Alhamdulillah sudah mulai menunjukkan perkembangan yang terus membaik. Zul sedang menjalani proses operasi kedua, mudah-mudahan berhasil. Jadi isu meninggal itu, hoax,”kata Handra.

Handra menjelaskan, Zulfirman Syah lahir di Kota Padang pada 15 November 1978 silam. Orang tua Zul, juga berdomisili di Kota Padang, tepatnya di kampung Lapai. Jadi, bukan dari Pesisir Selatan, sebagaimana informasi yang beredar di medsos.
“Zul lahir di Padang, orang tua juga domisili di Padang. Jadi bukan dari Pesisir Selatan. Kalau Nenek kita dulunya, asalnya Saning Baka dan Sumani Solok. Jadi saya harap agar informasi yang beredar di Media Sosial itu segera dihapus, karena itu tidak benar,” ungkap Handra.

Keluarga Berharap Pemerintah Berikan Fasilitas

Meski terus mendapatkan kabar baik dari istri korban, namun Handra sebagai perwakilan keluarga besar yang ada di Kota Padang, terus berharap agar pemerintah RI bersedia memfasilitasi mereka untuk berangkat ke Selandia Baru. Menjenguk dan melihat langsung kondisi korban.

“Saya harap, pemerintah memfasilitasi kesana. Saya lagi cari jalan untuk kesana. Jadi memang, dari keluarga besar kita menghendaki ada perwakilan dari kita pergi kesana untuk melihat kondisinya seperti apa, sekaligus memberikan support kepada adik dan keponakan saya biar segera pulih,” ujar Handra.

Korban Sering Menjalin Komunikasi dengan Keluarga

Selama menetap di New Zealand, Selandia Baru sejak Januari 2019 lalu, Zulfirman Syah memang kerap menjalin komunikasi via WhatsUp, terutama dengan kakak kandung perempuannya yang bernama Yefnita Liana. Terkadang komunikasi itu berupa pesan singkat hingga video call.

“Sebelum kejadian, sempat komunikasi. Dia mau kasih kabar, mau Jumatan, lagi nunggu bus. Hanya itu kata-katanya. Rencana mau video call. Tapi karena dia sudah dibus, mau Jumatan, enggak jadi,”kata Yefnita.

Menurut Yefnita, korban memang sering menghubungi dirinya, Video call untuk sekedar bertanya tentang kabar Bapak dan Ibu. Dan menceritakan tentang anaknya. Meski tak percaya dengan insiden yang menimpa adiknya itu, namun Yefnita berharap korban dapat segera pulih.

“Kami juga sangat mengecam aksi penembakan itu. Ya semoga adik cepat sembuh. Mohon doanya. Kami tentu, berharap Pemerintah bisa berangkatkan keluarga kesitu, bisa lihat adik. Seingat saya, adik terakhir pulang ke Kota Padang pada November 2018. Minta izin mau merantau ke New Zealand. Dengan niatan mencoba peruntungan nasib menjadi seniman di selandia baru,” ungkap Yefnita.

Keluarga Dikunjungi Walikota Padang

Di saat keluarga sedang terpuruk usai mendapatkan kabar buruk kalao Zulfirman Syah bersama anaknya menjadi korban , Walikota Pdang Mahyeldi Ansharullah bersama dengan isterinya mendatangi kediaman orang tua korban Zulfirmansyah yang menjadi korban penembakan teroris di Selandia Baru.

Walikota mendatangi kediaman orang tua korban yang berada di Jalan Tanjung Indah III Blok G18, Kelurahan Kampung Lapai, Kecamatan Nanggalo. Di rumah itu, Walikota Padang sempat berbincang-bincang dengan ibu korban Yuli Erna (71) dan kakak korban. Walikota juga memerintahkan agar OPD terkait segera menjalin komunikasi dengan Keduataan Besar Selandia Baru di Jakarta untuk memantau perkembangan Zulfirman Syah. (rgr)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional