Menu

Tingkatkan Ekspor Komoditi Pertanian Sumbar, Gubernur Minta Petakan Potensi Pasar Dunia  

  Dibaca : 139 kali
Tingkatkan Ekspor Komoditi Pertanian Sumbar, Gubernur Minta Petakan Potensi Pasar Dunia  
DISKUSI— Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, saat mengikuti Forum Diskusi Penanganan Masalah Perdagangan Luar Negeri secara virtual dari Istana Bung Hatta Bukittinggi,

BUKITTINGGI, METRO–Pemetaan potensi pasar dunia perlu dilakukan untuk mengetahui data produk yang dibutuhkan oleh negara tujuan. Dengan pemetaan ini sehingga bisa dise­suaikan kebutuhan produk dengan komo­ditas unggulan yang tersedia.

“Kita harus punya data detail kebutuhan masing-masing pasar negara tu­juan. Sehingga produk yang dikirimkan bisa terserap,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, sa­at mengikuti Forum Diskusi Penanganan Masalah Per­dagangan Luar Negeri se­cara virtual dari Istana Bung Hatta Bukittinggi, Selasa (7/9).

Mahyeldi mengatakan, jika peta potensi pasar itu sudah dimiliki, maka peran dari Kedutaan Besar, Atase Perdagangan/ ITPC, Kadin, Asosiasi Eksportir, dan pemerintah perlu didorong untuk mendukung ekspor produk ke berbagai ne­gara.

Termasuk pasar ke Be­nua Afrika yang semakin menarik dan menjanjikan untuk dijadikan destinasi ekspor pilihan lain bagi para eksportir dari Sumbar.

Selain itu, potensi ken­dala juga harus dipahami dan dicarikan solusi terbaik bersama, agar pasar eks­por Sumbar bisa terus ber­kembang dan mengun­tung­kan tidak hanya pengu­saha, tetapi juga petani sebagai produsen.

Ia mengapresiasi dilak­s­anakannya forum diskusi dengan tema “Upaya Pe­ningkatan Ekspor Komoditi Pertanian dan Perkebunan Sumatera Barat” yang di­ha­rap­kan bisa mencarikan solusi untuk mengatasi permasalahan yang mun­cul, terhadap perkem­ba­ngan ekspor Sumbar ke depan.

Menurutnya, jika dilihat dari struktur ekonomi Sum­bar, sektor pertanian me­mang masih menjadi sektor dominan dibandingkan sek­tor-sektor lainnya. Apalagi Sumbar mempunyai ba­nyak komoditas hasil per­kebunan dan pertanian. Seperti, karet, kelapa sawit, pinang, manggis, pala, pro­duk turunan kelapa, cas­siavera, gambir, dan lain-lain.

Selain komoditi itu, Kopi Minang juga menunjukan perkembangan menarik di tengah situasi pandemi Covid-19. Kopi Minang ber­peluang melakukan pe­ning­katan akses pasar dan ekspor seiring dengan dii­nisiasinya kegiatan business matching. Sekaligus penandatanganan kese­pakatan kerjasama ke­mit­raan pemasaran antara eksportir kopi dengan ke­lompok tani kopi.

Dari data tahun 2020, negara tujuan ekspor kopi Sumbar adalah Malaysia, Korea Selatan, Hongkong, dan beberapa Negara Ti­mur Tengah.

Namun saat ini masih banyak ditemukan ken­dala-kendala dalam me­lakukan ekspor oleh para pelaku usaha, teru­tama pelaku UMKM dalam me­lakukan ekspor. Di anta­ranya sertifikasi produk yang dipersyaratkan bebe­rapa negara pengimpor.

Sejauh ini beberapa pelaku UMKM di Indonesia terkendala dengan ser­tifikasi yang ditetapkan dari luar, khususnya produk pangan. Seperti sertifikasi ISO 22000 atau hak merek, cipta halal, dan sertifikat organik (USDA ORGANIC dan EU ORGANIC).

Kendala lain adalah, biaya pengiriman kontai­ner yang mahal. Harga biaya kontainer naik untuk ke beberapa negara tu­juan, seperti Austalia, Ero­pa, Timur Tengah, dan Ame­rika Serikat.

Hal ini tentu berdampak kepada para eksportir kecil seperti UMKM. Karena bia­ya logistik bisa lebih mahal dibandingkan harga jual produknya. Untuk itu, hal ini menjadi perhatian se­rius bagi pihak terkait ter­hadap permasalahan bia­ya kirim yang tinggi.

Kemudian belum ba­nyaknya informasi maupun regulasi ekspor yang di dapat oleh para pengusaha maupun pelaku UMKM dan dan masih banyak lagi per­masalahan dan hambatan bagi para pelaku eksportir lainnya. Seperti, kurs yang tidak stabil, tingkat suku bunga yang tinggi, inflasi, akses bahan baku yang sulit didapat, buruknya kondisi Infrastruktur, dan kualitas produk ekspor.

Permasalahan ekternal pun juga dirasakan para pelaku usaha. Di an­tara­nya persaingan produk sejenis, sehingga daya saing produk luar negeri menjadi lebih baik diban­ding produk kita.

Masalah lainnya, pera­turan dari negara tujuan yang berhubungan dengan isu lingkungan, kesehatan dan keamanan. Mahalnya biaya distribusi karena transhipment melalui pela­buhan seperti Singapura dan Hongkong.

“Untuk itu, beberapa kendala ini perlu kita atasi secara bersama, mana yang tugas pelaku Usaha, Pemerintah Daerah, Peme­rintah Pusat, maupun Pihak Swasta,” kata Mahyeldi.

Ia menyebut untuk me­mudahkan ekspor, Pem­prov Sumbar akan terus mendorong pengemba­ngan Pelabuhan Teluk Ba­yur sebagai pintu gerbang ekspor di kawasan Indonesia bagian barat. (ADP)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional