Menu

Tradisi Pembagian Daging Kurban Manampuang masih Lestari di Kabupaten Agam

  Dibaca : 166 kali
Tradisi Pembagian Daging Kurban Manampuang masih Lestari di Kabupaten Agam
TRADISI MANAMPUANG–Tradisi pembagian daging kurban dengan “manampuang” masih lestari di Jorong Sitingkai, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam.

AGAM, METRO–Walaupun di masa Pademi Covid-19 masya­rakat Jorong Sitingkai, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam tetap utuh memaknai momen pe­rayaan Idul Adha 1442 H. Selain sebagai ibadah keagamaan, penyelenggaraan penyembelihan hewan kurban sekaligus menjadi ajang untuk mem­perat tali silaturahmi serta memupuk rasa kebersamaan dengan cara men­jaga kearifan lokal di tengah melawan Covid-19 ini.

Seperti terlihat pada saat Ba’da Dzuhur, tampak ratusan masyarakat berjejer di sepanjang jalan Jorong Sitingkai. Tidak pandang bulu, semua la­pisan masyarakat membaur jadi satu. Di hadapan mereka tampak kantong kosong yang siap diisi daging kurban. Sementara itu, sejumlah panitia kurban sibuk mengisi kantong tersebut satu per satu.

Kehadiran masya­ra­kat di sepanjang jalan tersebut bukan hanya terlihat kemarin itu saja. Namun, sudah berlangsung dari tahun ke tahun saat setiap pelaksanaan iba­dah kurban. Dan tradisi ini memag dinanti-nanti ma­syarakat saat hari raya kurban.

Masyarakat menamai aktivitas tersebut dengan manampuang. Manampuang merupakan aktivitas pengambilan daging kurban yang sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat setempat.

“Manampuang merupakan kearifian lokal kami di sini, tradisi ini sudah berlangsung sejak dahulunya,” ujar salah seorang tokoh pemuda Sitingkai, Afriadil, Selasa (20/7).

Diutarakan lebih lanjut, di Jorong Sitingkai, selama ini pembagian daging ku­r­ban tanpa menggunakan kupon. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat se­tempat terpancing untuk mendatangi lokasi pembagian daging kurban.

“Kalau pakai kupon, tentu tidak semua ma­syarakat yang datang, hanya perwakilan saja. Jadi kalau dengan cara menampuang seluruhnya akan datang, baik anak-anak maupun orang tua,” jelas Afriadil.

Mengapa dikatakan manampuang, jelasnya lagi, karena sistem pembagian daging dilakukan dengan cara dibagikan oleh panitia dimana ma­syarakat menerimanya dengan cara menam­pung­­kan kantong masing-masing. “Jadi di lokasi, masyarakat berdiri berjejer di dua sisi jalan, dimana masyarakat mempersiapkan kantong masing-masing, lalu panitia berjalan di tengah untuk memasukan daging tersebut ke kantong-kantong,” tutur Afriadil.

Menurut Afriadil, ma­syarakat tidak pernah protes dengan daging apapun yang didapat. Sam­pai saat ini, tidak pernah ada kericuhan saat pembagian daging kur­ban.,Sebab semua yang datang dapat jatah daging kurban sama ba­nyak.

Dikatakan, tradisi ter­sebut dilakukan untuk me­mupuk rasa kebersamaan dan silaturahmi di tengah masyarakat walupaun di masa pademi Covid-19 ini. Selain itu, juga untuk me­nyemarakkan perayaan Idul Adha dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.

“Ya terkadang masya­rakat tidak sempat jalang manjalang (bertamu,red) ke rumah masing-masing, jadi di lokasi manampuang masyarakat saling bersi­laturahmi,” kata Afriadil. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional