Menu

Tidak Pernah Jera dan Takut, Sulitnya Menertibkan Pak Ogah di Jalanan

  Dibaca : 333 kali
Tidak Pernah Jera dan Takut, Sulitnya Menertibkan Pak Ogah di Jalanan
PAK OGAH KHATIB— Aktivitas Pak Ogah di kawasan Khatib Sulaiman, Rabu (13/11) siang, meski ingin ”membantu” pengendara mobil saat ingin berbelok, namun tak jarang keberadaan Pak Ogah ini mengganggu aktivitas lalu lintas di kawasan tersebut. (hendra/posmetro)

KHATIB, METRO – Keberadaan “pak ogah”cukup sulit untuk ditertibkan. Pasalnya, telah berulang kali ditertibkan, namun mereka tetap kembali ke jalan. Alih-alih membantu kelancaran arus lalu lintas, terkadang keberadaan pak pgah malah membuat arus lalu lintas menjadi kian macet.

Tak jarang, pak ogah juga bergaya layaknya preman memalak pengendara demi mendapatkan uang. Pantauan POSMETRO Rabu (13/11) siang, pak ogah terlihat menjadi “Polantas” di ruas jalan Khatib Sulaiman (depan kampus STIKES Indonesia), di belokan kantor Pengadilan Negeri Padang, jalan Hamka kampus UNP serta persimpangan Cendrawasih-Tunggul Hitam.

Pak ogah yang didominasi remaja ini juga dijumpai di jalan Adinegoro, tempat pemutaran truk di Simpang Kalumpang. Sebenarnya pemko melalui Satpol PP telah melakukan patroli ke ruas jalan tersebut. Namun, pak ogah ini cukup pintar.

Ketika melihat ada mobil patroli Pol PP, mereka pun ngacir.

“Ketiga Satpol PP datang, pak ogah berhamburan lari pontang-panting. Setelah petugas pergi mereka kembali datang,” ujar Sukri (34), warga sekitar jalan Khatib Sulaiman.

Sukri yang merupakan ASN itu menjelaskan, pak ogah ini selalu punya cara untuk menjalankan aksinya, setiap mobil yang hendak berbelok selalu dihalangi dan dimintai uang imbalan.

“Mereka tidak hanya seorang diri tetapi jumlah lebih dua orang, bahkan mereka berkelompok hanya sekadar menerima imbalan jasa Rp1.000-Rp2.000. Ini jelas membahayakan dirinya maupun pengendara. Bahkan, membuat jalanan tambah macet,” ucapnya.

Sementara pengemudi kendaraan roda empat, Toni (25) mengatakan aktivitas pak ogah bisa disamakan dengan “pungli” di jalan, karena sudah menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengendara kendaraan dan mengganggu ketertiban dan kenyaman pengguna jalanan.

Untuk itu perlu penangangan oleh Sat Pol PP agar bisa memberi efek jera.

“Sebenarnya juga telah kita lihat kejar-kejaran dengan Sat Pol PP. Tidak cukup disitu saja harus ada pembinaan khusus dari pihak terkait agar kegiatan ini bisa hilang,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

Dikatakan Toni, pekerjaan yang mereka lakukan bisa mengancam nyawanya dan juga menimbulkan keresahan bagi pengguna jalan, terutama yang berputar arah.

Terpisah, Kakan Pol PP Kota Padang Al Amin mengklaim telah menempatkan beberapa personel dititik ruas jalan setiap hari. Penempatan tersebut mulai dilaksanakan pada pukul 08.00 -15.00 WIB. Personel yang ngetem itu ditugaskan di daerah rawan pak ogah. Selain itu juga menegur pedagang yang membuka lapaknya di sepanjang fasum.

“Selain pedagang, personel juga bertugas mengamankan anak jalanan, pak ogah dan siswa yang bolos sekolah atau berkeliaran pada jam belajar,” katanya.

Petugas ditempatkan di Jalan Sawahan, Sudirman, Khatib. Jumlah personel paling sedikit empat orang dan paling banyak delapan orang. (cr1/ade)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional