Close

Terungkap, Satpam dan ART Otak  Perampokan di Kuranji, Sakit Hati Karena Sering Dimarahi, Direncanakan Sejak Lebaran, 3 Eksekutor Masih DPO

mengungkap— Polresta Padang berhasil mengungkap kasus perampokan di kawasan Kuranji, Kota Padang beberapa waktu yang lalu. Dalam kasus ini terungkap keterlibatan satpam dan ART yang menyusun rencana untuk melakukan perampokan.

PADANG, METRO–Kepolisian Resor Kota (Polresta) Padang akhirnya mengungkap kasus perampokan beru­jung tewasnya pemilik rumah yang terjadi di Jalan Kelok Belimbing, RT 08 RW 03, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Minggu (24/10) yang lalu.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Tim Klewang Satreskrim Polresta Padang, ter­ungkap bahwa yang menjadi otak dari aksi perampokan tersebut ada­lah satpam dan asisten rumah tangga (ART) yang berpura-pura ikut menjadi korban penyekapan yang dilakukan oleh pelaku pe­rampokan.

Dengan diungkapnya kasus ini Polresta Padang akhirnya menetapkan Satpam bernama Robi Fer­nandes (23) dan ART bernama Yeni Natalia (23) menjadi tersangka. Selain itu polisi juga turut mengamankan Rusmanila (42) tante dari pelaku Eni Natalia asal Palembang yang berperan mencari eksekutor perampokan.

Sementara itu 3 orang eksekutor yang melakukan perampokan dan penyekapan, saat ini masih diburu dan telah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Diduga ketiganya telah kabur ke luar daerah usai beraksi.

Dalam jumpa pers yang digelar di Mapolresta Padang, Jumat (5/11) Kombespol Imran Amir yang didampingi Kasatres­krim Kompol Rici Fernanda menyebutkan bahwa seorang pembantu wanita dan Satpam yang dipekerjakan di rumah korban, ikut terlibat dan bekerjasama dalam merencanakan aksi perampokan tersebut.

“Pembantu korban me­rasa sakit hati karena se­ring dimarahi korban, pada saat pulang ke kampung halamannya di Palembang, Sumatra Selatan, ia meminta kepada saudaranya untuk dicarikan orang yang mau merampok rumah ma­jikannya,” ujar Imran Amir.

Rencana perampokan tersebut, menurut Kombes Pol Imran Amir, telah di­ren­canakan sejak lebaran tahun lalu oleh pembantu korban, dan satpam yang bekerja di rumah tersebut, berperan sebagai orang yang mengatur jadwal dan mengkondisikan rumah korban sebelum para pelaku beraksi.

“Para pelaku, memasuki rumah korban dengan cara dijemput oleh satpam berinisial satu persatu dari Simpang Akhirat yang berada di dekat SPBU Kuranji menggunakan sepeda mo­tor, tiga orang pelaku bahkan telah berada di Kota Padang  satu minggu sebelum aksi perampokan itu berlangsung, “ ujarnya.

Sembari memetakan keadaan rumah dan me­nunggu waktu yang tepat untuk beraksi, menurut Kombes Pol Imran Amir, para pelaku juga sempat makan bersama dengan pembantu dan satpam ter­sebut beberapa kali di paviliun satpam yang letaknya terpisah dari rumah utama.

“Keterlibatan orang da­lam, sejak awal sudah kami curigai karena pada pintu rumah tersebut tidak ditemukan kerusakan, Receiver kamera pengawas yang letaknya tersembunyi, juga berhasil dilarikan pelaku, apalagi pagar rumah tersebut yang seharusnya hanya bisa dibuka dengan menggunakan remote oleh penghuni rumah, akhirnya bisa dimasuki oleh para pelaku, “ungkapnya.

Beberapa indikasi ter­sebut, menurut Kombes Pol Imran Amir, membuat para petugas yang melakukan olah TKP menyimpulkan adanya keterlibatan orang yang berada di da­lam rumah tersebut.

Sedangkan mengenai kronologi, Kapolresta Pa­dang ini, mengatakan bahwasanya para pelaku pertama kali memasuki kamar Yuni Nelti (59) dan langsung membekap wajah korban tersebut dengan menggunakan selimut agar tidak berteriak hingga tewas,

“Ketika mendengar ada keributan di dalam kamar istrinya, suami korban, Gusdiantara (60) yang ketika itu sedang merokok di teras bergegas menuju kamar tersebut, namun oleh salah satu pelaku langsung dihantam dengan menggunakan benda tumpul, sehingga menyebabkan suami korban tersebut lang­sung tidak sadarkan diri dan mengalami patah tulang pada bagian tulang belikat, “ kata Kombes Pol Imran Amir.

Setelah berhasil melumpuhkan suami korban yang tak sadarkan diri, para pelaku langsung me­nye­kapnya di dalam kamar mandi, selanjutnya para pelaku menuju ke kamar ibu korban Ani Asna (83) yang saat itu sedang dipijit oleh pembantu yang turut merencanakan aksi tersebut.

“Ibu Korban yang su­dah tua ini, diikat kaki tangannya, dan mulutnya di­sum­pal menggunakan kain oleh para pelaku, begitupun dengan pembantu yang juga berada dalam ruangan kamar tersebut, pembantu ini berpura-pura ikut disekap untuk menghilangkan jejak keterlibatannya.” ujar Kombes Pol Imran Amir.

Setelah dirasa pelaku sudah kabur jauh, Satpam yang berpura-pura turut disekap ini, selanjutnya langsung menuju masjid untuk memberitahukan warga bahwa rumah tempatnya bertugas telah di­ram­pok kawanan maling. Dua otak pelaku ini sebut Imran telah ditetapkan tersangka sehari setelah Satreskrim Polresta Padang bersama Polsek Kuranji melakukan olah TKP dan penyelidikan.

“Penetapan tersangka Eni Natalia dan Robi Fer­nan­des tidak disampaikan ke publik mengingat Tim Klewang Satreskrim Polresta Padang sedang me­lakukan pengembangan dan memburu 3 pelaku lain berperan sebagai eksekutor, yang kabur ke luar provinsi,”sebut Imran.

Selain mengamankan Satpam dan ART lanjut Imran Amir, Tim Klewang juga berhasil mengamankan Rusmanila yang merupakan keluarga dari ART di daerah Ogan Komering ilir (Oki), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Kamis (4/11).Wanita ini berperan sebagai orang yang menghubungkan para pelaku dengan pembantu ter­sebut.

“Fasilitator ini memiliki hubungan keluarga dengan pembantu, setelah berhasil merampok rumah tersebut, para pelaku sempat berkumpul di rumah fasilitator di Sumatra Selatan dan memberikan uang sebanyak Rp5 juta sebagai upah dan uang tutup mulut dari pelaku berinisial R yang hingga kini masih buron,” ungkap Kombes Pol Imran Amir kepada awak media.

Dalam peristiwa perampokan tersebut, korban menderita kerugian sebanyak Rp 500 juta, satu unit mobil merek Mobilio berwarna putih, perhiasan emas, beserta kartu ATM yang nomor PIN nya telah diberitahukan oleh pembantu tersebut, ikut raib dibawa kawanan rampok.

Sementara itu, 3 orang pelaku berinisial RH (47), M (28), D (41) hingga kini ma­sih buron. Para tersangka dijerat Pasal 365 Ayat (4) KUHP Juncto Pasal 55 dan 56 dengan ancaman pidana penjara seumur hidup.

“Kita sudah koordinasi dengan jajaran Polda Sumsel untuk membantu me­nang­kap 3 pelaku ini. Peristiwa ini cukup meresahkan masyarakat, tapi kita tidak akan berhenti sampai saat ini. Kita tidak akan membiarkan kejahatan merajalela dan akan terus berupaya menjadikan Kota Padang menuju zero kriminal,” tutup Imran. (rom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top