Menu

Tiga Kabupaten masih Tertinggal, Pembangunan Pariwisata Bisa Wujudkan Kesejahteraan

  Dibaca : 470 kali
Tiga Kabupaten masih Tertinggal, Pembangunan Pariwisata Bisa Wujudkan Kesejahteraan
SEMINAR— Jamuan makan malam dan Seminar Nasional Pariwisata dihadiri Wawako Bukittinggi Irwandi di gedung Tri Arga.

BUKITTINGGI, METRO – Pembangunan kepariwisataan merupakan potensi yang menyatukan banyak sektor pembangunan dan memiliki multiyear efek dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu potensi Sumbar dan keragaman potensi di masing-masing kabupaten dan kota menjadi inspirasi bersama membangun Sumbar yang lebih baik pada masa mendatang.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit pada acara, Jamuan Makan Malam dan Seminar Nasional Pariwisata, Peluang dan Tantangan untuk Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia, Bukittinggi, Sabtu malam (27/10).Seminar ini juga terkait dengan kegiatan menjelang 100 tahun Institut Teknologi Bandung (ITB) di Indonesia (1920 -2020). Hadir dalam kesempatan itu Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementrian Pariwisata RI, Rizky Handayani, Wakil Rektor ITB Dr Miming Miharja, Ketua PPIB ITB Ridwan Jamaludin, Ceo SSP Holding Dewi Kam, Bupati /walikota se Sumbar, Tokoh Budaya Sumbar Dr Moctar Naim serta beberapa orang para alumni ITB.

Nasrul Abit menyampaikan, data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat kunjungan wisatawan asing ke provinsi itu Juli 2018 mencapai 5.099 orang atau naik 12,09 persen dibanding Juni 2018 yang tercatat sebanyak 4.549 orang.

Wagub menyayangkan saat ini yang baru menikmati kunjungan wisata Sumbar baru Padang dan Bukittinggi. Perlu kiranya daerah kabupaten dan kota lain mencari peluang potensi wisata agar juga dapat memanfaatkan kunjungan wisata. Sehingga berdampak juga bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah masing-masing. Mungkin fasilitas pendukung menjadi perhatian lebih besar, apakah itu penginapan hotel-hotel dan event kegiatan pariwisata daerah masing-masing dihidupkan lebih banyak lagi.

Sumbar saat ini memang masih ada 3 kabupaten tertinggal, Pasaman Barat, Solok Selatan dan Mentawai. Menurut data yang ada saat ini Pasaman Barat dan Solok Selatan bakal keluar dari daerah tertinggal pada tahun 2019.

Sementara Mentawai masih banyak pembangunan yang mesti dilakukan. Seperti infrastruktur jalan, pelabuhan antar pulau, transportasi lokal baik laut dan darat yang relatif masih mahal. Listrik dan jaringan telekomunikasi dimana masih banyak daerah dipedalaman belum dialiri listrik serta masih blankspot.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ir Rizki Handayani Mustafa MBTM menegaskan, digital destination dan nomadic tourism merupakan strategi untuk merebut wisatawan mancanegara (wisman). Pada tahun ini, Kemenpar menargetkan 17 juta wisman dan akan meningkat menjadi 20 juta wisman pada 2019.

Ricky menjelaskan, destinasi digital adalah destinasi yang heboh di dunia maya, viral di media sosial dan nge-hits di Instagram. “Generasi millenial atau lebih populer kids zaman now sering menyebut diferensiasi produk destinasi baru ini dengan istilah Instagramable. Saya ingin tahun 2018 ini ada 100 destinasi digital di 34 provinsi di tanah air,” ujar Rizky.

Ditambahkan Rizky, Digital Destination jadi tuntutan di era booming teknologi. Di mana generasi milenial merupakan konsumen yang paling haus akan pengalaman dibanding generasi-generasi sebelumnya. Hasil survei di seluruh dunia (Everbrite-Harris Poll, 2014) membuktikan generasi millenial lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk pengalaman ketimbang membeli barang-barang.

Rizky mengatakan, nomadic tourism sebagai solusi dalam mengatasi keterbasan unsur 3A (atraksi, amenitas dan aksesibilitas) khususnya untuk sarana amenitas atau akomodasi yang sifatnya bisa dipindah-pindah dan bentuknya bermacam-macam seperti glamp camp, home pod dan caravan.

Sedangkan, sebagai aksesibilitasnya adalah sea plane dengan mudah membawa wisatawan dari pulau ke pulau. Apalagi seperti di Indonesia di mana jumlah pulau mencapai 17 ribu lebih. Nomadic tourism memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena mengurusinya juga relatif mudah. Sehingga idealnya para pelaku industri pariwisata mau mengembangkan bisnis ini, terutama untuk aksesibilitas dan amenitasnya karena konsep ini cepat memberikan keuntungan komersial. (cr8)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional